annyeoong!! aku kembali… 🙂

huwaaahh… akhirnya Sulli’s Story ini selesai juga… mian kalo lama bangeettt… -____-”
setelah menghabiskan weekeng dengan sidang wilayah di tempat tak bersinyal (iyee, sinyal hape pun tidak ada) , kemudian dilanjutkan dengan perbaikan fisik (baca: makan tidur) di rumah, akhirnya aku bersemangat meneruskan ini FF.

miannn….

nggak sabar? pengen ngebuang author yang doyan curcol ini?
hwaakakakakak.

sudahlah, happy reading~~!!

________________________________________________

Sulli POV

“Sepertinya ada yang salah…” aku menatap bingung koper yang baru saja aku buka. Yang terpampang di atas tumpukan baju itu adalah jas yang tak mungkin milikku. aku mengangkat jas itu dan mengeluarkannya dari koper. Baju di bawahnya pun adalah kemeja yang sepertinya bukan untuk digunakan seorang wanita. semakin bingung dan panik, aku mencoba sedikit mengangkat kemeja itu dan menelisik ke baju-baju di bawahnya.

kenapa semuanya beda?!

“Omona! Omonaa!! Ini bukan koperkuuu…!!!” Mataku terbelalak sebesar yg aku bisa, menyadari kesalahan bodohku. Aku membekap bibirku sendiri, masih tak percaya dengan apa yang baru saja kusadari.

Tapi, kenapa bisa tertukar? Kapan? Kapan aku…

Aku teringat sesuatu yang SANGAT penting. Tanpa sadar, aku sudah menggigiti kukuku sendiri.

ASTAGA!! Pasti waktu itu! Waktu terburu-buru ke bandara… Otokhe?! Otokheeee!!!!

Tanganku terangkat memukuli kepalaku, mencoba merutuki diriku sendiri dan keteledoranku yang sudah keterlaluan. Bagaimana bisa kamu salah mengambil koper, Sulliiii!!!

Tring triing tringtriing…~~

Ponselku berdering nyaring.

Perlahan tanganku mulai meraba-raba kasurku mencari ponselku sebelum deringnya mulai menghancurkan koklea telingaku. Setelah aku berhasil menyentuh badan ponselku, secepat kilat aku menatap layarnya dan melihat siapa yang meneleponku pertama kali begitu menginjakkan kaki di Tokyo. Jantungku langsung berdegup kencang, dan tanganku bergetar hebat melihat nama yang terpampang di layar.

Yunho oppa.

Mati aku! Oppa sudah meneleponku! Pasti dia sudah menyadarinya! Otokhe?!!!

Aku menarik nafas panjang dan mengisi rongga dadaku dengan oksigen hingga tak ada lagi celah di dalamnya. Penuh ketakutan, tanganku bergerak menekan keypad ponsel dan menerima telepon dari oppa ku.

“Yo… yoboseyo…?” suaraku mencicit dan takut-takut.

 “SULLIIIIII!!! Apa-apaaan iniiii?!! Kenapa ada bra, celana dalam, rok pendek, dan apa pula ini botol-botol nggak jelas ini di koperku??!” suara di seberang langsung berteriak jengkel penuh kemarahan. Aku bisa membayangkan ekspresi wajahnya yang berapi-api.

“Opp… oppa?” suaraku makin kecil dan ketakutan. “Mian… sepertinya aku salah mengambil tas… mian…” Lagi