5’th Revenge – Promise in The Recognition of Truth

THR

Author                        : Riiku

Cast                            : Kim Jong Woon, Kim Jaejoong, Shin Mi Woo (OC).

Genre                         : Romance, Live.

Rating                         : PG-18

Length                        : Chaptered

Mian, part ini aku males edit. Banyak istilah2 serta kalimat tdk dicetak miring dan tidak benar pengejaannya. Masa bodo ah! Haha! #kabuuurrr

If you want to take a revenge, I will support you. Even if I get a die. I promise.
Whatever. I just wanna stay with you. May I?

Malam yang cukup dingin. Terdengar suara gemericik hujan sampai ke dalam rumah. Sebuah ruangan dalam rumah itu memang cukup gelap. Tapi, masih ada penerangan yang berasal dari lampu kecil di atas meja serta sinar dari pantulan gambar di televisi.

Kabarnya polisi telah menangkap lima orang yang menyebabkan kekacauan di siang dua hari lalu. Mall Seoul City menjadi sangat ramai didatangi orang-orang hanya untuk melihat akibat kekacauan dan para pelaku tersebut. Diduga bahwa lima orang tersebut memang tergabung dalam agen rahasia yang melayani pesanan pembunuhan, mata-mata, pemukulan, atau bodyguard. Lima senjata api dan tiga senjata tajam disita polisi sebagai barang bukti yang akan…

Plip!

Televisi itu dengan cepat dimatikan oleh tangan yang mengarahkan remote ke sana. Seorang pria yang tengah duduk di kursi putarnya mengangkat kaki bersila sambil menopang wajahnya dengan tangan di bawah dagu.

“Maafkan kami Tuan…”

Sebuah suara memecah keheningan. Ternyata, ada seorang lagi yang sedang berdiri di belakang kursi itu, tepat di samping meja yang diletakkan lampu dalam ruangan tersebut.

“Pastikan mereka mati sebelum membuka mulut. Bagaimanapun caranya, aku tidak mau kau menyewa orang-orang tidak profesional seperti mereka lagi dalam urusan ini.”

“Baik Tuan. Aku akan pastikan tidak menyewa jasa mereka lagi. Aku akan memastikan bahwa mereka semua yang tertangkap mati sebelum interogasi lebih lanjut dari polisi.”

“Bagus.”

Seseorang dalam kursi itu langsung memutar duduknya. Ia menghadap seorang pria yang memang sejak tadi berdiri di sana.

“Bagaimana perkembangan keponakanku?”

“Sejauh yang saya pantau selama ini, Tuan muda masih sibuk dengan beberapa proyek yang terbengkalai setelah tidak diteruskan Tuan besar. Meskipun begitu, Tuan muda sempat bersama dengan saya mendatangi langsung studio untuk mencari gadis itu tadi.”

“Lalu, apa kalian menemukannya?”

“Tidak Tuan. Ternyata sehari setelah kekacauan rencana itu, gadis tersebut mengajukan cuti selama dua minggu. Tapi… ada satu hal lagi yang cukup membuat kami bingung Tuan.”

“Apa?”

“Gadis itu bukan bernama Shin Miwoo, melainkan Shin Ha Na. Kami sempat menanyakan lebih lanjut tentang data gadis itu dan bagaimana asal-usulnya. Tapi, ternyata studio belum memiliki data lengkap gadis itu karena ia memang seorang model baru.”

“Cih! Dasar payah sekali mereka! Harusnya mereka mendata langsung gadis itu. Itu berarti kalian belum tahu bagaimana menemukan gadis itu kan? Aish. Bukan tidak mungkin ia mengubah nama. Kalaupun gadis itu memang bukan Shin Miwoo yang kita cari, kita harus tetap memastikan gadis itu tidak memiliki kaitan apapun dengan keluarga Shin dan semua tentang hak waris.”

“Baik Tuan. Aku akan mengusahakannya. Dan sepertinya, besok lusa, sore hari, Tuan Muda akan mengunjungi Tuan untuk menanyakan soal masalah keluarga Kim.

“Heuh, jinja? Hahaha. Kasihan sekali keponakanku. Ia sedang kebingungan dengan ketidakjelasan masalah yang terjadi dan sikap Ayahnya. Aku rasa, ini kesempatan bagus agar ia bisa memilih dan berguna dalam rencanaku. Dan juga, selama hari-hari sebelum keponakanku itu bertemu dengan gadis itu, mungkin akan menguntungkan bagi kita sejenak karena kita bisa menyiapkan dahulu dengan matang rencana kita.”

“Ya, Tuan.”

***

Home Rent

Jongwoon sedang mengerjakan sesuatu di depan laptop. Entah apa yang dilakukan pria itu, tapi ia nampak serius dengan pekerjaannya. Sejenak ia berhenti saat mendengar ketukan suara cangkir yang beradu dengan meja kaca tempatnya meletakkan laptopnya. Ia menoleh.

Jongwoon terdiam mendapati Miwoo yang terkekeh setelah meletakkan cangkir berisi minuman di meja. Gadis itu tanpa ragu ikut duduk di sofa samping Jongwoon. Pria itu menyernyit heran.

“Diluar hujan kan? Sedikit dingin… Kurasa teh ginseng hangat bisa menyegarkan,” ujar Miwoo tersenyum. Lalu, atas jawilan paksa Miwoo, Jongwoon meraih cangkir teh tersebut dan menyesapinya. Miwoo tersenyum puas melihatnya.

“Hei, apa yang sedang kau lakukan?”

Awalnya Jongwoon merasa aneh dan canggung dengan keceriaan gadis yang duduk santai di sampingnya ini. Miwoo bahkan tidak risih mencondongkan badan mendekat ke sisi Jongwoon duduk. Tapi, Jongwoon memilih tidak menghiraukan.

“Menata jadwal kegiatanmu. Nampaknya kegiatan pemotretanmu setelah dua minggu nanti akan padat dan aku cukup bingung mengaturnya.”

“Ah… Baiklah manager. Lakukan yang terbaik!” seru Miwoo mengepalkan tangannya memberi semangat. Jongwoon menoleh keheranan.

“Manager?”

“Eum. Dae Goo ahjusshi pernah menyebutkanmu begitu. Kau managerku,” jawab Miwoo polos. Jongwoon menaikkan sudut bibirnya membentuk smirk. Gelengan pelan mengiringi gerakan tangannya meneruskan pekerjaannya. Sejenak diam. Miwoo mengamati gerakan serius Jongwoon berkutat dengan pekerjaannya. Sedetik kemudian, gadis itu tersenyum.

“Jongwoon-shii, boleh aku bertanya sesuatu padamu?”

“Eum…,” jawab Jongwoon hanya dengan gumaman pelan.

“Ini sudah dua hari berlalu, kan? Aku rasa kini aku akan aman dan baik-baik saja. Pasti tidak ada masalah lagi karena mereka yang mencoba membunuhku waktu itu, sudah tertangkap oleh polisi. Kau lihat beritanya kemarin kan?”

“Tapi polisi masih mencari keberadaan kita. Mereka berusaha mencari saksi-saksi yang melihat kita berlari nona Shin Miwoo,” balas Jongwoon nampak acuh.

Miwoo mengerutkan bibirnya sebal. Selain karena tanggapan Jongwoon yang sangat tidak antusias, ia juga tidak suka Jongwoon nampak mengabaikannya dengan berbicara sama sekali tidak melihatnya. Sejak kapan gadis itu mulai merasa tidak suka diacuhkan Jongwoon? Ia sendiri mungkin tidak mengerti. Sedikit perhatian dan tanggapan pria itu tanpa sadar selama ini memang begitu menyenangkan baginya.

“Aku tahu kau ingin mengatakan bahwa kau telah aman dan bebas sehingga aku akan mudah membiarkan kau muncul ke keluarga Kim kan? Atau mungkin kau berniat berkunjung ke asrama biarawatimu? Kau masih belum aman dan masih dalam bahaya, nona,” ucap Jongwoon. Miwoo semakin kesal. Tebakan Jongwoon sama sekali tidak menyambung dengan pikirannya.

 “Bukan seperti itu!” hentak Miwoo sebal membuat Jongwoon menoleh bingung melihatnya. “Bisakah kau berbicara padaku dengan melihatku dan tidak acuh begitu? Apa mengatur jadwal kegiatanku itu lebih penting daripada bicara padaku?”

“Ya,” jawab Jongwoon singkat. Jongwoon tanpa peduli kembali berkutat dengan laptopnya.

“Jongwoon-shii…,” rengek Miwoo. Ia memajukan bibirnya kesal. Jongwoon masih tidak peduli bahkan tidak melirik sedikitpun.

Merasa tidak berguna terus merengek, Miwoo akhirnya memutuskan hendak beranjak saja meninggalkan Jongwoon. Tapi baru saja berdiri, ia terhenyak kaget karena tangan Jongwoon meraih cepat tangan Miwoo. Gadis itu menoleh kikuk ke arah cengkraman tangan Jongwoon di pergelangan tangannya.

“Bicara saja apapun… Aku tetap mendengarkan,” ujar Jongwoon datar. Perlahan, Jongwoon melepaskan cengraman tangannya dan Miwoo menurunkan diri untuk kembali duduk. Miwoo mulai kembali gugup. Wajahnya memang tidak memerah, tapi degupan jantungnya mulai memacu tidak normal.

“Bicaralah…,” ucap Jongwoon karena ia tidak mendengarkan lagi suara Miwoo setelah beberapa detik berlalu. Pria itu nampaknya tidak menyadari apa yang tengah terjadi pada Miwoo kini.

“Geure…,” jawab Miwoo ditengah kesulitannya mengatur napas. Rasanya jantung itu terus melompat-lompat tanpa lelah di dada Miwoo. Ia menggigit bibir bawahnya lalu berusaha berbicara normal.

“Sebenarnya banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu. Salah satunya… Soal kau yang sengaja meminta pada Dae Goo ahjusshi untuk aku libur selama dua minggu ini. Apa itu bagian dari rencanamu?”

“Tidak. Aku yakin pasti kau sedang dicari. Jika kau tetap bekerja, maka kemungkinan besar kau akan ditemukan baik oleh keluarga Kim atau bahkan yang hendak membunuhmu waktu itu. Aku hanya belum menyiapkan apa yang harus dilakukan. Rencanaku terhadapmu, mendadak menjadi kacau sejak kemarin.”

Miwoo mengerutkan alisnya bingung. Sebenarnya gadis itu memang tidak mengerti apapun. Tapi, ia merasa ia harus menyerahkan saja seluruhnya pada Jongwoon. Urusan ini, terlalu rumit buatnya.

“Geure. Terserah kau saja.”

Sejenak diam. Miwoo kemudian tersenyum lebar ketika ingat kembali pertanyaan apa lagi yang hendak ia pertanyakan pada Jongwoon.

“Ah iya. Apa kau punya keluarga Jongwoon-shii? Appa? Eomma? Saudara kandung? Kalau ada, aku ingin sekali tahu seperti apa mereka. Apa mereka mirip denganmu?” tanya Miwoo sambil menangkupkan tangan bertepuk.

Jongwoon melirik sedikit ke arah Miwoo. Ia tidak habis pikir dengan Shin Miwoo yang mudahnya menampilkan mimik polos. Gadis itu bertanya dengan nada penekanan kekanakan dengan mata yang membesar. Seakan akan hal yang ditanyakan adalah hal besar yang harus ia tahu. Apa gadis itu tidak sadar bahwa ia kini terlihat begitu polos?

“Orang tuaku tidak ada. Mereka tewas dibunuh oleh orang suruhan salah satu keluarga Kim yang hingga sekarang aku tidak pernah tahu siapa orang itu,” jawab Jongwoon dingin. Ia langsung beralih kembali menatap ke depan laptop.

Miwoo mengerjap-ngerjapkan matanya terkejut. Apa benar yang ia dengar tadi? Keluarga Kim itu… bukankah keluarga gadis itu juga?

“Tapi aku memiliki seorang adik angkat,” tambah Jongwoon dengan cepat sebelum Miwoo menanyakan lebih lanjut soal orang tua pria itu.

Miwoo menoleh sendu ke arah Jongwoon. Gadis itu melihat gerakan tangan Jongwoon yang bergetar. Sepertinya memang Jongwoon sedikit menahan perih karena harus mengingat kisah mengerikan itu. Sebuah kenyataan pahit kematian kedua orang tuanya dengan tragis.

“Kau membenci keluarga Kim ya?” tanya Miwoo langsung. Rasanya pertanyaan itu memang tepat bagi Jongwoon sehingga pria itu tiba-tiba bergeming diam.

“Orang tuaku… Juga dibunuh,” lanjut Miwoo kemudian. Jongwoon masih diam. Pria itu sudah tahu akan kisah kedua orang tua Miwoo yang tewas akibat dibunuh. Dan Jongwoon tahu dalang dibalik kejadian itu. Hyeong Sang yang menceritakannya.

“Suster Kang mengatakan bahwa yang membunuhnya adalah salah seorang suruhan keluargaku. Mungkin saja, memang keluarga Kim yang melakukannya. Karena Tuan Hyeong Sang sempat meminta maaf banyak padaku dan mengatakan bahwa hak waris yang dikembalikan padaku adalah cara menebus kesalahan. Aku memang tidak pernah tahu siapa yang membunuh Appa dan Eomma. Tapi… Aku tidak pernah membenci sebuah kesalahan,” ujar Miwoo.

“Jadi kau mengatakan kau memaafkan orang yang membunuh kedua orang tuamu begitu? Apa kau sudah gila?” tanya Jongwoon sinis.

Jongwoon sangat benci dengan kata maaf itu. Maaf sangat tidak pantas bagi orang yang telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Tidak, Jongwoon tidak akan pernah mau memaafkan siapapun pembunuh orang tuanya.

“Apakah kau tidak pernah mencoba memaafkan? Hatimu akan jauh lebih tenang seperti air yang mengalir perlahan ke ngarai. Semua kepedihan, adalah hikmah dari Tuhan yang perlu kita selami maknanya lebih jauh…,” ujar Miwoo lagi. Ia tersenyum dengan tulus memandang Jongwoon meskipun pria itu kini tengah menatap jengah pada Miwoo.  “Jika orang tuaku tidak dibunuh, aku tidak akan pernah bisa bertemu suster Kang, Soo Eun, dan mungkin tidak akan ada di sini bertemu kau,” jawab Miwoo santai.

“Hentikan berpura-pura! Aku tidak suka melihat gadis menangis!” ketus Jongwoon.

Miwoo memang tidak menyadari bahwa matanya kini telah sembab dan berkaca-kaca hanya ucapan santainya tadi yang mengucapkan alasan dirinya memaafkan pembunuh orangtuanya. Pikiran dan ucapan kadang memang tidak sinkron. Di saat Miwoo mengucapkan kata pemaafan, ia memang sedang memutar memori kepedihan mengetahui orang tuanya meninggalkannya dengan cara yang menyakitkan, dibunuh.

“Aku tidak berpura-pura. Aku sungguh-sungguh menyukuri apa yang telah terjadi dan aku alami sampai saat ini. Semuanya kan memang jalan cerita yang ditentukan oleh Tuhan. Aku tahu Tuhan sangat baik dan akan menunjukkan maksudnya melakukan semua padaku.”

 “Oh, ya. Jadi, kau berpikir lebih baik orang tuamu dibunuh dan mati sehingga kau bisa hidup seperti ini dan bertemu orang-orang yang kau sebutkan tadi? Kau anggap orang tuamu yang mati dibunuh itu harus disyukuri? Kau benar-benar sudah gila Shin Miwoo!”

Miwoo menghentikan senyumnya. Ia menatap heran Jongwoon yang kini terlihat begitu emosi. Pria itu dengan kasar menutup laptopnya dan berdiri dengan turut menarik Miwoo untuk berdiri.

“Kau pikir aku seperti kau? Cih! Dengar. Kau, adalah korban keluarga itu. Aku adalah korban keluarga itu juga. Dan oleh karena itu aku membantumu kini untuk menghancurkan mereka, kau mengerti? Mereka tidak pantas dimaafkan! Mereka yang membuat orang tua kita mati meninggalkan kita!” hardik Jongwoon.

Miwoo mengangakan mulutnya syok. Ia benar-benar terkejut mendengar ucapan Jongwoon barusan.

“Maksudmu, kau membantuku karena…”

“Ya! Menghancurkan keluarga itu. Keluarga Kim. Kau tahu soal Shin Ah Hyun? Kakekmu itu eoh? Karena keberadaan keluargamu juga maka Ayahku terlibat dan akhirnya mati dibunuh. Keluarga Kim itu yang menyebabkan ini semua terjadi pada orang tuaku. Keluargamu juga, Shin Miwoo! Jika bukan karena ditugaskan menghancurkan keluargamu, lalu tidak melakukan tugas itu karena kau, Ayahku tidak akan mati dibunuh! Dan kau sekarang dalam genggamanku, kau harus menebus semua kesalahan itu, mengerti?”

Miwoo terdiam. Ia mulai meringis ketika merasakan cengkraman keras Jongwoon di lengannya. Tadi memang Jongwoon menarik Miwoo berdiri dengan mencengkeram lengan gadis itu. Sekarang, Miwoo merasa sakit. Bukan karena lengannya saja, tapi karena pernyataan Jongwoon barusan yang menyakiti hatinya.

Sangat sakit. Kini Miwoo tidak bisa menahan lagi. Genangan air mata yang mendadak muncul dengan tiba-tiba dan bergerumul bersamaan, jatuh berlinangan mengalir di pipinya. Miwoo masih memandang Jongwoon yang kini tengah menatapnya dengan tatapan kejam, tanpa pengampunan. Bukan Jongwoon yang biasa ia kenali. Bukan Kim Jongwoon yang hangat yang ia sukai, yang selalu memancarkan sinar menarik baginya. Kim Jongwoon di hadapannya, sungguh membuatnya sakit.

“Aku katakan sejak awal sekarang. Aku akan memastikan keluarga itu merasakan kepedihan dan derita karena dosa yang mereka lakukan padaku. Dan setelah itu, kau yang akan merasakannya. Bukankah kau sudah tahu, jika seseorang bersalah, pantasnya menebus semua kesalahan itu kan? Kuharap kau bisa menebus kesalahan semua leluhurmu itu, nanti!”

Jongwoon mendorong Miwoo dalam satu hentakan hingga gadis itu terduduk di sofa dengan kasar. Miwoo meringis sakit. Sakit di lengannya, di tubuh belakangnya karena bertubrukan keras dengan sofa, dan bahkan hatinya kini juga sakit.

“Kenapa… Kenapa kau seperti itu Jongwoon-shii…,” lirih Miwoo sambil memegangi dadanya. Gadis itu sudah terisak menangis.

“Cih! Sebanyak apapun kau menangis, pada akhirnya kau hanya akan merasa kalah dan lemah. Kenapa tidak kau pikirkan cara untuk membalas semua perlakuan buruk mereka padamu, hah? Mereka selalu bisa berpikir cara yang jahat untuk mencelakaimu! Kenapa kita tidak, eoh?!”

Jongwoon kembali menarik kasar Miwoo untuk berdiri lagi. Kali ini ia menarik lebih dekat Miwoo sambil menunjukkan satu jari telunjuknya ke tengah kedua mata Miwoo. “Aku hendak melakukan pembalasan dendam terhadap mereka. Terhadap keluarga Kim, dan terhadap kau juga…”

Jongwoon mengepalkan tangannya yang tadi menunjuk Miwoo sambil mengigit bibir bawahnya. Melihat mata Miwoo yang berlinangan di hadapannya, mendadak ia merasa luntur. Tapi, secepat kilat ia tidak menggubris hal itu dengan melepas cengkraman tangannya pada Miwoo yang seketika membuat gadis itu terhuyung jatuh kembali duduk di sofa. Miwoo kini terlihat tidak berdaya melakukan apapun. Ia terlalu lemas merasakan kesakitan yang luar biasa menghujani hatinya sekarang.

Brak!

Air mata langsung lolos lagi tepat ketika Jongwoon menutup kasar pintunya. Miwoo terisak dengan cukup keras. Ia hanya bisa duduk diam dengan menangis sebisanya.

Dingin. Hening. Dan pedih.

Suasana itu kini menggambarkan keadaan tersebut. Miwoo hanya bisa terisak sendiri dalam duduknya di sofa. Sedangkan Jongwoon, masih berusaha mengendalikan emosinya di balik pintu kamarnya itu. Ia bersandar pada pintu sambil mencengkeram rambut poninya frustasi. Sementara, tangisan Miwoo terdengar sebagai iringan kegiatan mereka dalam beberapa menit.

***

Miwoo memiringkan tubuhnya berbaring di sofa. Tangisannya sejak tadi memang sudah berhenti. Akan tetapi, gadis itu masih kesulitan menata hatinya yang sempat terbengkalai pedih tadi. Miwoo masih memandang kosong dan sendu ke satu arah yang ada di hadapannya. Meskipun kini, beragam pikiran memang menyelimutinya.

Ini semua karena kejadian beberapa jam lalu. Efek pertengkaran kecilnya dengan Jongwoon nampaknya sangat besar bagi kelangsungan dirinya sekarang. Semua ucapan Jongwoon memang ia selami dan berusaha ia pahami. Semakin diingat, Miwoo semakin sedih karena kenyataan yang tidak pernah ia bayangkan.

Benarkah tujuan Jongwoon selama ini bersamanya hanya demi memanfaatkanku membalaskan dendamnya? Benarkah orang tua Jongwoon dulu ditugaskan membunuh Ayahnya? Benarkah karena tidak jadi membunuh orang tuanya maka Ayah dan Ibu Jongwoon yang malah dibunuh? Lalu, mengapa kedua orang tuanya masih terbunuh? Oleh siapa? Apakah dengan orang lain?

Brak!

Jongwoon kembali keluar. Perlahan pria itu melangkah kembali mendekat Miwoo hingga akhirnya berdiri di depan Miwoo. Gadis itu refleks bangun duduk. Jongwoon meraih wajah Miwoo agar menghadapnya dengan satu tangannya yang mencengkram dagu gadis itu. Ia masih tetap Jongwoon dengan tatapan kejam. Jongwoon yang tidak Miwoo sukai. Tapi entah kenapa, di sudut kecil hati Jongwoon nampak ragu. Ada apa dengan pria ini?

“Sekarang juga, aku beri kau kesempatan untuk pergi. Larilah sekuat mungkin untuk menghindar. Lari dari aku agar kau tidak terkena pembalasan dariku. Lari dan jangan pernah menampakkan diri lagi di hadapanku.”

Jongwoon melepaskan cengkraman tangannya. Kali ini lebih lembut dan tidak kasar. Ia terus menatap Miwoo. Dingin, tapi sendu. Miwoo masih diam bergeming. Kepalanya mendongak memandang Jongwoon kembali dengan buliran air mata yang berjatuhan.

Semakin lama, waktu semakin bergulir. Sangat lama mereka tetap seperti itu. Hujan yang terjadi di luar sejak tadi, bahkan telah berhenti sejak beberapa menit berlalu.

“Kenapa tidak pergi? Cepat pergi. Aku berikan kesempatan padamu untuk pergi dasar bodoh!” maki Jongwoon setelah akhirnya ia memang tidak bisa bersabar lagi menunggu lebih lama. Jongwoon kembali menarik Miwoo dengan kasar untuk membuat gadis itu berdiri. Tapi, Jongwoon terkejut karena dengan cepat Miwoo menghempaskan kasar juga tangan Jongwoon. Gadis itu kini memandang dengan berani ke hadapan Jongwoon.

Diam. Dua pasang mata itu saling bertatapan diam dan berani. Tapi hanya berlangsung sesaat karena perlahan tatapan Miwoo berubah kembali sendu.

 “Kenapa kau seperti ini Jongwoon-shii…,” lirih Miwoo. Isakan kembali terdengar dari Miwoo. Ia lalu menarik kemeja depan Jongwoon dengan mencengkramnya kesal. Gadis itu sepertinya ingin marah. Tapi, ia tidak bisa. Anehnya, Jongwoon hanya diam berdiri kosong meskipun Miwoo menarik-narik kemejanya dan mencengkramnya kesal.

“Aku hanya percaya padamu… Hiks. Aku tidak mau pergi… Hiks. Aku hanya percaya padamu…”

Miwoo terus menangis. Jongwoon perlahan melenturkan wajahnya. Ia menelan ludahnya dengan menatap lurus ke depan.

“Aku tidak mau pergi…”

Lagi-lagi Miwoo mengucapkan kalimat yang sama. Jongwoon tidak bereaksi apapun. Pikirannya kini sedang penuh dengan ketidak-percayaannya akan sikap Miwoo. Ia pikir gadis polos ini akan melarikan diri ketakutan padanya dan tidak akan kembali muncul setelah tahu siapa dirinya. Tapi, dugaannya salah…

“Kalau kau tidak pergi, kau akan aku manfaatkan…” Miwoo menggeleng. Ia menarik kembali kemeja Jongwoon dan mencengkramnya. “Aku berniat membalaskan dendamku padamu, Shin Miwoo…” Miwoo masih menggeleng.

“Aku tidak mau pergi…”

“Aku yang akan pergi.”

“Andwe!”

“Shin Miwoo…”

“Andwe…,” rengek Miwoo masih terus mencengkram kemeja Jongwoon. Kali ini ia menggunakan kedua tangannya demi melampiaskan kekesalannya. Jongwoon perlahan menatap ke bawah, tepatnya pada puncak kepala Miwoo yang tepat di bawah dagunya. Ia menelan ludahnya lalu menarik napas dalam.

Sedetik kemudian, Jongwoon menurunkan paksa kedua tangan Miwoo yang mencengkram kemejanya. Meskipun Miwoo berontak, tapi akhirnya gadis itu tetap kalah. Lalu tangan Jongwoon terulur ke belakang punggung gadis itu hingga akhirnya menariknya jatuh ke dalam dekapannya. Miwoo terhenyak kaget. Matanya membelalak dan tubuhnya menegang. Ia merasakan perlahan Jongwoon semakin mengeratkan pelukan itu. Ia juga merasakan dagu Jongwoon bersandar tepat di puncak kepalanya.

Miwoo bergerak gelisah. Tapi itu justru membuat Jongwoon semakin mengeratkan pelukannya. Miwoo bahkan bisa menghirup langsung aroma tubuh Jongwoon. Wajahnya kini berhadapan langsung dengan dada pria itu. Ia tidak sengaja. Pipinya bersandar pada dada pria itu. Miwoo melebarkan mata bergeming. Ya, itu karena gadis itu bisa merasakan degupan jantung Jongwoon secara langsung di sana. Tidak jauh berbeda dengan degupan di dadanya.

Rasanya napas begitu sulit ditarik. Aroma maskulin Jongwoon sudah melekat dalam indra penciuman Miwoo. Terasa menyenangkan dan hangat. Ya, Miwoo menyukainya. Gadis itu bahkan sudah terbuai dan terpaksa menyelami lebih dalam ke dalam kehangatan dekapan Jongwoon. Matanya terpejam dan tanpa sadar tangan gadis itu telah berpindah di pinggang Jongwoon.

Hujan di luar kembali terdengar. Kali ini gemericiknya lebih lembut dan romantis. Kehangatan yang terjalin seolah meluapkan emosi panas yang sejak tadi mengebu di hati mereka. Ditengah isakan yang mulai mereda, Miwoo merasakan nyaman. Ya, nyaman. Mata yang terpejam dari keduanya menunjukkan kenyamanan itu nampaknya enggan berakhir.

***

Pagi hari yang cerah. Sinar mentari sudah memasuki kamar itu sejak beberapa menit yang lalu. Sudah sangat terang jika membuka lebar jendela kamar. Namun, karena jendela belum dibuka sepenuhnya, hanya sedikit cahaya yang akhirnya berhasil merasuk ke dalam kamar itu.

Jongwoon, ia sedang berbaring di atas ranjang dalam kamar. Sebenarnya pria itu telah bangun sebelum mentari menampakkan diri. Tapi, setelah bangun, yang ia lakukan sejak tadi hanya menopang belakang kepalanya dengan tangan sambil menatap kosong ke langit-langit kamar. Ia termenung.

Entah apa yang dipikirkan pria itu. Tapi nampaknya, yang ia pikirkan begitu mengganggu untuknya. Sesekali ia seperti hendak menangis atau menyesali diri. Tapi sedetik kemudian, ia memejamkan mata sejenak lalu membukanya lagi dengan pandangan berisi keyakinan.

Jongwoon memiringkan tubuhnya setelah sekian lama ia berposisi seperti tadi. Ia menatap jendela kamar dengan diam. Jendela kamar ini mendadak menjadi luapan rasa kegundahannya.

Kegiatannya itu tiba-tiba terhenti ketika suara ketukan pintu kamar terdengar dari luar.

Tok tok tok!

“Jongwoon-shii…”

Panggilan pelan dan terdengar ragu dari luar kamar membuat Jongwoon menoleh ke arah pintu. Tapi ia masih bergeming. Meskipun ia tahu siapa yang memanggilnya itu, Jongwoon nampaknya tidak peduli. Atau memang ia enggan untuk peduli meskipun sebenarnya peduli?

“Jongwoon-shii…”

Tidak ada sahutan dari Jongwoon. Pria itu malah mengangkat tubuh sedikit untuk duduk bersandar pada headboard ranjang.

“Aku masuk ya…”

Clak!

Jongwoon masih bergeming diam meskipun ia telah melihat siapa yang masuk. Shin Miwoo. Gadis itu menampakkan diri di hadapan Jongwoon dengan senyum cerianya dan tentunya, dengan membawa nampan berisi susu hangat.

Ketika Miwoo melangkah mendekati Jongwoon, pria itu tetap tenang memandangi Miwoo. Menurutnya, gadis ini terlihat manis dengan gaun terusan lengkap dengan celemeknya. Tanpa sadar, sudut bibir Jongwoon melengkung sedikit. Senyum simpul ia berikan untuk Miwoo sebagai sambutan.

Miwoo duduk di tepi ranjang dekat Jongwoon. “Susu hangat. Lumayan bisa membuat semangat di pagi hari,” ujar Miwoo menyodorkan pada Jongwoon. Pria itu tidak bergerak dan malah diam menatap Miwoo.

“Hei, kenapa diam saja? Ini ambillah… Panas tahu…,” keluh Miwoo sambil mengerucutkan bibirnya sebal karena Jongwoon tak kunjung mengambil gelas itu.

Jongwoon menarik sebelah sudut bibirnya membentuk smirk. Kemudian terdengar dengusan pelan darinya sambil menggeleng.

“Apa ada yang kau inginkan?” tanya Jongwoon terdengar seperti mengalihkan suasana. Miwoo mengerut bingung.

“Heuh?”

Jongwoon mengambil gelas dari tangan Miwoo lalu menarik sebelah tangan Miwoo yang bebas, yang tadi hanya ia sembunyikan di balik pungungnya sambil memegang nampan. Karena tarikan itu, Miwoo tertarik semakin mendekat dengan Jongwoon.

“Tanganmu memerah. Terkena panas? Hanya demi membuatkan susu hangat untukku?” tanya Jongwoon sambil melirik Miwoo dengan tatapan dalamnya. Seketika Miwoo tergagap canggung.

“Ah… Euh…”

“Aku juga terkesan karena kau masih ingat kalau aku menyukai rasa strawberi,” ujar Jongwoon singkat namun terdengar seperti menggoda. Ya, susu tersebut ternyata berasa strawberi. Kesukaan Jongwoon.

Miwoo mengerjap-ngerjapkan matanya mendapati wajah Jongwoon yang dekat di hadapannya. Apalagi, ia merasakan kehangatan cengkraman tangan Jongwoon di pergelangan tangannya kini. Lalu, sesekali jemari tangan Jongwoon mengusap pelan di sana.

Beragam kejadian yang serasa sama, ketika Jongwoon ada dalam jarak dekat dengannya, bahkan sangat dekat seperti kemarin, membuat Miwoo kembali menundukkan kepala lebih dalam sambil memegangi dadanya kikuk. Dan sialnya, gadis itu berakhir mengingat dekapan lembut pria itu kemarin malam.

Jongwoon menyesapi perlahan susu hangat itu sambil memandangi Miwoo yang sudah berwajah memerah dengan menunduk. Miwoo menarik-narik ujung rok terusannya atau sesekali mencengkeram erat celemeknya dengan sebelah tangannya. Sementara satu tangan Miwoo lainnya, tengah dicengkram erat Jongwoon.

Cukup lama Jongwoon terus memandangi Miwoo di hadapannya sambil meminum susunya. Sesekali ia tersenyum smirk saat melihat Miwoo yang takut-takut melihatnya.

“Nona Shin Miwoo…,” panggil Jongwoon. Miwoo terhenyak kaget namun ia tetap menoleh dengan kikuk ke arah Jongwoon.

“Ap…apa?”

“Kau sudah memutuskan setelah tahu apa tujuanku?”

Miwoo terdiam. Gadis itu terbegong memandang Jongwoon. Miwoo sedang menyusun keyakinan yang ia buat sekali lagi setelah ia memutuskan kemarin ia tidak mau pergi. Jongwoon, kini perlahan mengambil nampan yang dipegang Miwoo untuk meletakkan cangkir susu yang telah kosong karena susunya telah habis ia minum.

“Aku akan memberikanmu satu lagi kesempatan, Nona Shin Miwoo. Pergilah jika kau tidak mau mengikuti tujuanku…,” ujar Jongwoon dengan menatap langsung Miwoo.

“Ani. Aku tidak akan pergi,” jawab Miwoo tegas.

“Jika seandainya aku sangat berkaitan dengan pembunuh orang tuamu, lalu, keluargamu yaitu keluarga Kim yang menyebabkan semua peristiwa pembunuhan tersebut, apa yang akan kau lakukan pada kami?” tanya Jongwoon. Miwoo mengerutkan alis bingung. “Jika yang membunuh orang tuamu adalah ayahku, kau akan tetap berada di sisiku?”

Kosong. Miwoo merasa kosong. Nampaknya ucapan Jongwoon sungguh membuatnya syok. Entah apakah ia harus percaya apa yang diucapkan Jongwoon sekarang ini serius atau tidak, yang jelas Miwoo memang bingung. Bukankah kemarin pria itu mengatakan bahwa ayahnya tidak mungkin membunuh?

Tep!

Nampan dengan berisi cangkir kosong itu kini telah ada di atas kedua tangan Miwoo. Jongwoon tersenyum tipis.

“Kalau kau ingin membalas dendam, aku akan mendukungmu. Meskipun aku harus mati. Aku janji,” ucap Jongwoon tegas. Ia kemudian mengangkat tangannya merapikan rambut panjang Miwoo yang sedikit berantakan dengan jemarinya seperti menyisir. Terakhir, ia menyampirkan rambut gadis itu ke balik telinganya.

“Baiklah, kau boleh keluar sekarang. Aku ingin mengganti baju dan mandi,” ujar Jongwoon tersenyum smirk sambil menyentil ujung hidung Miwoo. Gadis itu tersentak kaget hingga menundukkan kepala gugup.

“Ka…Kalau begitu… Aku akan meneruskan masak,” putus Miwoo lalu dengan cepat beranjak. Ia melangkah terseret-seret seperti pinguin.

Gugup. Ya, Miwoo sangat gugup apalagi ia harus terus mengatur detak jantungnya yang selalu tidak karuan jika berinteraksi sedikit dengan Jongwoon. Gadis itu bahkan bisa merasakan efek merahnya wajahnya karena ia merasa panas saat Jongwoon memainkan rambutnya tadi.

“Gomawo, Miwoo-ah!”

Seruan Jongwoon seketika membuat Miwoo menghentikan langkahnya. Baru kali ini ia merasa panggilan itu terdengar berbeda. Sejak kemarin, Jongwoon memang memanggil Miwoo dengan nama lengkap, sapaan formal, atau diringi kata ‘nona’.

Perlahan-lahan, ia menoleh ke arah Jongwoon. Seketika, kaki Miwoo serasa melemas dan napasnya tercekat sesaat ketika melihat Jongwoon yang tengah tersenyum di sana. Kembali, Miwoo melihat sinar yang menyeruak di balik tubuh Jongwoon hingga membuat pria itu seperti sedang memancarkan cahaya suci.

“Aku… tidak sakit atau salah lihat kan?” gumam Miwoo sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang. Ia memandang sendu pintu kamar Jongwoon yang perlahan ia tutup sendiri. Gadis itu mengingat kembali apa yang terjadi kemarin malam.

Sebuah kemarahan Jongwoon padanya yang berakhir menjadi sebuah kenyamanan seperti biasa. Miwoo, hendak memastikan sendiri apa yang terjadi pada dirinya. Dan nampaknya, gadis itu kini mulai mengetahui penyebabnya. Mengapa, ia selalu gugup dan berdebar pada Jongwoon. Dan mengapa… ia begitu nyaman berada dalam dekapan pria itu kemarin…

***

Miwoo memperhatikan Jongwoon yang tengah menyuapkan makanan ke mulutnya. Gadis itu kembali tersenyum setelah melihat Jongwoon yang lahap menyantap makanan itu. Merasa diperhatikan, Jongwoon mendongak lalu bertanya pada Miwoo.

“Ada apa? Apa ada yang aneh?”

Miwoo dengan cepat menggeleng.

“Aniya. Gwencanayo… Lanjutkan saja makanmu,” jawab Miwoo dengan tersenyum.

“Ani. Katakan saja apa yang ingin kau tanyakan?” tegas Jongwoon.

Miwoo menundukkan kepalanya sambil menggigit bibir bawahnya. Ia tidak berani menatap Jongwoon kali ini, jadi ia memalingkan wajahnya menjauh dari Jongwoon. Tapi, ia melotot terkejut saat tiba-tiba tangan Jongwoon menarik dagunya hingga ia akhirnya menatap Jongwoon kembali.

“Apa yang ingin kau katakan?”

“Eum… Soal itu… Eum…,” ucap Miwoo terbata. Jongwoon memandang tenang ke arah Miwoo menunggu gadis itu mulai berbicara. “Ah, ani. Tidak jadi,” putus Miwoo kemudian menggeleng.

Jongwoon menyernyitkan alis sebentar. Namun, ketika ia hendak bertanya lebih lanjut, ponsel di atas meja sampingnya duduk bergetar. Jongwoon meraih ponsel itu lalu menyernyitkan alis ketika membacanya. Sedetik kemudian, ia meletakkan sumpitnya. Ia langsung beralih ke kamarnya.

Miwoo yang bingung, hanya memperhatikan Jongwoon berlalu. Tidak lama kemudian, pria itu keluar dengan penampilan berbeda. Jongwoon mengenakan t-shirt putih polos dengan blazer abu-abu gelapnya. Terlihat tampan.

“Miwoo-ah, hari ini kan kau libur. Jadi, aku seharian ini akan pergi ke luar menyelesaikan urusanku. Selama aku belum pulang, kau tetap di rumah. Jangan pergi kemanapun dan jangan biarkan siapapun mengunjungimu, ara?” jelas Jongwoon datar.

“Kenapa?” tanya Miwoo lalu bangun dari duduknya. “Kau belum menghabiskan sarapanmu?” lanjut Miwoo seperti memprotes.

“Aku sudah selesai. Aku harus pergi sekarang,” jawab Jongwoon acuh. Ia kemudian melangkah menuju pintu keluar. Jongwoon menghentikan langkahnya begitu mendengar lirihan Miwoo.

“Kenapa… Kau bisa pergi kemanapun sedang aku tidak boleh?”

Jongwoon terdiam memandang Miwoo dari jarak jauh. Perlahan ia mendekat sampai akhirnya berhadapan dengan Miwoo lagi. Gadis itu nampaknya tidak merasa takut kali ini. Miwoo tetap mendongak memandang Jongwoon yang memang lebih tinggi jauh darinya.

Jongwoon terdiam di hadapan Miwoo. Ia memiringkan sedikit kepalanya sambil terus menatap Miwoo penuh intimidasi. Kedua tangannya ia masukkan ke saku celananya.

“Kau tidak mengerti kenapa aku melarangmu keluar rumah…?” tanya Jongwoon. Miwoo menggidikkan bahu pelan. “Karena aku tidak berada di dekatmu.”

“Eh?” Miwoo mengerutkan alisnya. “Kalau begitu, kenapa aku tidak ikut saja? Aku pasti akan bosan jika di rumah saja,” keluh Miwoo mengerutkan bibir. Jongwoon menyunggingkan bibirnya.

“Aku tidak sedang ingin mengajakmu sekarang, Shin Miwoo,” ujar Jongwoon dengan penekanan.

“Kenapa?”

“Kenapa juga aku harus mengajakmu?” balas Jongwoon. Miwoo terdiam sejenak untuk berpikir. Lalu, ia mengembangkan senyumnya ketika mendapatkan alasan yang pas.

“Kau bodyguardku!” jawab Miwoo menghentak. Terdengar begitu egois.

Jongwoon berdecak. Ia memalingkan wajahnya sejenak untuk memikirkan alasan lagi agar Miwoo tidak memaksa. Jongwoon tahu gadis ini sedang ingin membujuk dirinya agar bisa ikut pergi. Jongwoon tentu saja tidak mau mengajak gadis itu. Tapi membiarkannya bebas dan tidak mau menurut tetap di rumah, sama saja membiarkan Miwoo dalam bahaya.

“Kau, tetap di rumah!” hentak Jongwoon.

“Tidak. Aku ikut atau kau yang tetap di sini tidak boleh pergi,” balas Miwoo berkacak pinggang. Jongwoon mulai geram. Ia langsung menarik lengan Miwoo mendekat hingga wajah mereka bahkan hanya berjarak beberapa senti saja. Miwoo terhenyak kaget dan ia menelan ludah mencoba menormalkan kembali napasnya yang tercekat.

“Kau, tetap, di rumah!” tegas Jongwoon melebarkan matanya. Pandangan Jongwoon yang menusuk manik mata Miwoo secara langsung, membuat gadis itu bergidik lalu langsung membeku. Jongwoon kemudian mendorong Miwoo. Meskipun pelan, tapi tetap membuat Miwoo terhuyung dalam berdirinya. Jongwoon langsung mengambil langkah besar untuk pergi. Tapi, lagi-lagi Jongwoon harus berhenti ketika Miwoo melemparkan bantal sofa mengenai kepala Jongwoon.

Pluk!

“Kau mau terus membuatku mati apa?”

Jongwoon memejamkan mata mencoba mngendalikan emosinya. Sedetik kemudian, ia berbalik ingin marah. “Ya…” Tapi ucapan Jongwoon terhenti ketika melihat ekspresi wajah Miwoo.

“Kenapa kau selalu mendekatkan wajahmu ke wajahku sih? Kau tidak tahu apa kalau aku selalu tidak bisa bernapas dengan baik saat itu? Ah… Aduhhh…,” keluh Miwoo lalu melemas duduk ke lantai. Gadis itu langsung mengibas-ngibaskan wajahnya yang memerah dan sempat berkeringat dingin tadi dengan telapak tangannya.

Jongwoon terbengong diam melihat reaksi Miwoo. Ia bukan pria bodoh yang tidak mengerti apa yang dimaksudkan Miwoo. Tanpa sadar dadanya ikut berdegup kencang dan ia menelan ludah pahitnya sendiri. Miwoo yang terduduk di lantai di hadapannya kini, masih berusaha mengambil napas dalam dan menghirupnya kuat.

Jongwoon memutar mata berpikir. Ia tidak habis pikir dengan kenyataan di hadapannya, seorang gadis yang sangat polos dan suci. Shin Miwoo, tidak mengerti tentang apa yang diucapkannya barusan menandakan isyarat ketertarikan gadis itu pada Jongwoon. Namun, Jongwoon memilih tidak menggubris. Ia langsung menarik napas dalam, lalu berbalik begitu saja meninggalkan Miwoo.

Brak!

Miwoo menganga tidak percaya dengan kepergian Jongwoon. Ia kembali menelan ludahnya dengan gugup. Rasa sesak tadi, sekarang menjadi kekesalan yang membuatnya mengerucutkan bibir sebal.

“Menyebalkan!” kesal Miwoo. Gadis itu refleks mengambil bantal tadi dan melemparkannya lagi ke arah pintu.

***

Jongwoon melangkahkan kakinya dengan cepat. Ia memasuki cafe es krim dekat rumahnya. Ia langsung mendapati seseorang yang ia cari di salah satu meja dekat kasir. Jongwoon membungkuk untuk menyapa orang tersebut setelah sampai dekat meja tersebut. Orang itu langsung berdiri setelah menadari kehadiran Jongwoon.

“Maaf membuatmu menunggu, Tuan Han Woon.”

“Gwencana. Aku tidak terlalu lama menunggu kok,” balas Han Woon, nama orang tersebut. Han Woon kemudian mempersilahkan Jongwoon duduk di hadapannya.

Setelah Jongwoon duduk, Han Woon merogoh tasnya. Ia mengambilkan sebuah buku yang nampak seperti agenda harian yang cukup tebal.

“Aku mendapatkan informasi dari catatan ini. Di sinilah, tuan Kim Sang Ahn mencatat apa yang menjadi kegiatannya. Dan aku menemukan beberapa catatan yang berkaitan dengan ayahmu Kim Jin Ahn, Jongwoon-shii,” jelas Han Woon langsung. Ia langsung menyerahkan buku agenda itu pada Jongwoon.

Jongwoon meraihnya tanpa ragu. Ia langsung membuka-buka isinya untuk ia baca beberapa bagian secara asal.

“Aku mengambilnya diam-diam. Catatan itu tersimpan di lemari besi milik Tuan Sang Ahn yang kuncinya kebetulan mendiang ayahku memilikinya.”

“Terima kasih atas usahamu, Tuan Han Woon.” Jongwoon menutup agenda itu karena memutuskan hendak membacanya serius di rumah. Ia merasa harus segera pergi beranjak sekarang. Entahlah, sebagian firasatnya menyatakan sesuatu yang buruk akan terjadi jika ia terlalu lama pergi.

“Aku sudah membaca keseluruhannya,” ujar Han Woon yang seketika menghentikan niatan Jongwoon beranjak. Ia mulai merilekskan kembali duduknya lalu memutuskan menatap serius Han Woon.

“Aku dapat mengambil kesimpulan berkaitan dengan Kim Jin Ahn. Dalam beberapa kalimat yang ditulis Tuan besar di sana, ada kalimat yang menyatakan ketidakberdayaan Tuan besar. Seperti mengetahui sebuah kenyataan namun ia tidak bisa berbuat apapun untuk mencegahnya. Lalu, di catatan pada tanggal ini,” jelas Han Woon sambil membalikkan halaman demi halaman untuk menunjukkan pada Jongwoon sebuah tulisan itu. “Ini adalah penjelasannya.”

Jongwoon membaca tulisan itu dalam diam. Sedetik kemudian, ia melebarkan matanya terkejut.

Samyoon akan mati. Aku tidak bisa berbuat apapun untuk keponakanku itu. Bagaimana bisa aku selemah ini? Tuhan, aku mohon bukakan pintu hati Jin Ahn agar membatalkan niatan membunuh Samyoon. Mereka orang baik. Dan akan sangat baik padaku. Shin Ah Hyun… Maafkan aku! Aku tidak bisa menolongmu.

“Aku sungguh tidak pernah menyangka kenyataan ini, Jongwoon-shii. Sebenarnya entah mengapa aku jadi sangat membencimu karena perbuatan ayahmu itu. Tapi, mengingat kau kemarin menceritakan bahwa ayahmu tewas terbunuh saat masih menjadi kaki tangan keluarga Kim, aku merasa harus menemukan kebenaran. Meskipun sebenarnya, ada dua kemungkinan yang menjadi keyakinanku. Pertama, pembunuhan Ayahmu sama sekali tidak ada kaitannya dengan keluarga Kim dan Shin, kedua, aku sungguh tidak percaya jika ternyata pembunuhan Ayahmu adalah salah satu kenyataan pembalasan dendam antar keluarga Kim dan keluarga Shin yang menjadi masalah saat itu sampai tidak satupun keturunan mereka mengetahui.”

“Kau benar. Aku juga mengira ini adalah pembalasan dendam antar keluarga Shin dan keluarga Kim. Tapi… aku sama sekali masih tidak terima jika kau menyatakan kematian Ayahku tidak ada kaitannya dengan permasalahan dua keluarga itu,” ujar Jongwoon. Ia langsung menatap tajam mata Han Woon.

“Maafkan aku Jongwoon-shii. Apa dalam kasus kematian kedua orang tua Anda, polisi tidak menetapkan tersangka? Aku sama sekali tidak mengingat bahwa salah satu keluarga Kim atau keluarga Shin melakukan pembunuhan terhadap Kim Jin Ahn. Akan sangat aneh jika pelaku pembunuhan setragis peristiwa pembunuhan kedua orang tuamu itu, tidak mendapat penyelesaian dari kepolisian. Maksud saya, bukankah aneh jika kasus kematian karena pembunuhan tidak mendapatkan penyelesaian dan hukuman untuk-”

“Pelaku pembunuhan kedua orang tuaku sudah mati. Ia mati di penjara dalam menjalani hukumannya,” sahut Jongwoon cepat. Ia sama sekali tidak melihat ke arah Han Woon saat menyela ucapan pria tersebut.

“Maksudnya, ternyata pelaku pembunuhan kedua orang tua Anda telah dihukum?” tanya Han Woon bingung. Ia mempertanyakan satu hal, jika memang pelakunya telah dihukum, untuk apa Jongwoon mencari tahu lagi kebenaran kasus kematian kedua orang tuanya itu? Apa lagi yang hendak ia cari?

“Orang yang membunuhnya memang telah mati. Tapi, seseorang yang sebenarnya dibalik permasalahan ini semua berawal, masih belum dapat aku ketahui. Dan aku yakin, ini semua ada kaitannya dengan keluarga Shin Ah Hyun,” ujar Jongwoon. “Atau mungkin… keluarga Kim,” lanjut Jongwoon lirih.

Matanya nampak memandang tidak fokus. Tapi tatapan itu sangat mengintimidasi seolah menyiratkan ribuan kesakitan dan emosi yang tertahan lama di sana. Sebuah dendam. Han Woon mengangakan mulutnya bingung. Ia hanya bisa diam memandang Jongwoon seperti sedang mencari misteri dalam ekspresi kepedihan yang ditampakkan Jongwoon.

Drekk.

Jongwoon dan Han Woon terhenyak kaget. Suara tadi menginterupsi ketegangan dan keseriusan mereka. Saat mereka berdua menoleh ke samping, mereka mendapati seorang pria tengah membungkukkan badan ke semua orang termasuk ke Jongwoon dan Han Woon. Pria itu barusan menubruk sebuah kursi. Kursi itu terdorong jauh sampai terdengar bunyi decitan kencang karena restauran ini memang cukup sepi. Tidak mau menghiraukan urusan orang lain yang mengapa bisa menubruk kursi itu, Jongwoon memilih melanjutkan ceritanya. Han Woon kembali mendengarkan. Mereka tidak tahu, sebenarnya pria itu kini sudah duduk di samping meja mereka berdua. Entah apakah terdengar atau tidak percakapan mereka nanti.

 “Pelaku itu, diperintahkan untuk membunuh Ayahku. Aku yakin itu. Karena… Aku tahu Ayahku tidak akan membunuh siapapun,” ujar Jongwoon lirih. “Aku menyaksikan itu, Tuan Han Woon. Pekerjaan yang datang ditawarkan pada Ayahku hingga akhirnya aku melihat Ayah yang malah dibunuh. Keluarga Kim, yang memerintahkan pekerjaan pada Ayahku itu. Membunuh seseorang yang berkaitan dengan nama Shin Ah Hyun,” jelas Jongwoon dengan mata yang memandang kosong.

“Aku sudah tahu sejak kemarin. Nona Shin Miwoo… Ternyata, orang tuanya lah yang menjadi sasaran pembunuhan yang harus dilakukan Ayahku,” ujar Jongwoon lirih. Tuan Han Woon melebarkan matanya terkejut.

“Anda…sudah mengetahuinya?”

“Ya. Nona Shin Miwoo-lah yang mengatakannya sendiri soal kematian orang tuanya. Meskipun sebenarnya, ia tidak mengatakan langsung kalau Ayahku yang membunuh. Tapi aku mengetahui jelas bahwa Ayahku memang ditugaskan membunuh orang tuanya, Shin Samyoon dan istrinya.”

“Sebentar. Anda mengatakan nona Shin Miwoo yang mengatakan? Apa yang dikatakan? Dan, bagaimana bisa mengatakannya? Bukankah nona…,” ujar Han Woon tertahan. Sedetik kemudian ia mengangakan mulutnya tidak percaya.

“Tuan Han Woon…,” panggil Jongwoon lirih. Pria itu langsung menatap mata Han Woon dengan serius. “Jika melihat Shin Miwoo baik-baik saja bersamaku, apa kau nanti akan percaya padaku?”

“Jongwoon-shii…,” ujar Han Woon tertahan. Han Woon sama sekali tidak menduga bahwa gadis yang ia cari, nona mudanya, Shin Miwoo, ternyata tengah bersama Jongwoon.

“Ya, Shin Miwoo ada bersamaku.”

***

Another Kim Family’s Home

Jaejoong mengetuk-ngetukkan jemarinya pada permukaan meja. Terdengar bunyi ketukan itu mengisi keheningan. Jaejoong bosan. Ia merasa berulang kali menyesal memilih menunggu. Tapi, ia tetap memilih itu karena memang ia menginginkan sesegera mungkin rasa penasarannya terungkap.

Trak!

Pintu terbuka. Pria paruh baya menghampiri Jaejoong. Ia langsung bangun dari duduknya untuk menyambut seseorang itu yang memang sengaja hendak ia temui.

“Samchon!” panggil Jaejoong. Ia langsung membungkuk hormat begitu pria paruh baya tersebut di hadapannya.

Pria paruh baya itu membalas senyum simpul. Tidak lama kemudian, Jaejoong mendongak dan melihat pamannya itu dengan tersenyum, seolah sedang puas melihat keadaan pamannya di hadapannya yang terlihat baik.

“Apa kabar keponakanku?”

“Paman Hyun Sang. Aku baik-baik saja. Aku senang bisa melihat paman lagi setelah sekian lama tidak bertemu.”

***

Jaejoong menyesapi minuman dalam cangkirnya dengan intens. Ia kemudian mendongak pada pria paruh baya di hadapanya, Hyun Sang. Jaejoong tersenyum. Baginya, ketika melihat Hyun Sang, ia seperti melihat sosok ayahnya meskipun dengan sifat berbeda. Ya, Hyun Sang adalah saudara kembar ayah Jaejoong, Hyeong Sang.

“Ada apa kau ke sini, Jaejoong-ah?” tanya Hyun Sang memulai.

“Sebenarnya… Selain aku memang ingin mengunjungi Samchon, aku juga ingin menanyakan beberapa hal. Tapi mungkin aku tidak memaksa banyak. Aku tahu Samchon pasti tidak suka membahas ini. Tapi…aku sungguh ingin tahu,” ujar Jaejoong.

“Katakanlah yang jelas Jaejoong-ie. Kau tidak usah ragu. Apapun yang ingin kau tanyakan dariku aku pastikan akan menjawabnya semua yang aku tahu,” balas Hyun Sang dengan tersenyum. Jaejoong menundukkan wajah dengan mengerutkan alis. Nampaknya pria ini masih ragu dengan keputusannya menanyakan masalah tersebut pada pamannya.

Sebenarnya ini berkaitan dengan permasalahan keluarga mereka yang pernah terjadi beberapa tahun lalu. Ayah Jaejoong dan Hyun Sang memang saudara kembar. Tapi, hubungan saudara mereka sempat merenggang semenjak kematian kakek Jaejoong. Kematian kakek Jaejoong memang memicu masalah kerenggangan tersebut. Apalagi ketika pembagian hak waris dinyatakan. Hyun Sang, sepengetahuan Jaejoong, pergi meninggalkan rumah keluarga besar Kim.

Tapi meskipun begitu, rupanya Jaejoong masih sering berkomunikasi dengan pamannya ini. Tentu saja, ketika ia kecil hingga sekarang, Jaejoong cukup dekat dengan pamannya itu. Bahkan ketika datang permasalahan berkaitan dengan perusahaan, Jaejoong tidak ragu bercerita lewat telepon dengan pamannya itu.

“Samchon… Apakah Samchon tahu bagaimana bisa perusahaan milik keluarga kakek Shin bisa menjadi milik kakek Kim?” tanya Jaejoong serius.

Sejenak diam. Jaejoong menelan ludah gugup saat Hyun Sang di hadapannya, tidak mengatakan apapun. Cukup lama Hyun Sang terdiam sampai akhirnya membuka mulutnya.

“Ah Hyun Samchon, ia memberikan hak warisnya pada Appa karena memang Ah Hyun Samchon sangat dekat dengan Appa. Ah Hyun Samchon melakukan itu karena putra tunggalnya pergi dari rumah. Setelah berusaha mencari, ternyata ditemukan bahwa putranya itu tewas dibunuh. Ah Hyun Samchon sempat mengalami sakit panjang akibat berita kematian putranya itu. Appa, akhirnya menemani Ah Hyun Samchon sampai ia menghembuskan napas terakhirnya,” jelas Hyun Sang.

“Putra tunggal Shin Ah Hyun, apakah Shin Samyoon?” tanya Jaejoong memastikan.

“Ya. Aku masih ingat saat-saat dahulu aku, hyung, dan Samyoon bermain bersama. Kami senang sekali bermain bola salju saat liburan sekolah dulu,” ujar Hyun Sang sambil tersenyum-senyum. Matanya nampak menerawang.

“Lalu, sekarang Appa memang ingin mengembalikan hak waris itu pada keturunannya Shin Ah Hyun kan, Samchon? Apa itu salah satu pesan dari Harabeoji?”

Hyun Sang menoleh lalu menatap tajam Jaejoong. “Tidak ada yang menyuruh mengembalikan hak waris itu, Jaejoong-ie. Itu hanya kerjaan konyol Ayahmu!”

Jaejoong terdiam memandang pamannya itu. Ia memang sudah tahu alasan dibalik pamannya yang memilih menjauhkan dirinya dari ayahnya. Soal pertengkaran itu. Masalah hak waris yang seluruhnya menjadi wewenang Hyeong Sang. Jaejoong sebenarnya tahu bahwa pamannya ini bukan membenci ayahnya karena ia tidak mendapat warisan itu. Tapi, sama seperti ibunya, Hyun Sang tidak suka dengan ide konyol Hyeong Sang yang ingin melimpahkan keseluruhan hak waris pada keturunan Shin Ah Hyun. Bukankah perusahaan ini dipertahankan atas usaha keluarga Kim juga selama ini? Tidak ada yang salah kan? Shin Ah Hyun, telah memberikan hak warisnya secara sah pada Kim Sang Ahn, kakek Jaejoong.

“Hyeong Sang itu sungguh bodoh. Aku tidak habis pikir dengan keputusannya. Apa ia tidak memikirkan bagaimana keluarganya nanti? Bagaimana denganmu? Bagaimana dengan  kakak-kakakmu, Jang Ri dan Rin Na? Aish!!”

Jaejoong terdiam. Ia memilih mendengarkan saja umpatan kesal pamannya terhadap ayahnya.

“Aku sudah banyak mengalah padanya. Ya, aku bahkan membiarkan ia menikah dengan mantan kekasihku, Min Ran. Aku tidak habis pikir dengannya! Tidakkah ia memikirkan keadaan orang lain di saat seperti ini? Kekeras-kepalaannya itu perlu diperiksa lebih lanjut! Benar-benar sudah gila!” umpat Hyun Sang lagi dengan gerakan-gerakan sebagai ekspresi kesalnya.

Hyun Sang menarik napas tersengal-sengalnya akibat umpatan kesalnya tadi. Jaejoong hanya terdiam menatap pamannya itu. Beberapa lama keheningan itu terjadi, pada akhirnya Jaejoong memilih untuk mengutarakan pemikirannya sejak awal. Awalnya ia sempat ragu mengatakannya. Tapi akhirnya, setelah mengepalkan tangan kuat, ia mendongak langsung ke arah pamannya.

“Samchon, kau juga tidak setuju dengan keputusan Appa sama seperti Ibu dan kami. Karena itu, bisakah Samchon membantu kami?” tawar Jaejoong.

Hyun Sang memang cukup terkejut sesaat. Baru kali ini ia rasa melihat keponakannya yang sangat penurut pada ayahnya, bisa memilih keputusan membangkang. Tapi setelah itu, ia tersenyum tipis.

“Itulah yang aku harapkan darimu, Jaejoong-ie. Kau satu-satunya yang mungkin bisa mengubah pemikiran konyol Ayahmu. Paman dengan senang hati membantu,” ujar Hyun Sang.

***

            Jaejoong menekan tombol play musik dari mp3 playernya. Lalu, earphone yang menghubungkan ke mp3 playernya, ia pasang segera di telinganya. Gerakan kepala santai menandakan bahwa ia sudah menikmati lagu yang diputar itu. Sambil menyetir mobil, Jaejoong berniat kembali ke kantor untuk meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda.

            Saat Jaejoong berhenti sejenak lampu merah, Jaejoong tertegun sejenak ketika melihat pantulan sosok seorang gadis dari kaca spion kanannya. Seorang gadis yang perlahan-lahan terlihat semakin jelas karena terus mendekat ke mobil miliknya. Sampai gadis itu berlalu dari mobil Jaejoong, pria itu masih terbengong syok.

            Tiinnn!!!

Suara klakson mobil yang sangat kencang membuat Jaejoong tersadar dari bengongnya. Pria itu terpaksa menginjak pedal gas yang sepertinya ia hendak kembali menjalankan mobilnya. Tapi, ternyata, setelah menikung tidak jauh dari sana, Jaejoong malah sengaja berhenti di samping halte yang tentunya memang tempat pemberhentian. Pria itu dengan terburu-buru keluar mobil dan berlari. ya, ia berlari kembali ke jalan tadi.

Setelah ia berbelok kembali ke jalan tadi, Jaejoong melihat gadis tadi memasuki sebuah toko bahan-bahan kue. Tanpa banyak berpikir, Jaejoong berlari ke toko tersebut. Jaejoong memutar pandangan ke sekeliling toko tepat setelah ia masuk ke dalam. Sambil terus berjalan mengitari rak-rak besar yang tentunya berisi beragam macam bahan kue mulai dari tepung, gula, cokelat, dan pernak-pernik warna-warni dari gula yang biasa digunakan sebagai hiasan kue.

Jaejoong melewati dua rak. Tapi, langkahnya terhenti dan ia kembali berjalan mundur dua langkah setelah itu. Terdiam. Pria itu terdiam sambil menatap ke samping, tepatnya ke arah seorang gadis yang kini tengah mengedarkan pandangan riang ke rak berisi pewarna dan cokelat butiran hiasan kue.

Jaejoong melangkah perlahan mendekati gadis itu. Dan tepat ketika ia telah berhenti di samping gadis tersebut, gadis itu menoleh ke arah Jaejoong. Sejenak diam. Mereka berdua saling menatap. Akan tetapi, berbeda. Gadis itu nampak terkejut dengan mata membesar, sedangkan Jaejoong memincingkan mata.

“Shin Miwoo-shii… Akhirnya aku menemukanmu!”

TBC