Beranda

[Free Writer] Can’t I Love You? (Part 1)

24 Komentar

Author: Stephanie Naomi

Title: Can’t I Love You? [Part 1]

Genre: Romance

Length: Two Shoots

Cast: Lee Ji Eun (IU), Wooyoung (2PM), Nickhun (2PM), Chansung (2PM), Min (missA), Jia (missA), Yang & Park Sonsaengnim (Imaginary Cast)

A/N: Annyonghaseyo ^^ Ini adalah FF cannon pertama saya. Dan ini juga jadi selingan dari cerita berseri saya (Music, Dream and Love). Maaf  sempet stuck karena sempet ada masalah sama modem jadi ga bisa internetan L Dan maaf lagi sebelumnya kalo ada kata-kata yang masih berantakan atau alur yang kurang menarik dari cerita ini hehehe… Terakhir, FYI, cerita ini dibantu dari segi pengeditan dan ide cerita oleh 2 teman saya. Oke langsung dibaca aja ya, jangan lupa komen/saran/kritik nya yah… Gomawo! 😀

***

Ji Eun POV

 

Pulang sekolah seperti biasa aku tidak langsung pulang. Aku pergi ke kantin tapi bukan untuk makan. Aku membaca majalah sambil menunggu seseorang, tetapi ia tidak datang sementara jam sudah menunjukkan pukul 3 sore dan aku harus segera pulang. Akupun mengesap kopi dari gelas kertas hingga habis lalu aku pergi meninggalkan kantin. Aku mengenakan cappuchon hoodie ku dan berjalan cepat serta menunduk hingga aku menabrak seseorang.

Bruk

“Aw!” Aku meringis kesakitan. Aku jatuh terduduk dan aku melihat ada tangan terulur didepanku. Aku membuka cappuchon hoodie ku dan menemukan seseorang yang daritadi kutunggu-tunggu.

Mianhae… Mari kubantu kau berdiri.” ucapnya, menungguku menyambut uluran tangannya. Aku pun menyambut tangannya dan ia menarikku berdiri. Aku langsung membersihkan rok bagian belakang.

Are you okay?” Ia menanyakan keadaanku. Aku hanya mengangguk pelan sambil tersenyum.

“Baiklah. Aku duluan ya.” Ia pun berpamitan denganku dengan tersenyum manis dan ia berjalan menuju kantin. Mataku tidak bisa berhenti memperhatikan sampai ia benar-benar hilang dari pandanganku.

Wooyoung POV

 

Sepulang sekolah seperti biasa aku tidak langsung pulang. Aku biasanya berkumpul dulu dengan teman-temanku dikantin. Aku berjalan cepat menuju kantin karena mereka sudah ada disana terlebih dahulu. Aku berjalan cepat hingga aku tidak sengaja menabrak seseorang.

Bruk

 

“Aw!”

Mianhae… Mari kubantu kau berdiri.” Aku meminta maaf lalu mencoba untuk memberikan ia bantuan sebagai permintaan maafku yang nyata. Ia pun menyambut uluran tanganku dan aku menariknya sampai berdiri.

Are you okay?” Aku menanyakan keadaannya. Sepertinya ia terjatuh cukup keras. Ia hanya mengangguk sambil tersenyum manis. Lagi

Iklan

[Fanfiction] Kemilau cinta seungwon,cinta tiada akhir! [part2]

8 Komentar

Lagi

[Fanfiction] Kemilau Cinta Seungwon (part1)

8 Komentar

Lagi

[Oneshot] When Love Takes Your Heart

5 Komentar

Tittle: When Love Takes Your Heart

Author: Yurilia

Length: Oneshot

Genre: Romance?

Rating: Sumua Umur

Cast:

Yeon Young

Chan Sung (2PM)

Woo Young (2PM)

Jun Ho (2PM)

Disclaimer: I just own the story line. The Cast (2PM) is belong to theirself. And for Yeon Young, it’s one of my friend’s chara.

No plagiarism! And I need your comment as well.

HAPPY READING~

***

“Kamu lagi ngapain sih? Daritadi ngotak-ngatik hape mulu,” tanya seseorang yang tiba-tiba muncul dibalik punggung Yeon Young sambil mendelik kearah ponsel yang ada ada digenggaman kedua tangan gadis itu.

Begitu sadar Chan Sung muncul dibalik punggungnya, Yeon Young langsung menutup flip Sony Ericsson W980 miliknya dengan buru-buru. “Chan Sung-ah, kamu nih ngagetin aja!” Yeon Young benar-benar kaget akan kemunculan Chan Sung Lagi

[TOP 10 FFL CONTEST] CONUNDRUM

33 Komentar

Title : CONUNDRUM
Author : ddanghobak
Length : Oneshot
Genre : romance/drama/angst
Cast :
– Wooyoung (2PM)
– Ji Eun (IU)
– Nichkhun (2PM)
– Seulong (2AM)
– Taecyeon (2PM)

CONUNDRUM

{ Ketika perbedaan nasionalisme menjadi sandungan bagi sebuah kebahagiaan dan ketika takdir yang berbeda bertemu dan menciptakan masa depan yang baru. }

***

“TEMBAK!”

“Wooyoung-ah!” prajurit lain berteriak keras mengatasi kebisingan baku tembak di sekitar mereka. Desingan peluru memekakkan telinga, debu bercampur mesiu membuat mereka kesulitan untuk melihat jauh. Serangan dari Utara sudah berlangsung selama dua jam dan masih belum menunjukan tanda-tanda akan berhenti.

“Kapten!”

Prajurit yang dipanggil berlari menghampiri sang kapten. Ok Taecyeon dengan senapannya menunjuk ke arah timur, bajunya kotor penuh debu dan tanah, suaranya serak karena berteriak terus namun tetap penuh autoritas seperti biasa, “Kita kekurangan orang! Pertahankan pos 7!”

“Siap, kapten!” seru Wooyoung sambil memberikan salut, ia mendekap senapannya di dekat dada dan segera berlari secepat mungkin ke arah yang dimaksud sang kapten. Ia tak tahu lagi posisinya di mana, debu dan pasir menggesek kulitnya sementara ia meringkuk pergi ke tujuan. Pos tujuh hanya berjarak dua ratus meter dari posnya sekarang, namun di tengah-tengah serbuan ratusan peluru, dua ratus meter terasa sangat jauh. Terlalu jauh.

“Nickhun!” teriak prajurit itu ketika tangannya sudah menyentuh dinding pos tujuh—tempat sahabatnya bertugas. Ia menegakkan tubuhnya dan mengarahkan pistolnya ke seberang—tempat tentara Korea Utara berada. Dua tembakan lepas dari senapannya. Ia tidak menyangka dalam giliran jaganya di DMZ (Demilitarized Zone—zona perbatasan antara Korea Utara dan Selatan) akan terjadi baku tembak begini. Terakhir yang ia ingat adalah ia sedang mengamati garis perbatasan dengan teropong sebelum suara tembakan pertama terdengar.

“Wooyoung!”

Suara sahabatnya terdengar memanggilnya. Ia berlari ke depan pos, darimana suara Nickhun terdengar. Matanya memicing, mencari sosok di tengah-tengah kekacauan yang terjadi.

“Nickhun!”

“Arah jam dua!’

Prajurit itu berlindung di balik tembok rendah sepuluh meter dari pos. Ia mengutuk keras sambil melihat ke balik tembok. Ia mengambil nafas, berusaha untuk menenangkan jantungnya yang berpacu dan mempersiapkan senapannya. Wooyoung mencengkram laras senapannya kemudian berlari menuju arah Nickhun. Pekuru berdesing di atas kepalanya, suara ledakan dan teriakan membuat ia tidak bisa lagi mengandalkan indera pendengarannya. Wooyoung menembakan beberapa peluru asal-asalan ke arah pos Korea Utara, berharap ada setidaknya satu tembakan beruntung yang mengenai pihak lawan.

Tangannya gemetar—meskipun sudah bersiap untuk menjadi tentara, ini pertama kalinya ia menghadapi perang sungguhan. Jantungnya berpacu, tekanan yang ia rasakan jauh berbeda dengan sangat latihan. Ia bisa mati di sini.

Ia bisa mati.

Ironisnya, justru saat ia berpikir tentang kematian kejadian itu terjadi. Begitu cepat hingga ia hampir tidak merasakannya, sekilas ia pikir ia melihat Nickhun di kejauhan lalu kemudian ia merasakan tubuhnya terlempar karena dorongan peluru yang menembus bahunya. Ia bahkan tidak merasakan sakit, seakan inderanya lumpuh begitu saja. Mati untuk Negara adalah prestasi tertinggi seorang prajurit.

Wooyoung terjatuh dengan kepala terlebih dahulu membentur tanah—kemudian hitam. Lagi

Newer Entries