Bertemu Lagi

Author: a.k.a Rahina Lollidela (@ScarecrowRahina) || Genre: Sad, Romance || Length: OneShot || Rating: PG-13 || Casts: Choi Seunghyun (BIGBANG’s TOP), Park Bom (2NE1′s Bom), Lee Chaerin (2NE1’s CL), Kwon Jiyong (BIGBANG’s GD), Choi Dongwook (Se7en), Madamoiselle Yulia

Disclaimer: Cerita ini adalah hasil karangan murni author, jika menemukan adanya plagiarisme, harap mention @scarecrowrahina via twitter, atau tinggalkan komentar pada postingan ini. Don’t be a silent reader!

Note: Ini adalah sequel dari FF Alien couple sebelumnya, yaitu ‘Pergi‘. Ngomong-ngomong, Madamoiselle Yulia di sini bukan Mademoazeru Yuria DJ yang sering sama YG Fam itu ya. Author cuma pinjem nama aja, kali ini sebagai desainer. Selamat membaca!

“Jika dia kembali, apa kau siap menerimanya lagi?”

Bertemu Lagi

by Rahina Lollidela

Seunghyun POV

“Kau yakin? Baiklah. Sampai jumpa lusa!”

Kulirik Chaerin yang mematikan ponselnya dari balik lembaran laporan keuangan yang sore ini kudapat dari sekretarisku. Sama denganku, Jiyong juga mengamati wanita berambut pirang itu dari balik selembar partitur bertuliskan lagu buatannya.

“Siapa?” Jiyong bertanya; membuatku menurunkan laporan keuangan di tanganku untuk menunggu jawaban Chaerin. Entah kenapa, aku ingin tahu.

“Seseorang yang kau kenal, Sayang.” Chaerin menjawab lirih sebelum akhirnya ‘membuang’ ponselnya dan bersandar pada pundak Jiyong.

Pasangan aneh.

Ah, tidak. Aku hanya iri karena masih sendiri. Ya, aku mengakuinya.

Pasangan pecandu kelab malam ini sudah duduk di ruang televisi apartemenku sejak empat puluh lima menit yang lalu dan aku sama sekali tak mendengar mereka berbicara padaku kecuali di awal ketika mereka datang.

‘Hyung, kau sedang apa? Apa kami mengganggu?’

‘Tidak. Masuklah.’

Seingatku, itu adalah perbincangan terakhir kami di ambang pintu sebelum akhirnya mereka memperlakukan apartemenku seperti apartemen mereka sendiri tanpa mempedulikan bahwa pemiliknya sedang sibuk berkonsentrasi. Kurasa mereka juga sempat berciuman tadi.

“Oppa.”

Akhirnya Chaerin bicara padaku. Empat puluh lima menti, Chaerin! Empat puluh lima menit!

“Kau ingat ‘kan kalau lusa kau harus mengambil perhiasan pesananku di Jepang?”

Oh, empat puluh lima menit ia mengabaikanku dan kini ia berbicara hanya untuk menyuruhku ke Jepang? Ya, aku memang sudah berjanji pada Chaerin untuk mengambil perhiasannya di Jepang karena kebetulan aku pun juga harus menemui seorang investor di sana.

“Eum, aku lupa,” ucapku-dingin- seraya kembali memandangi laporan keuanganku.

“Aku tidak peduli, tapi kau harus menemui Madamoiselle Yulia di galerinya. Kalau kemarin aku bilang kau harus menemuinya pukul tiga sore, aku ralat, kau harus menemuinya pukul dua siang.”

Seenaknya sekali dia mengubah perjanjian. Aku memang akan bertemu dengan Investor Takagi malam hari, tapi dia pikir aku tidak memiliki kegiatan selain itu? Ya, aku memang tidak memiliki kegiatan apa-apa selain itu. Miris. Kelab malam? Aku hanya akan merasa kesepian di sana. Aku bukan Jiyong-tentu saja saat sebelum jatuh cinta pada Chaerin- yang jika didatangi oleh wanita di kelab malam pasti akan langsung melayani. Aku lebih seperti Chaerin yang dari dulu sampai sekarang hanya bisa memikat tapi selalu menolak untuk melayani. Tipe yang sangat sulit didekati.

Ya, aku memang pernah takluk pada seorang wanita… dan dicampakkan, hingga akhirnya aku tak bisa jatuh cinta pada yang lain… sampai sekarang. Ha. Ha.

“Kau bisa, Oppa?” Chaerin membuyarkan lamunanku.

“Ter…terserah kau saja,” tanggapku lagi. Awalnya aku berniat untuk tetap bersikap dingin, tapi sepertinya malah terdengar kikuk di telinga si karismatik Chaerin.

“Baguslah.” Kulihat Chaerin mengambil ponselnya dan mulai menghubungi seseorang. “Yulia, I told you that I can’t come to meet you the day after tomorrow, right? … Did I told you that my friend’s going to pick the accessories? … Okay, so he’s gonna be there at two o’clock. Are you ok with that? … I knew, that’s why I asked him to come at two o’clock. Can you help me? … Don’t tell her, ok? I really want them to see each other again. I’m pretty sure that they miss each other.”

Anak ini kenapa berbicara ke mana-mana? Kukira dia hanya akan membicarakan janjiku untuk mengambil perhiasannya di galeri Madamoiselle Yulia.

“Okay, thanks, Yulia. I love you so much! Tell me if they finally see each other!”

Dan Chaerin pun mematikan ponselnya, ‘membuang’nya ke karpet, lalu menatapku dengan berbinar seraya mengambil nafas panjang.

“Oppa, di Jepang nanti kau yakin hanya akan menemui investor impianmu itu?” tanya Chaerin tiba-tiba.

“Tidak, aku juga akan menemui Madamoiselle Yulia.”

“Ya,ya, ya. Hanya itu?”

“Tentu saja. Aku tidak seperti kalian yang jika ke Jepang akan langsung menjelajah setiap kelab malam yang ada.”

Chaerin mengambil tas tangan mahalnya dan segera mengambil sebuah kartu nama. Tidak, dua kartu nama.

“Lebih tepatnya, kau tidak lagi seperti kami. Kau ingat, dulu kau sering ke kelab malam dengannya walau tak sedikit pun diizinkan minum. Sekarang kau jaran ke kelab malam, tapi selalu minum.”

Sial, aku benar-benar ingin menyobek mulut anak ini.

Chaerin beranjak dan menarik tangan Jiyong untuk ikut berdiri. “Ini kartu nama Madamoiselle Yulia dan… yah… kalau kau bosan dan ingin basa-basi dengan seseorang, kuberi kau kartu nama seorang wanita yang pasti kau akan suka.”

Chaerin dan Jiyong mulai melangkah menjauh setelah meninggalkan dua kartu nama. Kartu nama Madamoiselle Yulia dan satu kartu nama lagi bertuliskan… Park Bom?

“Oppa?”

Kulihat sejoli itu masih di ambang pintu; berhenti karena Chaerin memanggilku.

“Kalau dia kembali, apa kau siap menerimanya lagi?”

Dan mereka pun menutup pintu dari luar; meninggalkanku yang mulai berpikir.

***

Author POV

“Selamat pagi.”

Wanita itu agak tersentak ketika sepasang lengan tiba-tiba melingkar di perutnya dari belakang; memeluknya dengan begitu erat seolah tidak ingin melepasnya lagi.

“Kau sudah sarapan?” wanita itu bertanya ringan seraya terus memandangi pemandangan jalanan Tokyo dari balik dinding apartemennya.

“Tentu saja. Nasi goreng kimchi buatanmu itu selalu menjadi yang terbaik, Bommie.”

Park Bom. Wanita itu tersenyum kecil mendengar pujian kekasihnya sebelum akhirnya membalikkan badan dan mengalungkan tangan di leher Dongwook, kekasihnya.

“Kau sudah berjanji akan mengantarku menemui Madamoiselle Yulia, ‘kan? Aku sudah berjanji padanya untuk datang pukul dua siang.”

Dongwook mengecup singkat bibir Park Bom; membuat senyum wanita itu lebih lebar mengembang. “Bukankah kita datang ke Tokyo untuk itu? Jam berapa kita akan berangkat nanti?”

“Eum… pukul sepuluh, ya? Kau mau ‘kan menemaniku berbelanja? Hm?”

Dongwook tertawa kecil, tak bersifat mengejek tentu saja. “Kau masih belum menghilangkan kebiasaan itu, Sayang?”

“Kebiasaan itu tidak akan hilang, jadi jangan berharap.”

Dongwook kembali tertawa. “Baik, baik. Lebih baik kau bersiap-siap.”

***

Seunghyun POV

“Kau sudah sampai? Sudah bertemu dengan Yulia?”

Kulihat jam tanganku ketika suara menyebalkan itu menyerang telingaku melalui sambungan telepon. Ini masih pukul siang, kenapa Chaerin meneleponku sekarang? Aku bahkan baru saja tiba di bandara. Lagi pula perjalanan dari sini ke galeri fashion Madamoiselle Yulia hanya memerlukan waktu empat puluh lima menit.

“Kau ini cerewet sekali. Aku baru saja sampai di bandara dan ini masih pukul setengah satu, Lee Chaerin. Aku tahu apa yang harus aku lakukan, jadi diam lah dan tunggu hingga aku menghubungimu!” omelku panjang lebar.

Kudengar Chaerin mendengus kesal. “Baiklah, baik. Nikmati saja waktumu di sana. Kusarankan, kau menemui wanita yang kumaksud kemarin.”

Dan Chaerin membahas wanita itu lagi. Tidak kah dia mengerti kalau aku sedang berusaha untuk melupakan? Hei, ini sudah tiga tahun!

“Chaerin, tolong, kumohon, jangan bahas Park Bom lagi.”

“Kenapa? Dia tinggal di Jepang, kau tidak mau bertemu dengannya lagi?”

Di Jepang? Seingatku, Park Bom ada di Paris. Ya, aku ingat sekali dia bilang dia akan ke Paris, tepat di saat aku akan melamarnya. Di hari ketika aku kehilangan segalanya.

“Bukankah dia tinggal di Paris?” tanyaku seraya melangkah cepat menuju tempat di mana mobilku diparkirkan oleh karyawanku yang bekerja di cabang Jepang.

“Oh, kau penasaran juga rupanya. Dia punya dua apartemen. Kau sudah lihat kartu nama yang kuberikan, ‘kan? Ada dua alamat di sana. Datangi saja yang di Tokyo.”

Kuletakkan tas kantorku di jok samping sebelum akhirnya duduk di belakang kemudi dan mencoba mengambil kartu nama Park Bom di saku jas dengan tangan kanan yang tak memegang ponsel. Memang ada dua alamat: di Tokyo dan di Paris.

“Terserah. Aku terlalu sibuk untuk menyimpan kartu nama itu,” ucapku; berbohong.

“Kau membuangnya? Itu satu-satunya yang kupunya.”

“Oops, sudah terlanjur. Sudahlah, aku sibuk. Pyeong!

Kuletakkan ponselku sebelum akhirnya mulai menyalakan mesin mobil dan melaju langsung ke galeri fashion. Aku tidak ingin berbasa-basi. Setelah menemui Madamoiselle Yulia, aku akan langsung check in dan tidur. Otakku benar-benar lelah.

Bagaimana kalau aku mampir sebentar ke apartemen Park Bom? Apa dia akan keberatan? Kurasa tidak, lagi pula mungkin dia sudah melupakanku. Aku bisa saja berpura-pura menjadi teman Chaerin yang kebetulan masih baru di Jepang dan meminta tumpangan di apartemennya. Jika dia masih mengingatku? Aku akan datang dengan alasan menjadi teman lagi. Mudah saja, setidaknya jika di mulut.

Apa aku akan siap melihatnya lagi? Bodoh sekali aku bisa berpikir untuk menemuinya lagi.

‘by Madamoiselle Yulia’ tampak tertulis secara asal-asalan namun berseni di sebuah papan biru muda yang terpasang di bagian depan sebuah galeri fashion dan kuyakin itu adalah galeri yang dimaksud di kartu nama Yulia. Segera kuparkirkan mobilku di depan galeri itu.

Sekarang sudah pukul setengah dua. Lebih lama lima belas menit, mungkin karena tadi ada kecelakaan.

Mantap, kubuka pintu kaca itu dan seorang wanita berwajah oriental dengan rambut kebiruan langsung menyambutku dengan senyum swaggy nya. Aku yakin dia adalah Madamoiselle Yulia.

“Yulia?” tanyaku untuk memastikan.

“I am. And you must be Seunghyun Choi. Chaerin’s friend, right?”

Kusunggingkan senyum kecilku dan mengangguk kecil.

“You’re way too fast. I thought that you’ll be late. I haven’t prepare the accessories yet. Have a cup of tea with me, would you? I’ll ask my assistant to prepare it.”

Sudah kutebak. Seorang desainer pasti sangat sibuk bahkan ia belum menyiapkan barang yang Chaerin minta. Salahku, aku datang terlalu cepat hingga harus menunggu sembari menikmati secangkir teh dulu.

I’d love to.”

Dan kami pun berbincang kecil. Wanita ini sangat menyenangkan, kurasa karena dia adalah seseorang yang sejenis dengan Chaerin dan Jiyong, penggila pesta. Kulihat dari semua karyanya yang dipamerkan di galeri ini, tidak ada yang jelek. Semuanya keren. Bahkan kurasa aku mulai tertarik untuk membeli jas warna-warni yang dipamerkan di sudut ruangan.

“That coat, it looks colorful. Awesome,” pujiku seraya meletakkan teh di meja.

Yulia menolehkan kepalanya dan tersenyum. “That’s my most praised design. Eum… You look good in it.”

Aku setuju. “Seems like you’re right.”

Yulia tertawa kecil seraya menutupi mulutnya dengan punggung tangan. “You want it, don’t you?”

Kusunggingkan senyum kikukku. Rupanya dia pandai membaca ekspresi orang.

“Take it. I’m giving it to you,” ucap Yulia lagi, tapi kali ini dengan nada serius.

“Eum… how much should I pay you?”

“No! I said, I’m giving it to you for free.”

Dan perhiasan Chaerin pun siap untuk berpindah tangan ke tanganku, begitu pula jas warna-warni tadi yang kudapat dari Yulia secara gratis sebagai kenang-kenangan.

“Okay, thanks for the coat. I’m going now. Bye!”

“Dongwook, cukup! Haha!”

Hampir saja kulangkahkan kakiku keluar galeri ketika kudengar suara tawa nan familiar itu di ambang pintu. Ingin rasanya kubalikkan badanku menghadap pintu keluar, tapi aku terlalu takut. Dan benar, Park Bom ada di depanku tepat ketika kubalikkan badanku, merangkulkan tangannya pada pinggang seorang laki-laki yang juga merangkul pundaknya. Pa…car…nya?

“Oh.”

Tampaknya wanita itu juga menyadari keberadaanku. Wajahnya memucat. Kebiasaannya jika merasa gugup.

Dia sudah punya kekasih lagi, Seunghyun, biarkan semuanya berlalu.

“So, Yulia, b… bye!”

Buru-buru kulangkahkan kaki keluar dari tempat itu tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.

Sial, dia sudah punya kekasih lagi. Hei, kenapa aku kesal?

***


Park Bom POV

Jam menunjukkan pukul tujuh pagi di Tokyo ketika lenguhan Dongwook menyadarkanku dari lamunan. Lamunan, bukan tidur. Aku sama sekali tak bisa tidur semalam. Jelas sekali penyebabnya adalah karena dua mata bodohku ini menangkap Seunghyun kemarin di galeri Yulia. Untuk apa dia di sana? Dia bukan tipe laki-laki seperti Jiyong yang sering repot-repot ke luar negeri untuk masalah pakaian. Ah, mungkin Chaerin yang menyuruhnya. Aku masih ingat sekali dulu Chaerin sering sekali menyuruh Seunghyun untuk mengambil pakaiannya di Jepang jika laki-laki itu kebetulan memiliki perjalanan bisnis di Jepang.

Apa Chaerin juga memberitahu alamat apartemenku?

“Chaerin, aku bertemu dengan Seunghyun tadi.”

Tak ada respon apa pun dari balik sambungan ponsel, hanya kekehan kecil khas Chaerin yang sangat tidak kusukai. “Benarkah? Bagus kalau begitu.”

“Kau… tidak merencanakannya, ‘kan?”

Kini anak itu tersedak. Kurasa dia sedang minum. Sepagi ini? Ah, mungkin kopi pagi bersama Jiyong. “Sebenarnya… seharusnya Seunghyun Oppa kusuruh ke galeri Yulia pukul tiga sore, tapi setelah kau meneleponku dan memberitahuku kalau kau juga akan ke sana pukul dua siang, aku langsung menyuruh Seunghyun Oppa untuk ke sana pukul dua siang. Maaf, Unni.”

Gila!

“Apa maksudmu?”

“Aku hanya ingin kalian bertemu lagi.”

“Chaerin, kau tahu, aku sudah punya kekasih.”

“Lalu? Aku tahu kau tidak mencintai Dongwook. Kita sama-sama tahu tujuanmu menjauhi Seunghyun adalah supaya dia tidak merasa kehilangan nantinya.”

Cukup tersentak ketika Chaerin mengucapkan kalimat terakhirnya itu. Pikiranku seolah terlempar ke sebuah kenyataan pahit yang benar-benar menekan.

“Unni, maaf, aku tak bermaksud. Aku… aku hanya ingin kau tidak membohongi dirimi sendiri.”

Cepat-cepat kumatikan ponselku dan mendengus berat. Kau benar, Chaerin.

“Kau tadi menelepon siapa?”

Kutolehkan kepalaku dan mendapati Dongwook mulai mengerjapkan matanya. Buru-buru kutorehkan senyum… palsu.

“Chaerin. Kau sudah bangun? Mau kubuatkan sarapan?”

“Tentu saja.”

Ting-tong!

Dongwook hampir saja mengecup bibirku ketika suara bel itu mengganggu. Aku hanya terkekeh melihat sikap tidak sukanya karena gagal menciumku. Laki-laki itu segera memakai piyama tidurnya dan melangkah keluar sebelum akhirnya kembali lagi.

“Teman lamamu datang. Katanya, namanya Seunghyun.”

S… Seunghyun?!

To be continued or… not? ^^