24394_382633379379_64289514379_3540870_6679672_n

Author: a.k.a Rahina Lollidela (@ScarecrowRahina) || Genre: Sad, Romance || Length: OneShot || Rating: PG-13 || Casts: Choi Seunghyun (BIGBANG’s TOP), Park Bom (2NE1′s Bom), Narimiya Hiroki

Disclaimer: Cerita ini adalah hasil karangan murni author, jika menemukan adanya plagiarisme, harap mention @scarecrowrahina via twitter, atau tinggalkan komentar pada postingan ini. Don’t be a silent reader!

Note: Ini merupakan sequel dari ‘Bertemu Lagi‘ yang merupakan sequel dari ‘Pergi‘. Sebenarnya author bingung, lengthnya apa sih?😄 Mau dibilang One Shot, tapi sequelnya kok sampai dua? Mau dibilang continue, kok sudah terlanjur ya? Haha😄 Jadi biarlah begini saja. Ada yang tahu Narimiya Hiroki? Yang suka J-Dorama pasti tahu. Hiroki ini adalah yang berperan jadi J di Bloody Monday. Ingat? ^^ Oh, iya. Author harap gak ada silent readers  u,u Walau gak tahu siapa aja, tapi author tahu loh berapa yang baca dan berapa yang meninggalkan jejak😄 SO, don’t be a silent readers, ok? Selamat membaca! ^^

Park Bom POV

Chaerin. Setelah urusanku di Jepang selesai, aku akan langsung ke Seoul untuk membunuhnya. Bagaimana dia bisa memberitahukan alamat apartemenku pada Seunghyun sehingga sekarang laki-laki itu sedang menungguku berganti baju di ruang tamu? Berkali-kali aku sudah bilang, aku tidak ingin Seunghyun terlalu melekat padaku. Aku tidak akan bisa menjamin aku akan selamanya mendampinginya? Aku hanya akan merepotkannya.

“Chaerin, kau gila? Laki-laki itu sekarang ada di ruang tamuku. Bagaimana kau akan bertanggung jawab, ha?” protesku pada Chaerin dengan agak berbisik melalui sambungan ponsel.

“Unni, kita perjelas saja semuanya. Kita sama-sama tahu kalau kau… kalau kau… mungkin tak lama lagi akan pergi. Aku hanya ingin akhir bahagia di hidupmu. Itu saja.”

“Chaerin, begini, eum…, oke, aku memang akan mati dalam waktu dekat bahkan mungkin besok, aku tidak bisa membiarkan Seunghyun terlalu lekat dan kehilangan.”

“Unni, sadarlah! Kau pikir mana yang lebih sakit? Dia menciummu untuk terakhir kali sebelum akhirnya ditinggal untuk selama-lamanya atau dia sama sekali tak tahu kabarmu dan tiba-tiba kutelepon dan kuberitahu kalau kau sudah pergi? KIta sudah sering membicarakan kematian sampai kita melupakan dalam keadaan apa kita berakhir nantinya. Dan dokter sudah meramalkan kalau kau mengidap leukemia sejak tiga tahun lalu, aku hanya ingin akhir yang bahagia untukmu.”

“Tapi, Chaerin-“

“Unni, terkadang kita harus menjadi egois untuk mendapat akhir yang bahagia.”

Dan kalimat itu membuatku terdiam cukup lama, bahkan ketika Chaerin mulai memanggil-manggil namaku.

“Unni, kau sudah mati?”

Pertanyaan itu lah yang menyadarkanku. Miris. Sejak tiga tahun yang lalu aku, Chaerin, Jiyong, Dongwook, bahkan Yulia, kami mulai menimang-nimang kapan aku akan mati. Kami mulai mencoba menerima segalanya. Kami mulai terbiasa dengan hal-hal mengejutkan. Setiap kami terbangun, pertanyaan yang sama pasti akan muncul di otak kami. Apa Park Bom mati hari ini? Pada kenyataannya aku bertahan hingga tiga tahun dengan tubuh sekuat ini. Ah, justru kata dokter jika tubuhku masih sekuat ini, kematianku nanti akan sangat tiba-tiba. Dan aku yakin, kami tak akan terkejut jika suatu hari nanti aku mati, karena kami sudah mencoba untuk terbiasa.

“B… Belum. Chaerin, apa yang harus kulakukan tentang Seunghyun?” tanyaku, mencoba menyeka air mata yang mulai terdorong di tepi mata.

“Berkencanlah seperti tak ada apa-apa yang terjadi. Kumohon. Aku akan menelepon Dongwook dan menjelaskan semuanya. Dia pasti mengerti.”

Dan sambungan diputus.

“Sayang, Seunghyun sudah lama menunggu. Kau sudah selesai?”

Kulihat siluet Dongwook di cermin sedang melangkah menghampiriku. Kuat lah, Park Bom. Jangan menangis.

“Aku sudah selesai. Mungkin nanti aku akan pulang malam karena, yah…, kami penggila belanja. Tidak apa-apa, ‘kan?”

Dongwook tersenyum. “Tentu saja. Aku pun sebenarnya akan menemui temanku hari ini. Bersenang-senang lah.”

Kubalas senyumannya dengan satu kecupan di bibir sebelum akhirnya mengambil tas tangan dan pergi. Aku siap.

***

Author POV

“Dia… kekasihmu?”

“Eum… iya.”

“Oh…”

Sejoli itu duduk berhadapan ditemani dua cangkir caramel macchiato dan satu kotak macarons di meja sebuah kafe yang dulu sering mereka kunjungi jika ke Jepang.

Park Bom mengedarkan pandangannya dan tersenyum ketika mendapati kafe ini sama sekali tak berubah sejak terakhir kali mereka berkunjung. Ia hanya mendapati ada beberapa pelayan yang diganti. Mungkin karena ada beberapa yang dulu sudah cukup tua, pikirnya.

“Kau memikirkan sesuatu?”

Park Bom mengerjapkan matanya dan menatap Seunghyun. Laki-laki itu tampak mengangkat kedua alis; menunggu jawaban dari pertanyaan yang tadi ia ajukan dengan santai.

“Ah, iya.”

“Aku boleh tahu apa itu?”

Park Bom terdiam sejenak; berpikir sebelum akhirnya menyesap caramel macchiatonya yang sedari tadi belum disentuh. Wanita berambut pirang kecoklatan itu kembali mengedarkan pandangan dan tersenyum. “Kafe ini belum banyak berubah.”

Seunghyun yang mendengar pernyataan itu tampak terpaku sejenak, mungkin karena Park Bom mengucapkannya seolah tak terjadi apa-apa. Yah, memang begitu yang Park Bom maksudkan. Tak terjadi apa-apa.

“Benarkah?” Seunghyun ikut mengedarkan pandangannya. “Ya, tapi beberapa pelayan sudah diganti. Kira-kira kenapa?”

Park Bom mengernyitkan dahinya; melebih-lebihkan tingkah kalau ia sedang berpikir. “Memang sepantasnya begitu. Aku masih ingat ketika dulu ada yang menumpahkan kopi ke sepatuku. Kau ingat? Itu sepatu Alexander Wang yang kubeli jauh-jauh di London Fashion Week.”

Seunghyun terkekeh. “Menurutmu begitu? Coba kau tengok ke kananmu, kau ingat dia?”

“Siapa?” Park Bom menolehkan kepalanya seperti yang Seunghyun pinta dan woola! Pelayan yang dulu menumpahkan kopi ke sepatunya tampak sibuk menyiapkan pesanan. Belum dipecat.

“Jadi, tebakanmu salah, Nona,” ejek Seunghyun seraya menggelengkan kepalanya. Merasa menang, mungkin.

“Memangnya apa tebakanmu? Ayo, katakan! Kita akan lihat apa tebakanmu itu benar.” Park Bom menantang.

Seunghyun menarik sudut kanan bibirnya seraya menyandarkan punggung pada kursi kafe. “Eum… menurutku, karena beberapa dari mereka sudah tua. Apa aku benar?”

Park Bom memundurkan badannya; menyadari bahwa tebakan Seunghyun sama seperti pikirannya di awal tadi. “Kau punya bukti?” Wanita itu kembali mengajukan badan seraya melipat kedua tangan di depan dada.

Seunghyun kembali mengedarkan pandangannya sebelum akhirnya kembali melihat ke depan. “Coba saja kau cari pria tua yang dulu menyuruh kita masuk saat hujan walau kafe sudah tutup! Ada?”

Park Bom berdiri; membuat Seunghyun mendongakkan kepala dan menebak-nebak tingkah bodoh apa yang akan dilakukan wanita ini. Tampak Park Bom hanya memutarkan badannya ke kanan, kiri, hingga belakang, sebelum akhirnya kembali duduk.

Well, tidak ada, tapi itu tidak cukup untuk dijadikan bukti, Choi Seunghyun.”

“Kalau begitu, coba cari wanita tua yang dulu memberi waffle gratis untuk kita! Ada?”

Park Bom kembali mencari-cari sebelum akhirnya menatap Seunghyun dan menggeleng.

“Nah, aku benar, ‘kan?”

Park Bom mendecak kesal seraya memandangi wajah angkuh Seunghyun di hadapannya. “Aku belum menyerah, jadi kau belum menang.”

“Oh, kalian kembali lagi.”

Dua makhluk Tuhan itu segera menolehkan kepala ketika sebuah suara familiar berbahasa Korea kurang fasih terdengar. Laki-laki berwajah oriental itu tersenyum lebar membentuk bulan sabit pada mata sipitnya.

“Eum… Hiroki-san?” Park Bom berusaha menebak-nebak sosok laki-laki berambut coklat itu.

“Ya, kau benar, Bom-chan.

Park Bom segera berdiri, tersenyum lebar, hingga kedua lengannya itu menarik dan memeluk pundak Hiroki dengan begitu erat. “Aitai! (Aku merindukanmu)”

“Ah, Bom-chan, tolong lepaskan pelukanmu. Aku takut pada Seunghyun Senpai.”

Park Bom segera melepaskan pelukannya. “Maaf,” ucapnya sebelum menyempatkan diri untuk mengintip Seunghyun yang tampak… cemburu.

“Ayo, duduk dengan kami!” ajak Seunghyun seraya menunjuk kursi kosong di meja yang sama.

Hiroki Narimiya adalah pelayan di kafe itu yang cukup akrab dengan mereka. Dulu Park Bom dan Seunghyun sering memberi tumpangan kepada Hiroki jika pulang dari bekerja. Pada kenyataannya, Seunghyun selalu merasa kesal jika sudah bertemu dengan laki-laki lugu yang semakin dewasa ini. Park Bom selalu akrab bahkan tak segan memeluk Hiroki karena baginya anak itu lucu, bagi Seunghyun, Hiroki adalah biang cemburu.

“Aku kira kalian tidak akan datang lagi. Terakhir kali Bom-chan ke sini adalah dua tahun yang lalu dengan teman laki-lakinya. Dongwook Senpai, bukan?”

Park Bom mengangguk. “Kau sudah tumbuh besar, ya?”

“Ah, begitulah.”

“Bagaimana dengan adik-adikmu? Sekolah mereka lancar?” kini Seunghyun yang bertanya.

“Ah, syukurlah, mereka semua mendapat beasiswa. Aku tidak tahu bagaimana bisa mereka jadi sepintar itu.”

Park Bom membulatkan matanya; bangga pada sosok yang dianggapnya saudara ini. “Benarkah? Hebat!”

“Bagaimana hubungan kalian?”

DEG. Sejoli itu saling memandang; bingung harus bagaimana. Mereka sudah putus, tapi bertindak seperti tak terjadi apa-apa. Seunghyun sendiri bingung mengenai status mereka sekarang di mata Park Bom.

“Kami? Lancar-lancar saja.”

Seunghyun mengernyitkan dahi ketika mendengar Park Bom menjawab pertanyaan itu dengan begitu santai. Biar lah, Seunghyun.

“Hiroki-san, ada beberapa pelayan yang diganti di sini. Kenapa?” Seunghyun menaikkan alisnya seraya sedikit melirik Park Bom yang cukup tertantang untuk kembali memulai perdebatan.

“Oh, kalian cukup mengamati, ya? Mereka memutuskan untuk mengundurkan diri karena ingin menghabiskan waktu dengan cucu-cucu mereka.”

“Nah, aku menang!” Seunghyun melonjak senang sementara Park Bom tetap tak terima.

“Hei, kata siapa kau menang, ha? Kau bilang, mereka tidak lagi di sini karena sudah tua. Hiroki bilang, mereka ingin menghabiskan waktu dengan cucu. Pernyataanmu itu meleset, Seunghyun.”

Seunghyun mendecak. “Kau ini tidak bisa menghubungkan dua kalimat berbeda, ya? Sampai kapan kau akan bodoh, Bommie?”

“Kau bilang aku bodoh, ha?”

“Ya, kau bodoh. B.O.D.O.H! Puas?”

“Hei, Choi Seunghyun!”

“Apa, Nona Bodoh?”

“Hei!”

Hiroki hanya bisa mengernyitkan dahi mengamati sejoli itu bertengkar. “Kalian masih sama, ya? Haha.”

***

Park Bom POV

Jam menunjukkan pukul delapan malam ketika langkah demi langkah kami ambil di jalan setapak antara dua taman terpisah yang menggiring kami ke gedung apartemenku. Kira-kira satu jam setelah kurasakan denyut tak nyaman di kepalaku kembali muncul. Tak terlalu parah, nyatanya aku masih hidup sampai sekarang.

“Terimakasih.”

Kata itu kudengar dari mulut Seunghyun dengan begitu damai dan sendu. Suaranya itu… sangat kurindukan.

“Untuk apa?” tanyaku.

“Karenamu, hariku jadi lebih baik hari ini.”

Kurasakan darahku mulai berdesir. Laki-laki ini. Bisa-bisanya dia mengatakan hal-hal manis sesuka hati.

“Ah, bukan apa-apa. Aku justru bisa tertawa lepas karena hari ini.”

“Sungguh?”

Kurasa langkah kakinya mulai berhenti hingga aku pun ikut berhenti. “Kenapa berhenti?”

“Kau bisa tertawa lepas karena aku?”

Ya, Tuhan, mengingat sifatnya ini membuatku ingin terus hidup dan bersamanya. “Kau ini bicara apa? Ada-ada saja,” gurauku seraya melanjutkan langkah.

“Aku bersungguh-sungguh, Bommie.”

Bommie. Seharian ini panggilan sayang itu terus kudengar dari mulutnya. Bommie, Bommie, Bommie. Ucapkan lagi, Seunghyun. Ucapkan lagi untukku.

“Ya, ya, ya.” Terus kulangkahkan kakiku meninggalkannya yang tak kunjung bergerak dari belakang sana.

“Bommie, kau masih mencintaiku?”

DEG. Bodoh. Pertanyaan macam apa itu? Dia pikir dia siapa berani menanyakan hal itu? Mantan kekasihku. Ya, mantan.

Sebisa mungkin kuteruskan langkahku, tak peduli pada suara seksinya yang terus memanggil. Tidak, Park Bom. Jangan berbalik.

“Bommie!”

“Hmph.”

Laki-laki itu meraih tanganku, menarik pinggangku, sebelum akhirnya menciumku. Men… MENCIUMKU?!

Author POV

Satu detik, dua detik, tiga detik, … hingga satu menit. Bibir itu terus saling menempel meski sama sekali tak ada seorang pun yang berani untuk bergerak.

“Ma… maaf.” Seunghyun segera menjauh dari Park Bom dan menundukkan kepala.

“Tidak apa-apa. Eum… aku… sebaiknya aku… eum…”

“Kau masih mencintaiku?”

Pertanyaan itu kembali terdengar.

“Aku… aku…”

“Jawab aku. Jika dalam sepuluh detik kau tidak menjawabku, aku akan menciummu sepuluh kali di bibir.”

“Aku…”

“Satu…

… dua…

… tiga …

…empat…

…lima…

…enam…

…tujuh…

…delapan…

…sembilan…

…se…. hmph.”

Seunghyun membelalakkan matanya. Wanita ini… mencium bibirnya. Ya, mereka berciuman dan pertanyaan pun terjawab jelas, bukan?

End? No. Not at all.

***

Maaf, yang ini agak jelek, tapi tetap mohon RCL nya ya! ^^