Bertemu Lagi

Author: a.k.a Rahina Lollidela || Rating: PG-13 || Genre: Romance, etc. || Length: ? || Casts: Park Bom, Choi Seunghyun

Disclaimer: Cerita ini adalah hasil karangan murni author, jika menemukan adanya plagiarisme, harap mention @scarecrowrahina via twitter, atau tinggalkan komentar pada postingan ini. Don’t be a silent reader!

Note: RAHINA IS BAAACCCCKKKK!!!! Haha, apa kabar semua? Sudah berapa lama nggak jumpa? Pertama, author bener-bener minta maaf karena jarang post. Author mulai sibuk belakangan ini. Maaf, ya. Kedua, author ingin mengucapkan, selamat bulan Ramadhan!!! Author minta maaf kalau selama ini ada salah, ya! ^^ Terakhir, seperti biasa, harap RCL, ya! Selamat membaca!

Just when I thought love was a lie

Then you showed up in my life…

***

There For You

by Rahina Lollidela

Choi Seunghyun

Jam dinding di kantorku menunjukkan pukul sebelas malam ketika ponsel sialan itu bergetar dan menghilangkan seluruh paragraf yang sudah kutata di otakku untuk kutorehkan dalam sebuah laporan yang akan kuberikan pada direktur utama perusahaan tempatku bekerja sebagai Human Development Manager. Malas, kuangkat ponsel itu seraya menyilangkan kaki.

Sayang, aku sangat merindukanmu.” Suara manja nan merayu itu segera mengisi rongga telingaku. Kututup sejenak kedua mataku untuk mengingat siapa pemilik suara ini. Cukup lama aku berdiam, tapi aku bahkan tak ingat di kelab malam mana aku bertemu dengan wanita ini. Terlalu banyak wanita yang kutemui dan tak pernah wanita yang sama setiap malamnya.

Sayang, kau ada di sana?” Suara itu kembali terdengar.

“Apa? Ah, eum… ya, aku di sini. Eum… ada apa?” ucapku pada akhirnya.

Kau tak merindukanku?”

“Eum… well… Maaf, aku sedang sibuk. Siapa pun kau, semoga tidurmu nyenyak,” tutupku. Dapat kudengar wanita itu memanggil-manggil namaku sebelum akhirnya sambungan kuputus. Jujur, aku agak kagum dengan wanita ini karena masih mengingat namaku. Kebanyakan wanita yang pernah kutemui hampir semuanya sama sepertiku. Bertemu di kelab malam, berkenalan, berdansa, berkencan, bertukar nomor telepon, lalu berpisah dan saling menghapus kontak. Sebut saja one night stand. Itu hanya untuk kesenangan sesaat saja.

Setelah meletakkan ponselku kembali, buru-buru kutatap layar laptop untuk melanjutkan laporan tadi. Sial, aku bahkan lupa laporan apa yang sedang kukerjakan.

Beberapa kata aku menyumpah, ponselku kembali bergetar. Siapa lagi ini? Ah, Jiyong. Mau apa anak itu?

“Kau menggangguku, Kwon Jiyong,” tanggapku setelah menekan tombol visual berwarna hijau.

Ah, maafkan aku, Choi Sibuk.” Kuputar bola mataku ketika laki-laki penggila pesta itu memanggilku dengan sebutan ‘Choi Sibuk’. “Aku hanya ingin mengajakmu bersenang-senang. Hei, kelab malam ini merindukan aura misteriusmu.

Ah, Kwon Jiyong, mau apa lagi laki-laki itu kalau bukan mengajakku ke kelab malam? “Aku sedang sibuk, Ji.”

Oh, ayolah! Kau harus beristirahat. Aku janji, aku tidak akan mengganggumu setelah ini.”

“Ya, ya, ya. Akan kupertimbangkan. Kelab malam yang biasanya, ‘kan? Aku akan datang jika aku bisa, atau tidak datang sama sekali.”

Oh, ayo-“ Buru-buru kuputus sambungan telepon sebelum ia mengucapkan kembali kata ‘Oh, ayolah!’ seolah hidupnya adalah hidup termudah yang pernah ada. Kubuang ponsel itu sebelum akhirnya kembali terfokus pada laptop. Sial, apa yang kulakukan dengan laptop ini tadi? Argh!

Buru-buru kukemasi peralatan kerjaku ke dalam tas sebelum akhirnya menyambar jas serta ponsel dan meluncur ke tempat Jiyong.

***

Park Bom POV

Kudapati lautan manusia di lantai dansa ketika kuinjakkan kakiku ke sebuah kelab malam yang biasa kukunjungi untuk bersenang-senang dengan menari sendirian. Kuedarkan pandanganku untuk mencari sudut VIP kosong yang tak jauh dari lantai dansa. Semuanya penuh. Ah, kalau begini akhirnya, apa gunanya aku menjadi anggota VIP kelab ini?

Tak bisa menemukan tempat VIP yang kosong, akhirnya kuputuskan untuk duduk di bar ditemani oleh bartender dari U.S bernama Mario yang sudah cukup kukenal. Laki-laki botak dengan tubuh kekar itu selalu mengingatkanku untuk tidak minum terlalu banyak karena aku mengemudi sendirian.

A great night to have fun, isn’t it?” tanya Mario ketika sadar akan kehadiranku. Kuperhatikan tangannya langsung bersiap menuang segelas kecil tequilla yang biasa kupesan.

Everynight is great nights, Mario, as long as you’re not broken-hearted. Can I get my tequilla now?” pintaku seraya mengajukan tangan ke arah tequilla yang dipegang Mario. Bartender itu segera menyerahkan tequilla yang akhirnya kuteguk dalam one shot.

Don’t drink too much, Lady.”

Uh, you’re so talk-active,” gerutuku disambut dengan kekehan Mario. Seorang laki-laki duduk di sebelahku sehingga Mario pun harus melayani laki-laki itu. Kusebar pandanganku ke lantai dansa sembari menimang-nimang apakah aku akan menari lagi malam ini, mengingat betapa lelahnya aku karena harus melatih tujuh siswa bernyanyi secara privat dalam sehari.

Excuse me.” Suara itu menahan kakiku yang nyaris melangkah ke lantai dansa. Kutolehkan kepalaku, rupanya laki-laki yang tadi datang dan duduk di sebelahku.

Yes?” tanggapku dengan agak berteriak untuk mengimbangi volume musik yang cukup tinggi.

“Bukankah kau adalah teman Chaerin?” laki-laki berambut agak pirang itu bertanya padaku. Kulihat ia membawa dua minuman. Ngomong-ngomong, bagaimana bisa ia mengenal Chaerin? Ah, tentu saja. Siapa di kelab ini yang tak kenal sosok Lee Chaerin yang selalu datang dan tampil memukau setiap malamnya? Well, sebenarnya aku tak jauh beda dari Chaerin. Aku hanya tak pernah menari bersama laki-laki karena menurutku itu tidak menyenangkan. Menari dengan banyak orang bersama jauh lebih menyenangkan.

“Eum, ya. Bagaimana kau bisa tahu?”

Laki-laki itu tak menjawab, tapi dagunya ia arahkan sekilas ke sebuah sudut VIP di mana seorang wanita berambut pirang panjang sedang berdiri dan melambai-lambai kecil ke arahku. Ah, Chaerin. Jadi, laki-laki ini datang dengannya. Pacarnya? Mungkin. Chaerin pernah bilang kalau pacarnya juga sering ke sini.

“Oh, kau datang dengan Chaerin?”

“Ya, begitulah. Mau bergabung?” laki-laki ini menawarkan dan segera kuterima. Kalau dipikir-pikir, memang tidak menyenangkan kalau di tempat seperti ini sendirian.

“Bommie!!!” Chaerin berseru senang seraya memelukku sekilas sebelum akhirnya menerima segelas minuman dari teman laki-lakinya tadi.  “Bommie, ini adalah Jiyong, pacarku.” Bingo! “Dan, Sayang, dia adalah teman baikku, Park Bom.”

“Jiyong.” Laki-laki bernama Jiyong itu mengulurkan tangan kanannya yang segera kusambut hangat.

“Bom.”

Dentuman musik seolah semakin mengundang untuk menari. Kupandangi lantai dansa bagai seorang anak yang siap menjelajahi seluruh wahana permainan di Lotte World. Menari, tidak, menari, tidak, menari, tidak…? Nah, aku benar-benar tidak bisa menolak.

“Chae-roo, lantai dansa itu terus merayuku. Aku permisi sebentar,” pamitku pada Chaerin sebelum akhirnya bergabung dengan lautan manusia dan bersenang-senang.

***

Seunghyun POV

Great night, Dude?”

Laki-laki botak bernama Mario ini tersenyum ke arahku seraya menyodorkan segelas tequilla yang biasa kuminum ketika aku sampai di kelab malam biasanya dan segera mendekati bar. Kuangkat sejenak kedua bahuku untuk menanggapi sebelum akhirnya meneguk tequilla yang… hei, rasanya agak asing. Mungkin karena aku sudah lama tidak minum.

Where is Jiyong?” tanyaku pada Mario seraya menumpukan siku pada meja bar.

He was here with a girl.”

Who? Chaerin?

Park Bom, Chaerin’s friend.”

“Woa, Jiyong is cheating on Chaerin? How dare he!” Kukerutkan dahiku ketika mengucapkan itu. Sangat tidak mungkin seorang Kwon Jiyong yang sudah mencintai Lee Chaerin berani berselingkuh.

“Don’t get it wrong, Dude! They were with Chaerin too. For your information, that girl named ‘Bommie’ is beautiful as goddess. She’s famous enough here.” Mario mengedipkan sebelah mataku, menantangku untuk mendekati sosok bernama Park Bom a.k.a Bommie itu.

No, I’m not going to flirt tonight. See ya!”

Kulangkahkan kakiku meninggalkan bar dan mulai mencari-cari sosok Jiyong dan Chaerin. Mencari dua orang itu memang tak pernah sulit karena mereka selalu duduk di sudut yang sama setiap malamnya.

“Choi Sibuk!” Suara itu terdengar dan langsung kulihat Jiyong sedang duduk seraya merangkul Chaerin. Dua insan itu tersenyum senang, seperti biasa, penuh karisma.

“Oi!” sapaku seraya duduk agak jauh di samping Jiyong dan meminum minuman yang tadi kupesan dari Mario sebelum meninggalkan bar. Argh, alkoholnya terlalu kuat. “Mario bilang tadi kau ada di bar dengan seorang wanita,” ucapku pada Jiyong.

Jiyong mengangguk.

“Park Bom a.k.a Bommie. Kau mau mendekatinya?” Chaerin menanggapi seraya mengajukan kepalanya untuk menatapku. “Kusarankan supaya kau hanya berniat menjadi temannya. Kawanku yang satu ini tidak pernah menyukai one night stand.”

“Terserah saja.”

Lima belas menit setelah itu kami hanya berbincang-bincang seperti biasa tanpa kusadari kalau bicaraku mulai asal-asalan. Seingatku aku sudah minum dua gelas Black Russians, atau mungkin tiga gelas, entahlah.

“Choi Sibuk, kau yakin kalau kau tidak mabuk?” Untuk kesekian kalinya Jiyong menanyakan kesadaranku. Aku hanya menggeleng dan tersenyum.

***

“Laki-laki itu benar-benar mengganggu.”

Kutolehkan kepalaku ketika mendengar suara indah dari seorang wanita sebelum akhirnya kudapati sosok yang cukup terkenal di kelab ini duduk berseberangan denganku seraya merebut Black Russians yang ada di tangan Chaerin.

“Bommie, kau tidak boleh terlalu mabuk,” ucap Chaerin seraya merebut kembali minuman itu. Kini aku tahu kalau yang mereka maksud Park Bom a.k.a Bommie adalah Jenny Park, wanita yang dikenal oleh hampir semua pengunjung kelab malam di daerah Itaewon, Hongdae, dan beberapa kelab di Jepang.

“Oh, kalian punya tamu?” tanya wanita berambut panjang itu seraya menatapku dan tersenyum seperti seorang… dewi. Aku hanya bisa membalas senyum dan tak berkata apa-apa karena dua biji mata itu benar-benar membuai.

“Dia adalah Seunghyun, temanku dan Jiyong,” ucap Chaerin. “Seunghyun, dia adalah Park Bom yang tadi kita bicarakan. Mungkin kau juga pernah mengenalnya dengan nama Jenny Park.”

“Uh, kalian membicarakanku?” Wanita itu membulatkan matanya. Lucu, tapi tetap menawan. “Ngomong-ngomong, aku Park Bom. Kau boleh memanggilku Bommie jika kau mau, tapi jangan panggil aku Jenny. Aku tidak suka nama itu.” Kulihat wanita bernama Bommie itu terkekeh kecil dan mengajukan tangannya.

“Choi Seunghyun,” tanggapku seraya menyambut tangannya. “Senang bertemu denganmu, Bommie.”

Same here.”

“Jadi-“

Kami sama-sama menoleh ke arah Chaerin ketika kurasa kekasih Jiyong itu berniat melontarkan pertanyaan kepada Bommie.

“Kenapa kau berhenti menari?” lanjut Chaerin.

Bommie mendengus kesal. “Kau tahu, aku datang ke sini hanya untuk bersenang-senang dengan orang-orang yang tak kukenal, tapi laki-laki itu sangat ingin mengajakku berdansa berdua saja. Menghancurkan suasana,” keluhnya sembari mengibas kecil tangan kanannya.

“Mungkin sudah saatnya kau mencari pendamping hidup, Bommie,” tutur Chaerin.

“Kau bercanda?” Wanita itu tertawa, punggung mulutnya tampak menutupi mulutnya sementara kuperhatikan kakinya mulai saling menyilang. Woa, dia cukup seksi.

“Seunghyun, kau tidak berkata apa-apa dari tadi.”

Jiyong berhasil memaksaku untuk kembali ke alam sadar. Baru aku sadar, sedari tadi aku hanya memperhatikan gerak-gerik Bommie. Sial.

Chaerin yang mengerti gerak-gerikku pun langsung meluncurkan pertanyaan. “Choi Sibuk, kau tertarik dengan Bommie?” tanyanya.

Well, bahkan kalau Jiyong tidak mencintaimu, dia mungkin juga tertarik dengan Bommie,” candaku seraya mengedipkan sebelah mata ke arah Bommie. Wanita itu tertawa kecil atas tingkahku.

Hold on! Tadi kalian panggil dia apa? Choi Sibuk?” Bommie tampak antusias.

Jiyong mengangguk. “Laki-laki ini tidak pernah lagi memikirkan masalah asmara. Dia hanya memikirkan pekerjaan, terutama setelah rumor kalau dia akan menjadi direktur utama di perusahaannya. Choi Sibuk ini hanya memikirkan pekerjaan.”

“Dan one night stand.” Chaerin bodoh, Chaerin bodoh, Chaerin bodoh. Bagaimana bisa dia membuka kartu matiku seperti itu?

Bommie memandangku dengan tatapan aneh. Kurasa dia mulai berpikir untuk menjauhiku. “Benarkah? Well, kau memang cukup tampan untuk mendapat wanita manapun yang kau mau.” Rupanya dia tidak mempermasalahkan one night stand-ku.

“Begitukah? Terimakasih,” ucapku. Bommie hanya mengangkat bahu dan tersenyum.

Sekali lagi kuteguk segelas Black Russians, setelah itu aku pun mulai minum lagi, lagi, dan lagi. Jiyong dan Chaerin berkali-kali mengingatkanku untuk tidak minum terlalu banyak, tapi aku sama sekali tak mau mendengar mereka. Aku ingin minum malam ini.

“Choi Seunghyun? Seunghyun?” Kurasakan tangan Jiyong menggoyangkan bahu kananku, tapi pandanganku mulai kabur.

“Kurasa dia tidak akan bisa bangun hingga besok pagi. Kita harus bagaimana?”

Dan aku tak ingat apa-apa.

***

Moshi moshii

Suara itu terdengar merdu, menyusul dering memuakkan yang tadi membangunkanku. Kukerjapkan kedua mataku untuk merespon cahaya yang masuk tiba-tiba. Argh, kepalaku sangat pusing. Mungkin karena semalam aku mabuk.

Tomorrow? I don’t think I can go.” Suara familiar itu kembali terdengar. Kutolehkan kepalaku ke kanan dan segera mendapati seorang wanita berambut panjang sedang berbincang-bincang di telepon. Tunggu! Wa-wanita?! Aku di mana?

To be continued~

Thanks for reading. Please like and comment. Keep support FFL!