one-day-answer-by-zolaOne Day Answer by Zola Kharisa

Main Cast: A Girl [OC] & Park Chan Yeol [EXO-K]

Genre: AU, Romance || Rating: PG-16 || Length: Ficlet

Summary: Seharusnya aku sudah tertidur. Tetapi, kau membuatku berpikir bahwa di tengah malam sekalipun masih ada hal yang lebih indah dibandingkan empat waktu sebelumnya.

Notes: Halo, FFLovers! Saya comeback membawa fic yang udah lama, sih. Pernah saya post di IFK sama blog pribadi. Jadi, kalau kalian menemukan kesamaan di tempat selain yang saya cantumkan di atas, harap lapor! Bisa jadi itu plagiator. Akhir-akhir ini saya sempat hiatus karena plagiator yang parah banget. Beruntung dia akhirnya ngaku dan menghapus seluruh postingan yang dia plagiat. Duh, kenapa jadi curhat gini, ya? Oke, saya harap setelah kalian baca ini, bisa meluangkan satu-dua menitnya untuk berkomentar. Saya akan menghargai seluruh apresiasi kalian dalam bentuk apa pun, tapi tidak dengan bash atau memberi saran yang sama sekali gak membangun, dan berujung pada konflik. Terima kasih sebelumnya dan selamat membaca! ^^

***

Morning

Hari ini untuk kesekian kalinya hujan kembali turun.

Kupandangi jendela kaca di sampingku. Tidak ada yang menarik selain tetes hujan yang mulai membasahi tanah, pun beberapa murid junior laki-laki yang sedang bermain sepak bola. Oh, sebentar, apa mereka tidak takut dimarahi guru?

Aku menghela napas. Momen ini malah mengingatkanku pada sesuatu.

Jelas-jelas, aku sudah akan melupakannya. Terang-terangan saat itu, di depan sahabatku sendiri; Park Soo Mi, aku menegaskan bahwa tidak ada yang perlu disesali. Aku sudah membulatkan tekad. Dan seharusnya tak ada yang bisa menggoyahkannya.

Namun, memori sejam lalu mengacaukan hal itu.

Aku mematung menyaksikan laki-laki itu memeluk Su Jin, gadis paling cantik di sekolahku. Semua orang di sini mengenalnya. Seberapa populer gadis itu mengingat wajahnya yang rupawan juga statusnya sebagai putri dari kepala sekolah tempatku bernaung. Sedang jika disandingkan denganku, aku hanya berupa sebutir gula di antara pasir. Aku tidak merendah, sungguh, kenyataan yang memang begitu.

Aku hanya gadis biasa. Tidak tahu apa kelebihanku; mungkin hanya otak yang sedikit encer. Setidaknya, aku bisa diterima di sekolah ini berkat beasiswa.

Kuempaskan tubuhku pada sandaran kursi, melirik malas jarum jam yang sedari tadi berputar sangat lambat. Baiklah, aku yang tidak sabaran. Bel tanda istirahat memang baru berbunyi lima menit lalu.

Kuputuskan untuk menyampirkan headset ke telinga dan memejamkan mata. Lagu Colbie Caillat, I Never Told You, langsung mengalun. Entah mengapa, sejak hari itu, aku jadi menyukai lagu ini.

Yah, ini lebih baik dibanding mengungkapkannya sendiri, bukan?

***

Afternoon

Aku menguap. Pelajaran Choi Seonsaengnim memang membosankan. Setidaknya teori yang diajarkannya selalu berulang dan panjang. Seperti tidak ada habisnya.

Soo Mi menyikut lenganku saat bel tanda pulang berbunyi. “Sudah dengar kabarnya?”

“Kabar apa?”

“Park Chan Yeol… dia sekarang berpacaran dengan Shin Su Jin, ‘kan?”

Mendadak otakku tidak bisa mencerna apa pun selain ucapan Soo Mi yang membuat pusing. Aku tidak menyangka bahwa apa yang kulihat di koridor tadi pagi merupakan bentuk nyata. Mungkin Chan Yeol sedang menyatakan cintanya waktu itu, yang dibalas anggukan Su Jin.

“Kau tidak apa-apa?”

Aku terkesiap dan cepat-cepat menguasai diri. “Tentu saja,” gumamku.

Soo Mi melipat kedua tangannya, beringsut mendekat. “Kautahu, aku tidak bisa dibohongi. Kalau kau memang menyukai laki-laki itu, mengapa waktu itu kau menolaknya?”

Aku tidak menolaknya, keluhku dalam hati.

Kutarik napas panjang saat Soo Mi masih menatapku menuntut, “Aku hanya merasa tidak pantas untuknya. Terlalu banyak perbedaan di antara kami. Dia dengan dunianya dan aku dengan duniaku. Tidak akan sama.”

“Tentu saja,” dengusnya. “Semua orang terlahir berbeda. Kau tidak bisa melihat dari satu sisi saja. Setidaknya kau memiliki suatu kesamaan dengannya, yang mungkin kau sendiri tidak sadar.”

“Apa?” tanyaku, berpikir kalau itu hanya sebuah bentuk penasaran.

“Tawa,” jawabnya pendek tanpa memberi penjelasan.

“Memangnya ada apa dengan tawaku?”

“Kau memiliki tawa yang sama dengannya. Setiap kali kalian tertawa, rasanya aku yang berada di sekitar kalian juga ikut merasa kebahagian. Seperti virus yang menular, kalian seperti itu.” Soo Mi menatapku dalam, “Sebenarnya kau menyukai laki-laki itu, ‘kan? Beri aku alasan yang sesungguhnya. Aku tahu perbedaan saja tidak cukup membuatmu menolak Chan Yeol waktu itu.”

Aku terdiam. Masih terpaku dengan alasan di balik hal mengapa aku menolak Chan Yeol. Laki-laki itu baik, memang. Sebelum semuanya berubah, hanya karena hitungan jam. Tepat dua hari lalu.

“A-aku,” tanpa sadar kurasakan pipiku basah. Soo Mi yang melihatnya langsung panik, beruntung karena kelas sudah sepi—hanya tinggal kami berdua—sehingga suara paniknya tidak akan mengganggu orang lain.

“Aku tidak pernah melihatmu menangis sebelumnya,” gumamnya. “Mau menceritakannya padaku?” suara Soo Mi melembut.

Kudongakkan kepalaku sekilas kemudian beralih memasukkan barang-barangku ke dalam tas. “Aku… tidak cantik, juga tidak kaya. Bukan berasal dari keluarga selebriti atau petinggi Korea. Tapi, sejujurnya aku tidak mempermasalahkannya, setidaknya selama ini pun begitu. Namun, aku tidak tahu harus mentolerir bagaimana lagi untuk alasan terakhir,”

“Apa?” desak Soo Mi.

Aku tersenyum sebentar, “Aku dibuang, Soo. Kaumengerti?”

***

Evening

“Melihatmu seperti itu membuatku takut.”

Aku berputar cepat sebelum bergidik melihat Sehun, teman sekelasku sedang mengumbar senyum. “Aku menakutimu?”

“Ya,” kataku sedikit kesal. “Aku kira hanya aku yang berjalan kaki. Kau tidak menaiki mobilmu itu?”

“Rumahku sebenarnya di sekitar sini,” katanya. “Kau sendiri bukankah tidak tinggal di daerah ini?”

“Aku pindah kemarin.”

Sekilas bisa kulihat raut Sehun berubah cerah. “Kalau begitu kita bisa sering pulang bersama, bukan?”

Aku menyapu sejumput rambut di wajahku. Entah sejak kapan langkah kaki kami sekarang beriringan dan dia sudah berada tepat di sebelah kananku. “Yah, sesekali mungkin.”

Kubiarkan keheningan menyelimuti kami setelah ucapanku yang terakhir. Sehun juga terlihat tidak ingin memulai pembicaraan lagi…

“Rumahmu di mana?”

Baru saja kupikirkan, keluhku.

Aku terkesiap, memandang pertigaan di depanku. “Aku belok kanan dari pertigaan itu.”

“Oh, jadi kita berpisah di sini, ya?” Sehun tersenyum lalu melambaikan tangan begitu ia berjalan ke arah yang berlawanan denganku.

Aku memasuki gerbang putih besar yang sejujurnya begitu mewah untuk seukurannya. Beberapa pria berbaju hitam menatapku sambil menunduk hormat. Aku hanya tersenyum kaku. Masih tidak terbiasa. Sangat.

Dua orang pelayan berseragam hitam dan putih membukakan pintu untukku, sementara Tuan Lee, ketua pelayan di sini menanyakan kabarku dan menawarkan makan malam dengan hidangan khas tradisional Korea. Oh, bahkan keluarga kaya ini pun masih mau menghargaiku yang ingin sesekali memakan masakan tradisional. Setidaknya mereka menerima permintaanku dengan baik.

Padahal baru tadi pagi aku mengutarakannya pada Yu Ri Ahjumma. Sebenarnya, aku akan selalu mual jika memakan masakan asing yang belum pernah kucoba sebelumnya. Dan sepertinya, keluarga ini sangat menyukai masakan Italia. Aku tidak bisa berbohong tentang kelemahanku itu, sehingga terpaksa mengatakannya. Beruntung mereka mengerti.

Aku merebahkan diri di atas ranjang sembari menatapi langit-langit kamar yang berwarna biru. Memoriku berputar silih berganti; mengenai kedua orangtuaku yang menitipkanku pada keluarga ini dengan alasan bahwa orangtuaku punya maksud tersendiri. Atau kurasa terselubung, karena dengan mudahnya keluarga Park mau menerimaku. Aku tidak mengerti jalan pikiran mereka, mengapa harus aku? Mengapa tidak kakakku saja? Lalu, mengapa aku tidak boleh menghubungi mereka?

Sesatunya yang kupikirkan dua hari lalu hanya—aku dibuang.

Pemikiran rendah, mungkin. Tapi, memang apa lagi yang bisa kusebut selain itu? Kakakku mengalami depresi semenjak kecelakaan, perusahaan orangtuaku berada di ambang keterpurukkan—kendati aku sendiri pun tidak tahu bagaimana nasib keluargaku sekarang.

Rasanya aku menjadi orang paling jahat ketika mereka semua dalam keadaan terpuruk, aku di sini hidup dengan baik. Sangat baik malah. Keluarga Park menerimaku dengan tangan terbuka, meskipun sebenarnya aku sendiri merasa tidak nyaman.

Yah, pasangan suami-istri itu sangat baik padaku. Para pelayan di sini juga, lalu para bodyguard bertubuh kekar itu pun tidak membuatku ketakutan. Tapi…

Apa aku bisa hidup satu atap dengan Park Chan Yeol mulai saat ini? Setelah mengetahui fakta bahwa aku, dua hari yang lalu menolaknya, dan kini merasa menyesal. Aku tidak bisa membayangkan kehidupanku akan terisi dengan Park Chan Yeol setiap harinya dan tak ada pengecualian bahwa mungkin ia akan mengundang Su Jin ke rumah ini. Kemudian, aku akan menatap mereka dari celah pintu atau di balik dinding. Itu menggelikan. Namun kurasa akan begitu menyesakkan sekaligus.

***

Night

Aku tak pernah lupa bagaimana Park Chan Yeol mengungkapkan perasaannya padaku. Mengatakan bahwa aku gadis paling berbeda yang pernah ditemuinya. Ia menyukai tawaku, katanya, seperti apa yang dikatakan Soo Mi tadi siang. Tapi, aku tidak merasa memiliki tawa yang spesial. Atau ketika kutanya mengapa ia menyukaiku, ia hanya menjawab seadanya.

“Aku menyukaimu karena kau adalah kau. Tidak ada alasan spesifik bagaimana aku bisa menyukaimu. Semuanya mengalir seperti air yang kemudian bermuara. Kau memang tidak tahu kapan aliran itu akan sampai di penghujung muara, tapi percayalah bahwa waktunya pasti tiba. Dan kurasa, perasaanku sudah sampai di sana.”

Aku mengembuskan napas panjang, tersentak ketika pintu kamarku diketuk. “Ya?”

“Makan malam, Nona.”

Aku bergegas turun dari tempat tidur, merapikan sedikit penampilanku,  lalu mengenakan sandal Mickey Mouse kesayanganku.

Aku berjalan pelan menuju ruang tamu. Entah mengapa jantungku berdebar keras. Ini memang pertama kalinya aku makan malam bersama keluarga besar ini begitu kemarin tidak sempat karena katanya aku ketiduran. Tapi, seingatku kemarin aku sedang berada di sofa ruang tamu. Siapa yang memindahkanku ke kamar? Tuan Lee?

Aku menarik kursi dan duduk saat Yu Ri Ahjumma menyuruhku untuk cepat makan. Kali ini aku tidak melihat Yeong Hwa Ahjusshi. Mungkin, ia lembur di perusahaannya.

Aku baru saja hendak menyuapkan sesendok kuah sup ke dalam mulut saat aku tersadar bahwa Chan Yeol berada tepat di seberangku. Agak membuat jengah karena ia memperhatikanku, dalam. Dan tatapannya pun sulit diartikan. Akhirnya, aku berdeham pelan setelah bisa menguasai diri.

Tapi ternyata itu tidak cukup mengalihkan pandangannya. Ia masih menatapku; seakan ingin mengulitiku hidup-hidup dengan mata tajamnya. Aku menggigit bibir bawahku dan melirik Park Haneul dan Yu Ri Ahjumma yang tampak santai dalam obrolan mereka. Skak. Siapa yang bisa membantuku?

Aku menghela napas. Mencoba untuk sebiasa mungkin dan mulai memakan makananku. Beberapa puluh detik berlalu dan akhirnya ia berhenti menatapku dan mulai menyantap makanannya.

Aku tersenyum lega. Setidaknya, sampai makan malam ini berlalu, aku tidak akan terlalu terusik oleh bayangan matanya yang menatapku dalam, garis tegas wajahnya, rambutnya yang acak-acakan dan sedikit basah…

Oh, sial. Aku membayangkannya.

***

Midnight

Aku tidak bisa tidur.

Berulang kali kucoba memejamkan mata, tetap saja tidak bisa. Bayangan wajah Chan Yeol menari-nari dengan jelas di kepalaku. Ah, kalau begini caranya, apa seumur hidup aku akan selalu dihantui oleh pemuda itu?

Kugelengkan kepala. Berharap bayangannya hilang, meski mustahil. Aku mendesah pasrah. Dengan cepat beranjak dari tempat tidur dan keluar. Sepertinya segelas susu akan membantu diriku agar mengantuk.

Aku membuka lemari es, memilah-milah antara susu cokelat, stroberi, atau…

“Vanilla saja,”

Aku tersentak mendengar suara berat itu mengalun dekat di telingaku. Aku membalikkan badan dan menemukan Chan Yeol meringis kecil karena dagunya terantuk kepalaku. “Ah, maaf,” gumamku, pelan.

Ia tak menjawab dan dengan pelan meraih susu rasa vanilla di dalam lemari es, membuat mau tak mau tubuhnya mendekat ke arahku.

Dan ini tidak boleh dibiarkan.

Aku beringsut menjauh, membiarkan Chan Yeol leluasa mengambilnya. Sementara pandanganku sedikit kabur begitu Chan Yeol menatapku sembari menyodorkan susu rasa cokelat. “Kau tidak suka vanilla, ‘kan? Aku lupa tadi.”

Kubiarkan tanganku terulur meraih sekotak susu dalam genggamannya. Namun, belum sempat aku menarik kembali tanganku, Chan Yeol sudah mencengkeramnya. Dan aku tidak tahu apa yang diinginkannya saat tersadar aku sudah terpojok di dinding. Jaraknya begitu dekat. Ia hanya menyudutkanku dan satu-satunya kontak fisik adalah tangan kanannya yang masih berada di pergelanganku.

Tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibirnya. Ia hanya menatapku, dengan pandangan paling sulit kuartikan. Seperti mencurahkan berbagai perasaan yang aku sendiri tidak mengerti. Tapi, kalau boleh menebak, mengapa aku merasa sedih melihat mata itu? Ia seperti menderita.

“Kau,” suaranya terdengar serak, “kenapa?”

Aku tak mengerti. Kenapa?

Kubiarkan sebelah tangannya menyelip di antara celah pinggangku, mempersempit jarak yang bisa digapainya. Napasku sedikit cepat saat aku merasa pusing begitu aroma tubuhnya menguar. Ia masih membungkam mulut; seolah-olah tengah menikmati kedekatan ini.

“Aku tidak bisa menerima alasanmu,” katanya, setelah berdiam diri. “Kita bukan saudara kandung. Keluargamu juga pasti akan kembali padamu. Lalu, kenapa kau menolakku? Kau tidak menyukaiku?” lanjutnya cepat nyaris tanpa jeda.

“A-aku,”

“Katakan yang sejujurnya,” katanya tegas, mempererat rengkuhannya. “Aku menyukaimu. Tidak… aku mencintaimu.”

Aku mencintaimu, pikirku. Merasa semuanya hanya mimpi terlalu indah.

“B-bukankah kau berpacaran dengan Shin Su Jin?”

“Kau pikir begitu?” gumamnya, kemudian tangannya yang menggengam tanganku merangkak naik hingga ke belakang kepala. “Aku tidak berpacaran dengannya. Melihatmu di koridor saat itu, menatapku dengan pandangan sendu, bagaimana bisa aku menerima Su Jin jika pada akhirnya aku tahu bahwa kau juga menaruh perasaan padaku?”

Aku mendelik tajam, “Kau memeluknya.”

“Ia memintanya sebagai permintaan terakhir. Lagi pula, apa kau tidak lihat bahwa ia yang memelukku terlebih dulu?”

Lidahku kelu, bingung kalimat apa yang perlu kulontarkan. “A-aku,”

“Jawab saja, kau menyukaiku? Ah, tidak, kau mencintaiku?”

Aku sedikit mendongak memandangnya, “Aku…”

Cup.

Mataku melebar saat ia menempelkan bibirnya pada bibirku. Rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang dalam perutku dan mati-matian menahan degup jantung yang tak terkendali. Ia hanya mengecupnya, tidak bergerak. Kemudian tidak lama melepaskannya.

“Anggukkan saja kepalamu,”

“Chan Yeol, tapi… apa orangtuamu tidak marah?”

Chan Yeol tersenyum, mencondongkan kembali kepalanya sebelum meraup bibirku lagi. Kali ini bukan sebuah kecupan ringan seperti yang dilakukannya tadi. Bibirnya mulai bergerak di atas bibirku, melumatnya pelan, memberikan sensasi yang baru pertama kurasankan. Tanpa sadar aku memiringkan kepalaku, memberinya kesempatan lebih mudah untuk mencium setiap sel bibirku. Bahkan, aku tidak tahu bahwa tanganku sudah melingkar di lehernya. Tangannya yang semula berada di kepalaku merambat turun ke leher belakangku dan mendorongnya sedikit. Membuat bibirku terasa lebih penuh dengan bibirnya.

Ia tak memberiku kesempatan untuk bernapas. Sampai akhirnya ia memelankan gerakan bibirnya di bibirku, lalu mengatur napasnya yang tersengal meski bibirku sudah tak berpagut dengannya. Hanya saja, aku masih bisa merasakan keningnya menempel di keningku. Ini masih jarak terlalu dekat.

“Aku ingin mendengarnya,” katanya nyaris berbisik.

Wajahku menghangat, “Aku…”

Aish, Haneul lihat mereka! Manis sekali, bukan?”

“Aku dapat! Aku dapat!” sorak Park Haneul sambil menunjukkan rekaman video dalam handycam-nya.

“Kita harus menyebarkannya,” seru Yu Ri Ahjumma.

“Tentu saja.”

Ya! Apa yang kalian lakukan?!” Chan Yeol bersuara cukup keras hingga membuatku harus menutup telinga. Lelaki ini mengapa punya suara yang begitu luar biasa?

“Sudah, lanjutkan saja. Aku pergi dulu, ya.” Park Haneul melambai jail diiringi kerlingan Yu Ri Ahjumma.

Chan Yeol mendengus panjang dan kembali menatapku. Membuatku seketika gugup.

“Jadi, apa jawabanmu?”

“Kau bisa menjelaskan maksud keluargaku akan datang kembali padaku?” tanyaku, berusaha mengalihkan pembicaraan meski sebenarnya aku juga sangat penasaran. “Apa maksudnya?”

Chan Yeol agak menjauhkan tubuhnya. “Mereka sebenarnya hanya menitipkanmu selama seminggu di sini. Kudengar karena kau sebentar lagi ujian, mereka tidak ingin memberatkan beban pikiranmu. Aku tahu perusahaan keluargamu sedang berada dalam batas minimum, oleh sebab itu orangtuaku berinisiatif akan membantu namun dengan satu syarat,”

“Apa?” aku memandang curiga.

“Mereka akan menikahkan putri bungsunya dengan putra orantuaku,” katanya sembari menggoda. “Tentu saja siapa lagi selain denganku, bukan?”

Aku menatapnya tak percaya. “Kenapa tidak kakakku? Bukankah kakakku juga perempuan?”

“Aku tidak mau dengannya, aku mengajukan kau sebagai pendampingku,” ujar Chan Yeol santai, tidak peduli rautku yang memancar bingung. “Dengan atau tidak kau mencintaiku, tetap saja yang menikah denganmu kelak adalah aku. Tapi, pernikahan tanpa didasari cinta tidak akan bagus untuk selanjutnya, bukan? Jadi, mereka menitipkanmu di sini agar bisa mengenalku dan keluargaku lebih dekat. Sekaligus, kau tidak akan terbebani oleh pikiran tentang kakakmu.”

“Memang kenapa kakakku?”

Chan Yeol terdiam sebentar. “Tapi berjanjilah ujian akhir ini kau akan tetap mendapatkan nilai bagus.”

Kuanggukkan kepala sebagai jawaban.

“Kakak dan orangtuamu sedang berada di Singapura untuk perawatan. Akibat depresi yang dialami kakakmu, ia terus mengurung diri di kamar dan orangtuamu tidak bisa melakukan apa lagi selain membawanya ke psikiater. Salah seorang kerabat ayahku adalah psikiater handal di Singapura, jadi ada baiknya jika kakakmu dibawa ke sana.”

Aku menghela napas panjang; cemas melandaku.

“Tapi tenanglah, kudengar mereka akan pulang dalam beberapa hari ini,” kata Chan Yeol menenangkan.

Aku mengangguk, rasanya kakiku mulai goyah dengan semua kenyataan yang baru kudapat.

Chan Yeol menundukkan kepalanya, menarik daguku dan mengecup keningku. Ya Tuhan, bagaimana ia bisa seromantis itu sekarang?

“Jadi, apa jawabanmu?”

Aku menggigit bibir bawahku, mengingat kembali alasan tak masuk akal mengapa dua hari lalu aku menolaknya. Hanya karena menganggap… aku benar-benar dibuang? Menjadi anak angkat keluarga ini? Oh, tidak. Itu bahkan terdengar sangat menggelikan sekarang. Seakan-akan aku merupakan sebuah tokoh fiksi picisan.

Mataku bergerak perlahan ke arahnya. Sembari menatap lurus mata cokelat tua itu, aku berbisik lirih, berharap ia mendengarnya, “Saranghaeyo.”

Dan kata itu kemudian teredam dengan suara tawa yang begitu menyenangkan di telingaku. Menular, lalu aku pun tertawa. Ia merengkuhku erat, seolah melindungi bahwa aku akan selalu aman di sisinya. Kusembunyikan kepalaku di dadanya meski masih memberi ruang agar aku bisa tetap menertawakan hal yang aku dan kuyakin ia sendiri pun tak mengerti.

Sampai akhirnya aku tersadar bahwa tawaku rasanya serasi dengan tawa miliknya. 

Fin.

Notes: Fic tidak jelas sepanjang masa. Maaf untuk segala typo, diksi yang minim, soalnya ini emang kutulis di sekolah dan sembari diganggu sama anak-anak–anggap mereka begitu karena nyatanya, memang anak-anak. Hahaha. Intinya, ini fic edisi lama bangeeet, jadi aku post di sini sekalian bernostalgia aja, sih.

Oke, komentarnya sangat diharapkan! Berhubung FFL agak sepi sekarang, maka tolong kalian tetap sempatkan komentar di fic-fic yang kalian baca, ya. Jangan budidayakan silent readers! Soalnya menurutku, itu sama sekali gak membangun dan justru bikin kurang semangat penulis yang udah capek menuangkan ide *ah, itu sih kamu aja, Zol*. Lastly, terima kasih banyak udah mau baca fic ini dan semoga hari kalian menyenangkan! 😀