Park_Bom___You_and_I_MV___6_by_ufufufuplz

Author: a.k.a Rahina Lollidela (@ScarecrowRahina) || Genre: Sad, Romance || Length: OneShot || Rating: PG-13 || Casts: Choi Seunghyun (BIGBANG’s TOP), Park Bom (2NE1’s Bom)

Note: Been a long time, huh? ^^ Maaf banget karena udah lama gak ngepost dan gak aktif di sini. Maaf… banget! Hehe…

Disclaimer: Cerita ini adalah hasil karangan murni author, jika menemukan adanya plagiarisme, harap mention @scarecrowrahina via twitter, atau tinggalkan komentar pada postingan ini. Don’t be a silent reader!

***

… dia sudah pergi… meninggalkanku…

Pergi

by Rahina Lollidela

Park Bom POV

Jam menunjukkan pukul tiga pagi ketika kubuka mataku menanggapi dering alarm ponsel yang secepat mungkin langsung kumatikan karena aku tak mau laki-laki di sebelahku ini juga terbangun. Kukerjapkan mataku; mencoba secepat mungkin menangkap fokus dalam cahaya remang-remang cahaya kamar Seunghyun. Sebenarnya ingin sekali aku menyalakan lampu baca di dekatku, tapi aku tahu kalau Seunghyun sangat peka tehadap cahaya. Sedikit saja mata tertutupnya menangkap binar cahaya, kekasihku ini akan terbangun. Yah, kekasihku. Setidaknya untuk beberapa menit ke depan.

Pelan-pelan kuletakkan kakiku di karpet bulu yang mengalasi tempat tidur dan mulai berjingkat ringan. Kutatap wajahku di cermin hanya untuk memastikan wajahku tetap cantik meski baru bangun tidur. Rasa percaya diriku mulai timbul sebelum akhirnya tanpa sengaja kulihat bayangan Seunghyun samar-samar di cermin yang sama. Dalam hal yang akan kulakukan ini, apa aku bisa percaya diri? Terlebih lagi saat aku melihat wajah sok polosnya itu? Entahlah.

Cukup sampai di sini. Aku tidak boleh terlalu lama memikirkannya atau segalanya akan terasa semakin berat. Segera kusiapkan makanan seenak mungkin yang kubisa. Nasi goreng kimchi, sudah kurencanakan dari awal untuk memasak menu itu hari ini. Seunghyun pasti suka. Masakan buatanku memang tidak pernah bisa mengalahkan masakan buatannya, tapi aku ingat betul bagaimana wajah bahagianya setiap kali menyantap masakanku. Jika kukatakan maksudku memasak nasi goreng kimchi ini, apa ia tetap akan bahagia? Bagaimana kalau dia justru akan mendiamkan makananku? Bagaimana kalau setelah ini ia tidak lagi memiliki gairah memasak? Lalu dia makan apa? Mie instan? Tidak boleh. Jangan sampai.

Park Bom, kenapa kau jadi memikirkannya begini? Sadarlah!

Dua jam berlalu hingga akhirnya bisa juga kusajikan dua piring nasi goreng kimchi dan semangkuk mie hitam daging di meja makan berdampingan dengan secangkir kopi dan segelas teh. Kopi untuknya dan teh untukku.

Sekarang apa? Mandi, ya, mandi.

Seunghyun POV

Jadi, dia benar-benar akan pergi?

Muak sekali rasanya ketika kucium bau nasi goreng kimchi dari arah dapur yang menyusup masuk melalui pintu kamar yang tidak tertutup. Awalnya riang sekali rasanya mengetahui kekasihku itu  memasakkan sarapan untukku, tapi getar ponselnya benar-benar membuatku berpikir.

From: Chaerin

Unni, kau benar akan pergi meninggalkannya? Kau hanya akan ke Paris, kenapa sampai bertindak sejauh ini? Aku yakin, Seunghyun Oppa pasti akan menunggumu. Dia mencintaimu, Unni. Jangan begini.

Memang tidak sopan membaca pesan di ponsel orang lain tanpa izin, tapi dia adalah kekasihku dan aku ingat sekali betapa dia selalu menyuruhku membacakan pesan-pesan yang masuk ke ponselnya jika ia sibuk. Keterbukaan, satu hal dari milyaran hal yang kusuka darinya.

Kepalaku sungguh pusing memikirkan segala hal yang akan terjadi.

Bommie akan meninggalkanku.

Cintaku akan meninggalkanku.

Wanitaku akan meninggalkanku.

Dan yang akan meninggalkanku adalah… seseorang yang seharusnya kulamar malam ini. Seharusnya.

Dengan malas kuregangkan tanganku, berusaha meraih penarik laci meja di samping tempat tidur. Sangat perlahan, kubuka laci itu dan kuambil sebuah kotak kecil berkulit beludru berwarna merah yang terikat pita dengan indah. Kotak kecil ini seharusnya ada di tangannya malam ini, atau mungkin lingkaran perak di dalamnya lah yang seharusnya melingkar di jari manisnya. Apa semuanya sudah selesai?

Segera kuletakkan kembali kotak merah tadi dan buru-buru berpura-pura tidur ketika kulihat siluetnya semakin dekat, hingga kini kita kembali ada di ruangan yang sama. Kurasa ia membuka lemari, mengambil beberapa potong pakaian, lalu melangkah ke kamar mandi. Pintu tertutup begitu pelan, sangat pelan, dan kuyakin maksudnya adalah supaya aku tidak terbangun.

Jadi, dia benar-benar akan pergi?

Empat puluh menit berlalu. Waktu yang cukup lama, apalagi kali ini benar-benar terasa lama. Aku hanya bisa berguling ke sana-ke mari, gelisah. Aku sangat takut kehilangan wanita ini. Dia satu-satunya. Memang bukan yang pertama, tapi sungguh, malam ini aku akan menjadikannya yang terakhir. Jika bisa.

Pintu berwarna putih dengan gagang keemasan itu terbuka, buru-buru kubalikkan tubuhku dan kembali berpura-pura. Wangi khas nan sensual itu tercium hingga pangkal hidungku. Ya, Tuhan, aku mencintai segala yang ada pada dirinya.

“Seunghyun, sudah pagi. Kau mau terlambat ke kantor?”

Suara lembut itu semakin membuatku sedih. Siapa yang akan membangunkanku esok? Kalau tidak ada dia aku akan selamanya terlambat setiap hari ka kantor, Tuhan.

“Seunghyun.”

Tetap kupejamkan mataku dan mengatur nafas sebisa mungkin yang kumau-agak tersentak ketika kusadari ia duduk di tepi tempat tidur dan membelai kepalaku.

“Seunghyun, kau akan melewatkan sarapan buatanku kalau terlambat bangun.”

Bommie, diamlah kau! Aku justru rela tidak menyantapa makanan buatanmu, aku rela tidak membuka mataku selamanya, hanya untuk membuatmu tetap di sini dan berusaha membangunkanku.

Jangan meninggalkanku…

Park Bom POV

Ya, Tuhan, lihatlah wajahnya. Bagaimana bisa aku meninggalkan malaikat tak berdosa ini? Aku mencintai segalanya yang ada padanya. Rambutnya, matanya yang selalu membuai, hidung mancung tirusnya, dan… bibirnya. Ingin sekali aku mencium bibir merah muda alami itu dan menodakan setiap lipstick ku di sekitar sana. Tuhan, boleh aku menyentuhnya satu malam lagi?

Seandainya aku bisa tetap…

TIDAK. Jaga pikiranmu, Park Bom! Bangunkan dia, jelaskan semuanya, dan pergi! Enyah dari apartemen ini

“Seunghyun, bangun. Ayo, jagoanku, bangun.”

Hingga akhirnya kulihat matanya mulai dikerjapkan dengan malas dan dengan cepat menangkap mataku dengan pandangan sendunya. Oh, tidak, pertahananku bisa runtuh.

“Aku membuatkanmu sarapan. Ayo, bangun!”

Kubelai pelan kepalanya den segera berdiri; memandangi tirai jendela untuk mengalihkan mata dari pandangannya.

“Kau membuatkanku apa?” Seunghyun bangkit dan duduk di tepi ranjang. “Nasi goreng kimchi? Tidak, aku tidak mau makan itu.”

A… apa?

“Apa maksudmu?”

“Buatkan aku yang lain,” laki-laki itu berucap datar. Dingin.

Sabar lah, Park Bom. Tahan sebentar saja.

“Lalu… kau mau makan apa?”

Seunghyun menatap mataku lagi, kali ini seolah mengunci dan memaksaku untuk tak lagi mengalihkan pandangan. Entah kenapa, kulihat tatapan memelas di sana. Tatapan seperti… kesakitan dan memohon.

“Mie instan.”

Aku hanya bisa menggantungkan rahang bawahku ketika dua kata itu terucap dari mulutnya. Mie instan? Bukankah ia tahu seberapa benci aku terhadap makanan itu? “Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu makan mie instan.”

Laki-laki itu beranjak dan segera menutupi tubuh setengah telanjangnya dengan jubah tidur. Langkahnya terhenti sejenak di depan cermin. “Mie instan,” katanya lagi sembari melangkah ke kamar mandi.

“Seunghyun-“

“MIE INSTAN.”

Oh, Tuhan, tatapan apa itu?

Aku hanya bisa terpaku ketika kudapati orang yang kucintai ini menatapku tajam dengan tatapan kemarahannya. Sungguh mengerikan. Benar-benar matanya itu seperti mencurahkan ‘Lakukan atau kau akan mati.’

“S… Seunghyun…”

“AKU BILANG MIE INSTAN, YA, MIE INSTAN!”

BRAKK!!!

Pintu itu dibanting kasar olehnya sembari memasuki kamar mandi.

Kenapa ia menjadi sekasar itu? Ada apa? Apa yang membuatnya berubah seperti ini?

Sudahlah, Park Bom, jangan pedulikan dia!

Author POV

Park Bom mendengus berat seraya menatap langit-langit dapur yang terasa begitu sepi pagi ini. Matanya terpejam sejenak ketika dengusan terakhir terdengar hingga akhirnya wanita berambut pirang kecoklatan itu menunduk; menatap sebungkus mie instan yang baru dibelinya di minimarket.

Kali ini saja, Park Bom.

Tapi bagaimana jika ia kembali kecanduan mie instan? Lalu ia mulai meminum lagi kopi instan dan kecanduan, lalu ia kembali banyak minum. Park Bom, apa yang kau lakukan, ha? Meninggalkan bayi seperti itu?

  Ya, itulah yang kau lakukan, Park Bom, dan itu yang terbaik. Ya, itu yang terbaik.

“Kau… memasak mie instan?”

Park Bom segera menegakkan tubuhnya, menghirup dalam-dalam udara yang tak terasa banyak, dan kembali mengucapkan kalimat-kalimat penegasan dalam hati. Gugup, tangan putihnya mulai mencoba membuka bungkus mie instan dan memasukkan isinya ke panci kecil berisi air mendidih.

“Kau benar-benar membiarkanku makan makanan itu?”

Park Bom mendengus kesal. “Bukankah tadi kau yang memintaku?”

“Iya, tapi biasanya kau akan melarangku. Tumben sekali. Seperti pertemuan terakhir saja.”

DEG. Park Bom tercengang; mencoba memaksa paru-parunya untuk meraup udara sebanyak mungkin yang ia bisa.

“Kali ini aku membolehkanmu, tapi tidak untuk lain-“

“Jangan pergi!”

“Hmph.” Park Bom membelalakkan matanya ketika sepasang lengan itu melingkar erat di perut dari belakang. Kini nafasnya benar-benar tercekat, terutama ketika Seunghyun meletakkan dagunya di pundak Park Bom.

“Setelah ini, kuharap kau tidak akan makan mie instan lagi.” Suara tercekat itu akhirnya lolos juga dari leher Park Bom.

“Aku akan menghabiskan sejuta mie instan jika kau tidak ada. Jadi, jangan pergi.”

“Seunghyun, dengar aku-“

“Menikahlah denganku.”

DEG. Park Bom membelalakkan mata sebelum akhirnya memejamkan kedua pupil coklat itu dan menghembus pelan. “Jangan bercanda, Choi Seunghyun.”

‘Aku tidak bercanda, Bommie.” Seunghyun menggerakkan tangan kekarnya, meletakkannya di kedua pundak Park Bom, dan membalikkan tubuh ramping itu hingga kini mereka saling berhadapan. “Menikahlah denganku.”

Baru Park Bom bisa melihat kesungguhan laki-laki di hadapannya itu ketika matanya menangkap sepasang mata lain yang tampak begitu teduh; meyakinkan dan merayu.

“Aku tidak bisa,” tanggap Park Bom pada akhirnya, lebih seperti meyakinkan diri sendiri.

“Kumohon.” Seunghyun merogoh sakunya dan kini berlutut; memamerkan selingkar cincin berhias berlian agak besar dalam naungan sebuah kotak beludru merah yang terbuka hanya untuk Park Bom seorang.

“Seunghyun…”

“Aku… aku… tadinya aku berencana untuk melamarmu malam ini. Aku sudah menyewa sebuah restoran dan… dan… membutuhkan waktu berbulan-bulan bagiku untuk bisa melamarmu. Aku… aku memang tidak punya apa-apa dan membutuhkan waktu berbulan-bulan untukku menabung dan membeli cincin ini. Menikahlah denganku. Kumohon, jangan hancurkan semuanya.”

Park Bom hampir menangis mendapati kekasihnya yang penuh karisma kini tiba-tiba panik, tak bisa mengatur kata-katanya sendiri. Apa ia sekejam itu?

Tidak, Park Bom. Membiarkannya hidup menderita denganmu jauh lebih kejam dari ini. Sakitnya hanya akan sebentar.

“Seunghyun.” Park Bom ikut berlutut, menahan wajah Seunghyun dengan kedua tangannya, menatap sepasang biji mata itu, sebelum akhirnya memeluk erat leher Seunghyun.

“Aku… aku mohon,” suara serak Seunghyun kembali terdengar.

Park Bom melepas pelukannya, namun kini matanya tak bisa lepas dari mata Seunghyun.

“Dengarkan aku, Seunghyun, aku akan ke Paris.”

“Aku akan menunggu.”

“Sst! Jangan potong perkataanku.”

Seunghyun terdiam.

“Aku yakin kau pasti bisa menungguku hingga kembali, aku sangat yakin. Tapi, Seunghyun, aku tak yakin kau akan bahagia denganku. Aku tidak meragukanmu dalam menjagaku. Aku meragukan diriku sendiri… Aku tak yakin bisa membahagiakanmu, aku juga… aku juga tak yakin kalau cintamu itu akan bertahan lama untukku. Kau tahu, betapa aku mencintaimu, betapa aku tergila-gila padamu, tapi itu lah yang membuatku harus meninggalkanmu. Cintaku hanya akan melukaimu. Aku hanya akan memaksamu untuk kembali mencintaiku seperti dulu… ketika sekarang kutahu cintamu tak akan sebesar dulu.”

Park Bom mulai meneteskan air mata, namun punggung tangannya buru-buru mengambil alih untuk mengusap jejak air mata itu. “Jangan menangis dan berjanjilah padaku kalau mia instan yang kubuat sekarang akan menjadi mie instan terakhirmu.”

Seunghyun terdiam. “Jika itu maumu… baiklah.”

“Bagus. Sekarang pergilah ke kamar dan pakai pakaianmu. Kau tidak sadar kalau kau hanya memakai handuk?”

Seunghyun tersenyum, terkekeh, mencoba menutupi rasa paniknya karena Park Bom akan pergi.

“Baiklah.” Laki-laki itu beranjak pergi.

Seunghyun POV

 Semuanya sudah selesai, itu kesimpulanku. Mungkin yang tersisa kelak hanyalah barang-barangnya yang ada di tempat tinggal luas ini. Ah, tidak. Sudah tidak ada lagi. Kurasa ia telah mengemasi semua barang yang menjadi miliknya di sini, juga semua barang yang pernah mengukir kenangan kami. Kini aku penasaran kenapa ia tidak memasukkan tempat tidurku ke tas kopernya juga. Oh, pikiran kotorku melayang lagi bahkan di saat seperti ini.

Oh, Tuhan, dia akan pergi!

Kurapikan dasiku seraya menatap siluet-yang kurasa tampan-di cermin. Biasanya aku akan menyodorkan dasi itu supaya ia yang memakaikan, tapi kurasa ia tak akan mau melakukannya lagi. Bagaimana pun aku harus rapi, selain untuk membukakan pintu untuknya, juga karena aku harus mengikuti rapat pagi ini.

Ah, dia mencampakkanku.

Tidak apa-apa, Seunghyun. Seiring berjalannya waktu, perasaanmu pasti juga akan berubah.

AKu tidak janji.

Kulangkahkan kakiku kembali keluar kamar, berhenti sebentar untuk mendengus pelan, sebelum akhirnya melangkah ke dapur seraya menenteng sebuah jas biru langit.

Wanita itu sudah tidak ada.

Ke mana dia? Apa dia akan pergi begitu saja?

Jawaban ‘Ya’ segera kudapat ketika kutangkap semangkuk mia instan di meja makan berdampingan dengan sebuah sobekan note kecil berisi tulisan tangannya.

To: Seunghyun

Aku harus segera pergi, pesawat tak mungkin menungguku. Aku akan merindukanmu, sangat.

Kuharap kau akan hidup bahagia setelah membaca surat ini. Berbahagialah dengan yang lain, yang jauh lebih baik dariku. Tersenyumlah selalu. Aku akan selalu berdoa untukmu dan kehidupanmu, juga calon istrimu kelak, juga anak-anak yang akan membantumu meneruskan perusahaan sederhanamu.

Aku tidak mencampakkanmu, Seunghyun. Aku merelakanmu untuk menjalani hidup yang lebih baik.

Aku tahu, sangat tahu, bahwa aku akan sangat menyesal menolak lamaranmu, tapi aku juga sangat tahu bahwa kau akan jauh lebih bahagia jika mengajukan cincin itu ke wanita lain.

Cincin yang indah, ngomong-ngomong.

Kubuatkan mie instan sesuai keinginanmu. Kurasa tidak akan enak karena aku hanya memasukkan setengah bumbu ke dalamnya. Kuharap ini akan jadi mie instan terakhirmu. Jangan minum kopi atau wine atau bahkan soju, jangan. Aku akan sangat sedih jika mendengarmu kecanduan mengkonsumsi hal seperti itu.

Nah, Seunghyun, kuharap kau hidup bahagia. Selamat tinggal.

-Park Bom

… dia sudah pergi… meninggalkanku.