bom_top_by_lilovski-d364qw0

Author: a.k.a Rahina Lollidela (@ScarecrowRahina) || Genre: Sad, Romance || Length: OneShot || Rating: PG-13 || Casts: Choi Seunghyun (BIGBANG’s TOP), Park Bom (2NE1′s Bom), Choi Dongwook (Se7en), Kwon Jiyong (BIGBANG’s GD), Lee Chaerin (2NE1’s CL), Mademoiselle Yulia

Disclaimer: Cerita ini adalah hasil karangan murni author, jika menemukan adanya plagiarisme, harap mention @scarecrowrahina via twitter, atau tinggalkan komentar pada postingan ini. Don’t be a silent reader!

Note: Dan sampai lah kita pada sequel terakhir dari ‘Pergi’ The Series. Kali ini author membawakan judul ‘Meninggalkan dan Merelakan’ dan, untuk mengingatkan kembali, fanfiction ini adalah sequel dari ‘Pergi‘, ‘Bertemu Lagi‘, dan ‘Kembali Berkencan‘. Author sudah memutuskan untuk menjadikan ‘Meninggalkan dan Merelakan’ sebagai sequel terakhir karena plot memang dari awal sudah dibuat seperti ini. Jadi, author mohon maaf jika nanti ada pembaca yang meminta sequel, author tidak bisa mengabulkan. Author juga meminta maaf jika selama ini banyak melakukan kesalahan dalam series ini.

Yap, bahasa formal memang tidak mudah ^^ Nah, pembaca, jangan lupa, author tahu perbandingan antara pembaca dan peninggal jejak loh😄 Jadi, RCL, ya! Keep support FFL! ^^ Selamat memabaca!

Author POV

Jam menunjukkan pukul enam pagi ketika Park Bom terbangun dari mimpi buruknya. Wanita itu mendengus berat seraya menyeka peluh yang mengalir di pelipis. Wajahnya agak pucat hari ini, mungkin karena semalam ia dan Seunghyun kehujanan atau mungkin bukan.

Kira-kira lima hari yang lalu ketika Park Bom merangkulkan tangannya melingkari leher Seunghyun dan mencium bibir laki-laki itu di jalan setapak menuju apartemen. Manis dan romantis.

Park Bom terkekeh mengingat kejadian itu. Memang selama lima hari ini ia tak pernah mengucapkan kata ‘aku mencintaimu’ atau yang semacamnya, tapi ia yakin kalau perasaannya itu nyata. Park Bom hanya takut jika kalimat itu terucap, segalanya akan menjadi terlampau delusional. Kembali mengencani Seunghyun saja sudah membuatnya pusing memikirkan segala hal yang mungkin terjadi. Belum lagi jika terkadang ia teringat pada kenyataan bahwa ia sedang berselingkuh di balik Dongwook, laki-laki yang memberinya semangat selama tiga tahun terakhir ini.

“Kau sudah bangun?”

Park Bom menoleh dan mengangguk kecil ketika dilihatnya Dongwook melangkah memasuki kamar. Wajahnya bagai wajah malaikat dan Park Bom masih tak percaya kalau perasaannya tetap ada pada Seunghyun setelah bertemu laki-laki ini.

“Wajahmu agak pucat. Pusing? Perlu ke dokter?” Dongwook membelai surai Park Bom dengan begitu sayang, seolah ia tak ingin melepaskannya.

“Tidak perlu. Aku bermimpi buruk tadi malam.”

“Benarkah? Mau menceritakannya padaku?”

Park Bom mendongakkan wajahnya dan menatap Dongwook sendu sebelum akhirnya menggeleng pelan. “Aku tidak ingat lagi bagaimana mimpi itu. Kau sudah mandi?”

“Tentu saja sudah.” Dongwook terdiam sejenak, duduk di tepi ranjang dan menangkupkan kedua telapak tangannya di wajah Park Bom. “Sekarang, kau mandi lah. Ada yang ingin kubicarakan.”

***

Park Bom mendongakkan wajahnya; memandangi refleksi wajahnya yang semakin pucat di cermin. Bahkan polesan make up warna pastelnya tak sanggup menutupi bibir birunya itu. Park Bom mulai pasrah dan hendak keluar kamar ketika ponselnya bergetar. Seunghyun.

From: The One That Shouldn’t Be There

Sudah bangun? Apa kau terkena flu karena hujan-hujanan semalam? Keadaanku sangat tidak baik hari ini. Mau datang berkunjung?

Park Bom tersenyum manis.

To: The One That Shouldn’t Be There

Kau terkena flu? Aku baik-baik saja. Apa kau jarang makan buah-buahan? Aku akan ke hotelmu siang ini. Aku sedang ada urusan. Sampai nanti!

Kini wanita itu menghembus pasrah. Aku baik-baik saja, Seunghyun, hanya sedikit pucat.

Ponsel kembali bergetar.

From: The One That Shouldn’t Be There

I love you.

Park Bom terdiam, kembali menghembus pasrah, lalu pergi meninggalkan ponselnya di kamar tanpa meninggalkan balasan.

“Kau sudah sarapan?” Park Bom menutup pintu kamar dan berjalan mendekati Dongwook dan secangkir kopinya.

Laki-laki itu menoleh dan tersenyum bak malaikat. “Tentu saja. Kau belum, ‘kan? Lekaslah sarapan dan minum obatmu.”

“Nanti saja. Tadi, katamu ada yang ngin dibicarakan, bukan?”

Dongwook mengangguk. “Duduklah di sini!”

Park Bom terdiam sejenak, tersenyum, sebelum akhirnya duduk di sofa mendampingi kekasihnya. “Ada apa?”

Satu detik, dua detik, tiga detik, Dongwook tampak berpikir. Membuat Park Bom bingung dengan ekspresi sedihnya.

“Ada apa, Sayang?”

“Bommie, ah, Park Bom.”

Park Bom mengernyitkan dahi. Kenapa laki-laki ini memanggilnya begitu? Tak ada lagi panggilan sayang ‘Bommie’?

“Sayang, kenapa memanggilku begitu?”

“Ssst! Jangan bicara. Kali ini kuminta kau untuk diam dan mendengarkan. Hanya mendengarkan, oke?”

“Eum… oke.”

Dongwook mendecak ringan, meraih tangan Park Bom, dan berkata, “Aku sudah menyadari semuanya dari awal, dari tiga tahun yang lalu. Aku mencintaimu, aku sangat ingin melindungimu, aku ingin ada di sampingmu. Tapi, Park Bom, tak peduli seberapa besar perasaanku dan seberapa besar usahaku untuk membuat perasaanmu berubah, kau tak akan mencintaiku.”

Park Bom membulatkan matanya. Ia ingin berbicara, tapi ia sadar kalau yang harus lakukan adalah diam dan mendengarkan.

“Kukira kau hanya membutuhkan waktu, tapi ternyata tidak. Kau masih mencintai Seunghyun, aku tahu dan aku tidak mempermasalahkannya. Kuputuskan untuk ada di sampingmu tanpa berharap bisa membuatmu mencintaiku. Aku hanya ingin melindungimu sampai sosok bernama Seunghyun itu kembali. Dan bukankah dia sudah kembali? Bukankah kalian juga sudah kembali berkencan? Aku tidak menuduhmu berselingkuh, tapi dalam hubungan kita bertiga, aku adalah orang ketiganya.”

Park Bom tetap diam.

“Sekarang aku melepasmu. Aku bukan mencampakkanmu, aku merelakanmu untuk lebih bahagia. Seunghyun mencintaimu, Sayang. Dekaplah laki-laki itu dan jangan kau tinggalkan lagi.”

Tetap diam.

“Aku… aku mau mengambil udara segar. Sarapan dan minum obatmu, Park Bom. Aku mencintaimu.”

Bahkan hingga Dongwook melangkah pergi pun, Park Bom tetap diam. Pandangannya kosong dan bibirnya bergetar. Ia menangis. Bukan karena Dongwook pergi, tapi karena dari sorot mata laki-laki itu ia melihat sakit yang begitu parah. Dan sakit itu ada karena dirinya.

Park Bom mendengus pasrah; mencoba menyadarkan dirinya ke kenyataan. Dongwook sudah pergi dan, seperti permintaan Dongwook, Park Bom akan mendekap Seunghyun seperti dulu. Tiga tahun lalu.


Aku harus segera meminum obatku, pikir Park Bom ketika rasa pusing yang begitu menyiksa tiba-tiba menyerang kepalanya, seperti meremas otaknya. Matanya terpejam sejenak untuk mengurangi rasa sakit yang ada, tapi rasa sakit itu malah semakin terasa. Park Bom buru-buru berjalan, secepat mungkin gontai menuju dapur.

Satu set obat yang harus diminumnya sudah disediakan di meja, berdampingan dengan sepotong roti panggang. Dongwook, laki-laki itu yang menyiapkannya. Park Bom terdiam sejenak. Ia tahu obat ini tak akan membantu, sakitnya terlalu parah. Yang ia butuhkan hanyalah bantuan. Chaerin.

Park Bom melangkah cepat ke kamar, mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Chaerin, tapi yang ia tekan malah Seunghyun. Park Bom terlalu lemah untuk bergerak. Kakinya begitu lemah hingga akhirnya ia terjatuh. Matanya terpejam. dan… gelap.

“Bommie? Bommie? Ada apa? Kau di sana?”

***

“Sayang, tenang! Dia pasti baik-baik saja. Bukankah Seunghyun sudah meneleponmu? Itu berarti Bom Nuna sudah ditangani dengan baik.”

Tapi, Ji, kita harus ke Jepang sekarang.”

“Aku tahu, tapi kau butuh berkemas, ‘kan? Aku sudah menyuruh seseorang untuk memesankan tiket pesawat. Tenang, oke?”

Chaerin menghembuskan napas dan memejamkan mata. Ia memang harus tenang, tapi bagaimana bisa? Setelah tiga tahun, ini adalah petrama kalinya Park Bom pingsan. Tentu saja Chaerin sangat khawatir.

“Semuanya akan baik-baik saja, Sayang,” ucap Jiyong seraya merangkul pundak Chaerin dan mengecup puncak kepalanya.

***

“Sungguh, aku tidak apa-apa, Seunghyun. Jangan khawatir.”

Laki-laki itu mengerutkan dahi dan berkali-kali menciumi tangan putih yang ada di genggamannya. Tangisnya hampir pecah, tapi bagaimana pun juga ia tidak boleh menangis di hadapan orang yang dicintainya.

“Ssst! Jangan berbicara. Dokter menyuruhmu beristirahat, ‘kan?”

Wanita berambut pirang kecoklatan itu tersenyum dan memejamkan matanya. Tidur.

Seunghyun menghembus berat dan mulai melepaskan genggaman tangannya pada tangan Park Bom. Menyelimuti kekasihnya itu, sebelum akhirnya melangkah keluar; mencari udara segar.

Seunghyun menundukkan kepalanya seraya terus menyusuri koridor rumah sakit. Park Bom sakit. Wajahnya begitu pucat dan suaranya hampir habis. Sakit apa? Seunghyun terus berpikir keras; tak peduli bahwa seharusnya sekarang ia meminum obat flunya.

“Seunghyun Oppa.”

Laki-laki ini mendongakkan kepala dan segera menatap khawatir seorang wanita berambut pirang yang berdiri berdampingan dengan kekasihnya. “Apa penyakit yang diderita Bommie?” tanya Seunghyun dengan berterus terang.

“Kita harus bicara.”

Dan kini Seunghyun berada di sebuah bangku taman; menunggu Chaerin yang katanya pergi membeli minuman untuk mereka berdua. Jiyong mungkin sedang sibuk dengan lembaran partiturnya sembari menunggui Park Bom di kamar rawat.

“Ini.”

Seunghyun mendongakkan kepala dan segera menerima sekaleng soda yang disodorkan oleh Chaerin kepadanya. “Ceritakan semuanya.”

Chaerin mendengus kesal. “Kau memang tidak sabaran,” gerutunya seraya duduk di samping Seunghyun.

“Aku tidak ingin membuatmu terkejut, Oppa. Bommie Unnie melarangku untuk mengatakan ini, tapi kurasa aku harus.” Chaerin menyesap sodanya dan memandang kosong ke depan. “Dia adalah wanita yang sangat kuat secara fisik maupun psikis. Daya tahan tubuhnya pun bagus. Dokter bahkan bilang kalau seharusnya ia bertahan hidup lebih lama dari yang lain. Bagaimana pun…

… ia menderita leukemia.”

Seunghyun terpaku; memandangi rumput taman yang tampaknya juga agak layu. Bommie menderita leukemia. Leukemia. Otaknya berputar begitu keras.

“Tiga tahun yang lalu dokter memberitahukan kabar buruk itu. Seharusnya sejak saat itu keadaannya memburuk, tapi Bommie Unni adalah wanita yang kuat. Kau tahu, pola makannya seperti monster dan olahraganya juga bagus. Ia bisa bertahan dan bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa. dokter memberitahuku kalau suatu hari ia jatuh pingsan, maka keadaannya sama saja dengan sekarat. Dari awal, aku, Jingyo, dan Dongwook Oppa sudah mempersiapkan segalanya untuk kemungkinan terburuk.”

Chaerin terdiam sejenak, tersenyum miris. “Kau tahu? Bahkan setiap kali terbangun, yang kami pikirkan adalah, ‘Apa hari ini Park Bom akan mati?’. Setiap kali Bommie Unni mengatakan kalau ia agak pusing, aku khawatir setengah mati. Untung saja ada Dongwook Oppa yang selalu ada untuknya. Hah… Jadi, Oppa, baru saja ia pingsan, kumohon kau mempersiapkan dirimu untuk menerima segalanya.”

Seunghyun terdiam, lebih mirip terpaku dan tak bisa bergerak.

“Kau pikir untuk apa dia meninggalkanmu waktu itu? Bersenang-senang dengan laki-laki seperti Dongwook? Ha, dia hanya tidak ingin membuatmu merasa kehilangan. Berkali-kali ia meneleponku dan memintaku untuk ke apartemenmu lalu membuang segala macam mi instan di sana. Hanya untukmu.”

“Chaerin, berhenti. Cukup.”

Chaerin merapatkan mulutnya dan menatap Seunghyun. “Kau memintaku untuk menceritakan semuanya.”

“Tidak. Tidak perlu.”

Tepat ketika mulut Seunghyun tertutup, ponsel Chaerin berbunyi. “Ya, Sayang?” tanggap pemilik ponsel. “Aku segera ke sana.”

“Ada apa?”

Chaerin menatap Seunghyun, mata wanita ini berkaca-kaca, sebelum akhirnya memeluk laki-laki itu dengan begitu erat. “Apa pun yang terjadi, dia mencintaimu. Sangat. Sekarang kita temui Jiyong.”

***

a year later…

Seunghyun memejamkan matanya sejenak di sebuah ruang kerja sepi, ruangan pribadinya. Kedua tangannya mengepal erat sebelum akhirnya ia berdiri dan menatap siluet dirinya di cermin. Celana panjang putih dan kemeja biru muda pas badan membuatnya tampak begitu tampan.

“Seunghyun.”

Laki-laki itu tersenyum kecil ketika mendapati sosok wanita berambut biru berdiri di ambang pintu, tampak dari cermin. “Yulia, kau ada di sini,” ucap Seunghyun.

Mademoiselle Yulia tersenyum dan menghampiri. “Jas apa yang akan kau pakai hari ini?” tanya desainer yang kini merangkap menjadi stylistnya itu dengan bahasa Korea yang cukup fasih.

“Entahlah, mungkin jas hitam biasa.”

“Kau gila? Celana putih, kemeja biru muda, dan… jas hitam? Kau mau terlihat seperti orang gila di hadapan calon investor hebat itu?”

“Lalu aku pakai apa?”

“Eum…” Yulia memandang sekeliling, meletakkan pandangannya pada pilihan jas yang dipakaikan di beberapa manekin di sana. Wanita itu tersenyum senang sebelum akhirnya mengambilkan sebuah jas warna-warni, jas yang dulu diberikannya secara gratis pada Seunghyun.

“Kau mau aku memakai itu? Ini bukan pesta.”

“Aku yakin, ini jas keberuntunganmu. Park Bom pun pasti akan sangat senang jika melihatmu memakai jas ini dari surga sana. Kau tahu? Dia yang memintaku untuk memberikan jas ini jika kau datang ke galeriku.”

“Benarkah?”

Yulia memakaikan jas itu pada Seunghyun. Sangat pas dan sangat tampan. “Aku yakin, Park Bom sedang tersneyum di surga sana. Tuhan memberkatinya.

***FIN***

Kependekan, ya? Maaf, maaf. Author sudah bingung mau bagaimana lagi ngelanjutinnya. ^^v Maaf juga kalau nggak jelas. RCL! Keep support FFL!