Title : Happiness [No Minwoo POV]
Author : Cho Sunnie (@anisanis_)
Length : Oneshot
Genre : romance, sad
Main Casts : No Minwoo (Boyfriend) and Cho Eun Sun as YOU
Support Casts : Jo Youngmin and Jo Kwangmin (Boyfriend)
Rating : PG-13

^^ ~Happy Reading~ ^^

Sudah seminggu ini aku selalu melihatnya, setiap hari, setiap pagi, bahkan jika beruntung aku juga bisa melihatnya sore hari saat aku pulang sekolah.

Berkat dia aku tak marah lagi pada appa karena sering pindah tempat tinggal dan pindah sekolah karena pekerjaan appa. Aku sangat bersyukur sekarang bisa tinggal di daerah ini, walau tak seramai dan semewah tempat tinggalku yang dulu, tapi tempat ini lebih indah, sosoknya membuat tempat ini menjadi lebih indah ratusan kali lipat.

Berkat dia aku jadi makin semangat berangkat sekolah, karena bila aku marah dengan appa dengan cara tak mau berangkat sekolah maka aku tak akan melewati rumahnya dan itu artinya aku akan melewatkan pemandangan sangat indah, yaitu senyumnya.

Berkat dia aku jadi mempunyai alasan untuk hidup lebih lama, walau hidup dalam kesendirian di rumah yang sering kosong dan selalu sunyi, tapi hanya dengan satu senyumnya seolah itu adalah energi untukku agar tetap hidup dan tak menyusul omma yang sudah bahagia di alam lain.

Seminggu yang lalu, tepat saat hari pertama aku akan pergi ke sekolah baruku, pertama kali aku melihat senyum seorang yeoja cantik, bukan maksudku sangat cantik. Senyuman yang sangat tulus dan polos. Senyuman yang seolah menjadi candu bagiku, yang setiap hari selalu ingin kulihat dan aku akan merasa tak bertenaga seharian saat tak melihatnya. Dan kabar buruknya hari ini aku tak melihatnya.

Ya ini hari Minggu, sekolah memang libur tapi aku tak ingin ada kata libur untuk melihat senyumnya. Aku sudah menunggu lama di tempat persembunyianku seperti hari biasanya, tapi ia tak kunjung membuka jendela kamarnya.

Biasanya setiap pagi ia selalu membuka jendela kamarnya lalu menangkup sebuah origami berbentuk burung dengan kedua tangannya sambil menutup mata dan tersenyum, kurasa ia sedang mengucapkan sesuatu dalam hatinya, entah apa itu, dan aku sangat ingin tahu apa yang diucapkannya dalam hati. Setelah kurasa ia selesai mengucapkan sesuatu dalam hatinya ia membuka matanya dan dapat kulihat itu adalah mata yang sangat indah yang pernah kulihat, mata yang berkilau memancarkan suatu harapan besar, entah harapan apa. Setelah sedikit menghembuskan nafas, ia melepaskan genggamannya dari origami berbentuk burung itu dan akhirnya benda itu jatuh ke jalanan di depan rumahnya, lalu ia pun menutup kembali jendela kamarnya.

Mungkin memang ada baiknya juga ada hari libur untuk melihat senyumnya, karena dengan begitu perasaanku untuk melihat senyumnya semakin besar, aku menyukai perasaan ini dan kurasa ini yang dinamakan rindu. Dan ini membuatku semakin semangat untuk berangkat sekolah di hari Seninnya. Aku juga suka perasaan yang tiba-tiba rasanya darahku berdesir dan jantungku berdetak lebih kencang seakan ingin lompat keluar dari tempatnya saat melihat senyumnya.

Ya, kurasa seperti yang kukatakan tadi, senyumnya sudah menjadi sebuah candu bagiku…

Dan seperti hari biasanya, kecuali hari Minggu, sekarang aku mengambil origami berbentuk burung yang ia lempar ke jalanan. Ia membuatnya dengan sangat rapi, aku tersenyum lalu memasukkan benda ini ke dalam tasku dengan hati-hati seolah ini terbuat dari kaca dan mudah pecah.

Sudah hampir sebulan aku melakukan kegiatan ini, dan sudah puluhan origami berbentuk burung miliknya yang aku pungut di jalan dan sekarang menghiasi kamarku. Ya kurasa memang aku terlalu pengecut untuk sekedar menyapanya, tidak, bahkan muncul di hadapannya saja aku tak berani. Bisa saja kan saat ia membuka jendelanya aku muncul di depannya dan tersenyum kepadanya. Ah tapi aku takut, aku takut bagaimana jika ia menganggapku orang aneh. Orang aneh yang setiap hari mengintipnya hanya untuk melihat senyumnya dan jadinya ia takut lalu tak melakukan lagi kegiatan rutin setiap paginya. Tidak, kurasa lebih baik aku tak diketahui olehnya daripada aku tak melihat senyumnya lagi.

“ya! Kau sedang apa Minwoo-ah? Ini apa?” tanya Youngmin yang tiba-tiba sudah duduk di sebelahku dan sekarang merebut origami berbentuk burung yang bagiku sangat berharga.

“ah kau mengagetkanku, kembalikan” balasku sambil berusaha mengambil kembali burung itu.

“aniyo sebelum kau cerita padaku, kau tau dari tadi kau melamun bahkan kau tak sadar kan kalau tadi hampir saja ada bola baseball yang mendarat di dahimu, kau harus berterima kasih padaku kalau tidak ada aku kau sudah berubah jadi jelek dan fans-fansmu akan kabur” ujar Youngmin sambil menjauhkan burung origami itu di balik punggungnya dan mengacungkan bola baseball yang ada di tangan kanannya.

“Youngmin-ah! Lempar ke sini bolanya!” seru Kwangmin yang berada di depan kelas bersama teman-teman yang lain, ck mereka ini, bagaimana bisa bermain baseball di dalam kelas?

“ah ne! tangkap ini!” balas Youngmin sambil melempar bolanya dan berhasil ditangkap dengan baik oleh Kwangmin dan bersamaan dengan itu ia berseru “gomawo!”

Aku baru sadar ternyata kelas ini sangat ramai dan pertanyaannya adalah bagaimana bisa aku tak sadar dan pikiranku terus fokus pada yeoja itu? Selain para namja yang bermain baseball di depan kelas, di sisi yang berseberangan denganku duduk segerombolan yeoja yang sedang mengobrol dengan heboh dan tertawa-tawa. Dan entah ini perasaanku saja atau memang kenyataannya, saat aku melihat segerombolan yeoja itu, mereka semua tersenyum padaku. Walau mereka tersenyum semanis apapun, dan seberapa banyak yeoja yang tersenyum padaku tapi aku rasa biasa saja dan tak ada yang bisa menandingi senyuman yeoja origamiku. Haha nama yang konyol ya? Atau aku sebut saja ia yeoja pagi? Atau… malaikat? Ah dia tak punya sayap, padahal ia sangat cocok menjadi malaikat. Atau kusebut ia peri ya? Peri pagi? Peri senyum? Peri manis? Peri origami? Peri burung? Haha aku ingin terbahak karena pikiran anehku ini. Ini akibat aku tak tahu namanya -.-

“ya! Ya! Kau ini kenapa tiba-tiba tersenyum sendiri?” tanya Youngmin, teman sebangkuku, membuyarkan pikiran konyolku.

“ah.. tak ada apa-apa, o ya cepat kembalikan origami burungku tadi” ujarku datar sambil berusaha menyembunyikan senyumku.

“ah baiklah jangan menatapku seperti itu” balas Youngmin sambil menaruh origami burung tadi di atas meja kami. Eh? Memang aku menatapnya bagaimana? Biasa saja menurutku -_-

“huh aku heran, bagaimana bisa kau yang pendiam dan berwajah dingin ini bisa disukai banyak yeoja, apa semua yeoja suka namja sepertimu ya? Ah kalau begitu kapan namja sepertiku juga bisa menjadi idola?” oceh Youngmin sambil memajukan bibirnya, ck teman sebangkuku ini sungguh seperti anak kecil.

“ah ya kau memang pintar sih, tapi kan tetap saja kau dingin, bahkan berbicara denganku saja jarang, saat ada yeoja yang mengajakmu berbicara kau malah menghindari mereka, ck.. kau ini… masih normal kan Minwoo-ah?” lanjutnya dan sekarang setelah ia menyelesaikan kalimat terakhirnya yang menurutku sangat konyol itu ia menggeser kursinya menjauh dariku dan aku memukul pelan kepalanya dengan buku karena tingkahnya itu.

“ish.. appo..” ringisnya pelan.

“aku normal Youngmin-ah, apa kau perlu bukti?” tanyaku setelah lama ia terus yang membuka mulutnya

“bukti? Hmm ne kau harus mengenalkan yeojachingumu, ah tapi itu gampang ya, kau bisa saja pura-pura mempunyai yeojachingu, kau bisa meminta bantuan dari para fansmu, huh itu tidak akan menjadi bukti yang kuat. Ah aku ingin sekali menjadi sepertimu, bahkan yeojachinguku saja dulu juga menyukaimu, huh untung saja aku tangguh dan tak kalah tampan jadi bisa menjadi namjachingunya.” jawabnya panjang lebar, astaga ayolah aku tadi hanya berbicara satu kalimat kan? -_-

“kau salah.. aku tak suka dengan diriku sendiri” ujarku lirih, ya kurasa aku butuh seorang teman saat ini.

“mwo? Wae?” balasnya cepat seakan tau kalau aku akan bercerita dan sekarang ia mendekatkan kembali kursinya.

“yah aku tak suka dengan diriku yang entah sejak kapan menjadi seperti yang kau bilang barusan, dingin. Ah mungkin sejak ommaku pergi. Aku juga tak suka dengan diriku yang tak tangguh sepertimu, diriku yang pengecut, bahkan untuk muncul di hadapan seorang yeoja saja tak berani.” Ceritaku yang menurutku ini kalimat terpanjang sejak aku berada di kota ini.

“kalau aku boleh jujur, aku tak mengerti maksudmu itu” balas Youngmin pelan lalu menarik kedua sudut bibirnya lebar-lebar dengan ekspresi seakan tersenyum meminta maaf. Jinjja.. rasanya aku salah sudah bercerita dengannya -_-

“ah tidak-tidak maksudku bukan tak mengerti semuanya” ujarnya cepat saat melihatku menghela nafas “yang aku tak mengerti adalah kau tak berani muncul di hadapan seorang yeoja? Lalu mereka itu apa?” lanjutnya sambil mengendikkan bahunya dan melirik ke segerombolan yeoja di kelas. Astaga.. haha dasar dia ini.

“hey! Kenapa tertawa?” tanyanya dengan ekspresi polos

“maksudku yeoja yang special, yah kau tahulah” ujarku setelah puas menertawakannya dan ia meresponku dengan membulatkan bibirnya.

“ah! Jadi kau sedang menyukai seseorang!” jerit Youngmin tertahan “Omo! Syukurlah kau masih normal!” dan tepat sebelum ia melanjutkan ocehannya aku sudah memukulnya(lagi) dengan buku Matematikaku yang cukup tebal ini.

“kau ini, reaksimu seperti yeoja tahu” cibirku dengan nada sinis

“hehe mian.. habis selama ini kau terlihat seperti antiyeoja, haha” balasnya sambil mengelus-elus kepalanya bekas pendaratan buku Matematikaku tadi.

“jadi siapa yeoja beruntung itu? Ah maksudku yeoja malang itu? Yah kusebut malang karena pasti nanti ia akan menjadi sasaran amukan para fansmu” tambah Youngmin lalu tergelak

“kau tak mengenalnya, aku juga tidak, bahkan tahu namanya saja tidak” jawabku dan dibalas dengan Youngmin yang sekarang ternganga

“jangan bilang kalau kau tak berani muncul di hadapannya itu bukan kiasan” balasnya setelah menutup mulutnya yang sempat terbuka karena terkejut tadi

“mhmm.. begitulah” jawabku dan sekarang buku Matematika tadi gantian mendarat di kepalaku

“babbo! Kau ini namja atau bukan! Sudah sejak kapan kau mengenalnya? Ah maksudku melihatnya?”

“hampir sebulan yang lalu” jawabku dan lagi-lagi ia membuka mulutnya dan bahkan sekarang ia melebarkan matanya yang agak sipit itu dan aku tertawa melihat ekspresinya yang menurutku lucu.

“di saat seperti ini kau bisa tertawa? Ck.. ck.. kau ini sudah menodai kehormatan namja kau tahu?” ujarnya dengan gaya berlebihan dan aku hanya bisa semakin terbahak.

“apa dia anak kelas ini? Ah tidak mungkin, dia anak kelas berapa?”

“molla, aku tak pernah melihatnya berangkat sekolah” jawabku dan dibalas Youngmin dengan alisnya yang sebelah kanan terangkat

“kau menyukai anak kecil yang belum sekolah? Atau seorang ahjumma?”

“tentu saja tidak!”

“hah baiklah aku beri kau nasihat saja ya, dengarkan baik-baik catat ini kalau perlu, pertama kau harus segera mencari tahu tentangnya, mulai dari nama saja, lalu kau cari tahu kesukaannya dan kalau dulu sih aku selalu menghibur Jooyeon dengan lelucon agar ia senang saat bersamaku, mungkin kau bisa meniruku.” Jelasnya dengan mimik wajah serius yang jarang sekali ia tunjukkan.

“tapi…” belum sempat aku melanjutkan kalimatku ia sudah menyelaku “kau harus berani dan bertindak cepat sebelum semuanya terlambat, arasseo?”

“hm baiklah akan kucoba!”

—————————————————–

Keesokan harinya setelah mendengar semua ucapan Youngmin aku sudah memutuskan akan menjadi namja yang berani. Yah sebelum semuanya terlambat dan ada penyesalan. Pagi ini aku tak bersembunyi di tempat biasa, di belokan rumahnya, tapi saat ini aku sudah menunggunya di jalanan depan rumahnya. Tepat saat ia membuka jendela kamarnya aku hanya bisa diam membeku. Ternyata ia terlihat lebih cantik jika dilihat dari depan seperti ini, astaga rasanya ini seperti mimpi dan aku ingin terbang tapi tak bisa karena seakan ada paku besar yang menancap di kakiku hingga aku tak bisa bergerak, tapi paku ini tak membuat kakiku sakit hanya jantungku yang berdetak sangat cepat, ya saat ini ia tersenyum ke arahku, sekali lagi ke arahku! Saat ia melambaikan tangannya aku tersadar, sebaiknya aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini, aku pun membalas lambaian tangan dan senyumannya.

Aku mengangkat kertas besar yang semalam sengaja kusiapkan untuk ini. Yah tak mungkin kan aku berteriak-teriak di depan rumah orang?

Kertas besar ini bertuliskan ‘Siapa namamu?🙂’

Ia melihatnya lalu masuk ke kamarnya dan tak lama kemudian ia membalas dengan cara yang sama sepertiku, menulis sesuatu, tapi bedanya ia menulisnya di atas papan tulis ukuran sedang.

‘Cho Eun Sun, kau?😀’ tulisnya di papan itu sambil mengekspresikan tanda yang ditulisnya secara langsung. Aku pun mengambil kertas lain dari dalam tasku dan melebarkannya agar ia bisa membaca isinya.

‘No Minwoo’ begitu yang tertulis di kertas ini, lalu aku mengeluarkan kertas lain yang bertuliskan ‘mulai sekarang kita berteman ya^^’ dan ia membalasnya dengan anggukan serta senyuman yang membuat rasanya perutku tergelitik ratusan kupu-kupu.

Aku semakin semangat mengeluarkan kertas lain yang ada di dalam tasku ‘bisakah kita mengobrol lebih dekat?’ ia terlihat berpikir keras dan agak lama, kemudian ia menuliskan di papan tulisnya ‘Sabtu sore? Tapi sebentar saja ya’ lalu aku pun mengangguk sambil tersenyum lebar untuk membalasnya. Kemudian ia mengangkat tangan kirinya dan menunjuk jam tangannya, aku pun refleks melihat jam tanganku sendiri, astaga! Sebentar lagi gerbang sekolah ditutup! Kulihat ke arahnya dan ia tertawa kecil lalu melambaikan tangannya sambil menggerakkan mulutnya mengucapkan ‘Sampai jumpa’ aku balas melambaikan tanganku lalu berlari secepat yang aku bisa agar tidak terlambat.

“kau ini tumben datangnya siang sekali” ujar Youngmin setelah aku duduk di sebelahnya dengan nafas memburu.

“hehe.. aku berhasil Youngmin-ah~” balasku senang

“ha? Berhasil apa?” tanyanya bingung, tapi sebelum aku menceritakan lebih lanjut, Park songsaenim sudah memasuki kelas kami dan membuat suasana kelas yang semula ramai menjadi sunyi senyap, bahkan kurasa lebih hening dari kuburan. Dan sekarang Youngmin terlihat tersiksa menahan rasa penasarannya, hahaha.

—————————————————–

Hari Sabtu yang rasanya sangat lama akhirnya datang juga. Aku merasa sangat kacau hari ini, aku bingung harus memakai apa, berpenampilan bagaimana, membawa cokelat atau tidak, atau membawa bunga? Ahaha tapi akhirnya saat sore harinya tiba aku tidak membawa apa-apa selain hal dasar yang semua orang bawa, handphone, yah walau aku yakin benda ini tak akan berdering tanda ada pesan masuk atau yang menelpon bahkan jika aku tunggu sampai ada keajaiban bahwa pohon di depan rumahku bisa berbuah emas.

Yah aku terlalu bingung, aku kan tak tahu ia akan menyukai barang yang kubawa atau tidak. Bagaimana kalau ia alergi cokelat atau bunga?

Saat ini aku duduk berhadapan dengannya di taman yang berada di dalam rumahnya. Seakan aku lupa semua kosa kata bahasa Korea, bagaimana cara berbicara, dan bahkan bagaimana caranya bernafas saja aku hampir lupa.

“silakan diminum” ujarnya memecah keheningan di antara kami. Aku menuruti kata-katanya sambil melihat sekeliling taman ini. Sekarang aku tahu satu hal darinya, ia tak alergi bunga. Mungkin lain kali aku akan memberinya bunga. Dan apakah aku sudah bilang kalau suaranya sangat merdu? Kurasa memang ia malaikat yang terjatuh di bumi hingga sayapnya rontok.

“aku baru pindah ke sini, ya tidak baru juga sih, sudah sebulan yang lalu” ujarku mencari topik pembicaraan

“ah.. pantas saja aku tak pernah melihatmu selama ini, tapi memang aku jarang keluar rumah sih” balasnya dengan eskpresi yang sebenarnya wajar dan biasa saja tapi menurutku sangat menggemaskan. “dari seragammu yang kulihat kemarin kau sekolah di Hanyoung High School?” tanyanya

“ne, aku sudah kelas 11, kau sekolah di mana?”

“aku sekolah di rumah, seharusnya sih kelas 10” balasnya dengan ekspresi datar

“eh? Waeyo?” tanyaku bingung

“mm.. aku sakit”

“jinjjayo? Sakit apa?” tanyaku terkejut, ia tak terlihat sakit, ah ya memang ia agak terlihat lemah tapi tak ada kan orang sakit tapi masih terlihat secantik ini? ._.

“Ataxia” balasnya dingin

“itu penyakit apa?”

“sudahlah lebih baik kau pulang saja, dan kurasa kita tak usah berteman lagi” ujarnya dingin dan hendak beranjak dari duduknya

“eh? Kenapa begitu? Ah baiklah kita lupakan saja. Kau mau dengar lagu yang bagus? Kujamin kau akan tersenyum bahkan ikut bahagia saat mendengar lagu ini” ujarku cepat berusaha agar ia tak pergi dari sini dan tak sadar aku meraih tangannya. Dan bagus, sekarang detak jantungku kembali menggila setelah tadi berusaha mati-matian kutahan. Untungnya ia mau duduk kembali. Aku mengeluarkan handphoneku dan memasang headsetnya lalu kuberikan pada yeoja di depanku untuk memakainya. Setelah ia memakainya aku memencet tombol play dan aku jamin sekarang terputar lagu Happiness yang dinyanyikan Super Junior. Ia sedikit menundukkan kepalanya, kurasa ia sedang menikmati lagu itu, dan ya dugaanku itu benar karena bisa kulihat ia tersenyum dan kurasa sekarang senyumnya itu menular kepadaku. Lama-kelamaan ia semakin menundukkan kepalanya dan astaga… ia terisak, aish.. bagaimana ini.. No Minwoo babbo, kenapa kau membuatnya menangis!

“kau kenapa? Gwaenchana?” tanyaku cemas sambil memiringkan kepalaku untuk melihat wajahnya yang tertutup poninya.

Beberapa saat kemudian ia sudah menegakkan kepalanya dan ternyata benar ia sedang menangis karena sekarang masih ada bekas air mata di pipi dan ujung matanya yang tadi ia paksa menghilang dengan punggung tangannya.

“lagu ini.. kau benar.. sangat bagus.. aku sangat bahagia makanya sampai menangis” ujarnya lalu tersenyum lebar, ah syukurlah..

“memangnya kau tak pernah mendengarnya? Ini lagu Super Junior, kau ini tinggal di Korea atau di mana sih?” ujarku bergurau dan sekarang ia tertawa, dari semua senyumnya aku paling suka saat ia tertawa. Lalu kami terus bercanda dan bermain. Saling bertukar cerita, bernyanyi bersama, bahkan menari bersama, rasanya ini sangat menyenangkan dan aku bisa menjadi diriku yang sebenarnya. Aku rasa jika teman-temanku di sekolah yang baru kukenal sebulan lalu itu melihatku saat bersamanya sekarang mungkin mereka berpikir ini bukan aku. Ya aku juga tak tahu kenapa sikapku bisa sangat berbeda. Mungkin julukan Ice Prince dan sebangsanya itu akan sirna saat mereka melihatku sekarang. Tapi sayangnya waktu tak bersahabat denganku, kenapa saat bersamanya berjalan dengan sangat cepat?

“sudah lama aku tak melakukan hal-hal menyenangkan ini dengan seorang teman, gomawo Minwoo-ssi” ujarnya saat aku pamit akan pulang

“eeii.. panggil aku oppa! Kau ini dari tadi kan sudah kusuruh kau memanggilku oppa! Kau kan lebih muda dariku!” balasku pura-pura galak dan marah

“ah ne ne.. gomawo oppa” katanya lalu menjulurkan sedikit lidahnya

“ya! Ya! Kenapa ekspresimu begitu!” ujarku pura-pura marah lagi dan berusaha menahan tawaku

“lagipula sudah kuberitahu dari tadi kan kau ini tak cocok menjadi seorang oppa” balasnya dengan nada mengejek dan sebelum aku akan berbicara ia sudah berbicara “ah! Kurasa appa dan omma sudah pulang, cepat sana kau juga pulang” ya memang kudengar ada suara mobil yang memasuki rumah ini.

“huh kau ini mengusirku ya?” gerutuku lalu siap-siap pulang tapi tepat saat aku berdiri ada seseorang yang datang.

“Sunnie-ah? Ada temanmu ya?” tanya seseorang itu yang kutebak ia adalah omma dari Eunsun

“eh omma, emm dia ini tetangga baru kita, eh tetangga sebulan yang lalu kita” jawab Eunsun lalu tertawa kecil

“annyeong hasimnika omonim No Minwoo imnida” sapaku sekaligus memperkenalkan diri sambil sedikit menunduk “ah annyeong Minwoo-ah, kau sudah akan pulang ya?” balas omma Eunsun, ah sangat ramah dan kurasa aku tahu dari mana Eunsun mendapat kecantikannya.

“ne” jawabku “aigoo~ iya sih memang sudah malam, tapi sepertinya Eunsun sangat senang ada kau di sini” ujar omonim dengan nada menggoda dan sekarang merangkul Eunsun yang wajahnya terlihat agak memerah.

“kalau begitu besok Minggu aku akan ke sini lagi omonim” balasku dengan tersenyum senang, sangat senang.

“ah tapi setiap hari Minggu ia harus ke dokter” ujar omonim lirih, ah jadi ini alasan kenapa aku tak bisa melihatnya jika hari Minggu.

“baiklah aku akan datang lagi minggu depan” ucapku dengan tersenyum. Lalu aku pun pamit pulang.

—————————————————–

Kalau kau mau berusaha pasti ada jalan. Ya dan aku sudah berusaha dan hasilnya adalah saat ini setiap hari sepulang sekolah aku mampir ke rumahnya. Kami belajar bersama, kau pasti mengira aku berbohong tapi aku serius, walau ia lebih mudah setahun dariku tapi ia sudah bisa mengerjakan soal matematika yang seharusnya ia bisa setahun lagi. Bahkan yang memalukan adalah ia lebih pandai dariku. Huh tapi ini karena ia hanya mempelajari pelajaran yang ia suka dan ia memang sangat suka matematika, kalau aku sih lebih suka biologi. Hari-hariku sekarang seakan sudah menjadi sempurna, dalam versiku tentu saja. Sekarang aku sudah akrab dengan teman-teman sekelas bahkan aku ikut kebiasaan anak-anak yaitu bermain baseball di kelas dan memang sangat mengasyikkan, haha, dan kurasa itu semua berkat Eunsun. Entah kenapa tak pernah ada kata bosan bersama yeoja ini, selalu ada hal-hal seru. Entah itu sekadar berbagi cerita, bermain game bersama, dan membuat berbagai macam bentuk origami.

Tentang origami berbentuk burung itu ia bercerita bahwa sebuah legenda tua berkata, siapapun yang melipat seribu origami burung bangau akan dapat terkabulkan harapannya untuk umur panjang atau kesembuhan. Dan karena ia tak bisa membuat sebanyak itu jadi ia setiap hari membuatnya lalu ia lempar melalui jendelanya karena ia rasa lebih baik burung itu terbang, haha sebenarnya aku tak terlalu mengerti tapi sungguh kurasa itu adalah pikiran terpolos yang pernah aku tahu. Berarti burung itu sudah terbang dong, terbang ke dalam kamarku, hehe, dan kalau itu adalah simbol dirinya berarti ia adalah takdirku, ah dan sungguh kurasa ini adalah pikiran teraneh yang pernah aku tahu.

O ya sebenarnya kami sempat beberapa kali keluar untuk ke taman sekitar rumah tanpa memberitahu omonim dan abonim, saat-saat seperti itu ada sebagian kecil hal-hal seru yang kami lakukan karena ada perasaan takut ketahuan dan itu sangat seru, haha. Saat ini bukan hanya senyumnya yang menjadi canduku, tapi semuanya, tatapan matanya, suaranya, bahkan derap langkahnya sekalipun. Tapi rasanya aku mempunyai firasat buruk tentang ini semua, ini karena di suatu sore saat kami ke taman tiba-tiba ia merasa lemas dan tak sanggup berjalan dan akhirnya aku menggendongnya pulang. Sejak saat itu aku tak mau lagi pergi keluar tapi sayangnya aku kalah oleh tatapan matanya yang seakan bisa menghipnotisku. Dan aku merutuki sikapku yang menuruti permintaannya itu, karena tiba-tiba ia pingsan. Sungguh aku benci saat-saat seperti ini. Bukan saat menggendongnya tapi saat melihatnya terlihat kesakitan dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Beberapa hari setelah kejadian ini ia tak mau bertemu denganku. Awalnya kukira omonim dan abonim yang marah dan melarangku bertemu dengannya tapi melihat senyum tulus mereka sambil mengatakan agar aku pulang saja karena Eunsun tak mau bertemu denganku aku jadi yakin kalau memang ia tak mau bertemu denganku. Sudah beberapa kali aku mencoba bertemu dengannya tapi selalu gagal. Tapi pertanyaanku adalah kenapa? Apa yang sudah aku perbuat? Apa ia marah karena ia rasa aku yang menyebabkan ini semua terjadi? Ya mungkin ia benar, ini semua memang salahku, seharusnya waktu itu aku tak menuruti permintannya, ah aku ini sangat babbo!

Dan karena ini semua aku baru ingat kalau ia sakit. Ya Ataxia, selama ini aku bahkan lupa karena sifatnya saat bersamaku sama sekali tak menunjukkan kalau ia sakit, ia selalu ceria

dan bersemangat. Ataxia adalah penyakit yang menyebabkan syaraf-syaraf motoriknya perlahan akan rusak dan kabar buruknya adalah sampai sekarang belum ditemukan cara untuk menyembuhkannya. Tapi aku yakin ia akan sembuh, ia adalah yeoja yang kuat! Bahkan sangat kuat daripada yang orang lain bayangkan! Dan kalau memang belum ada yang bisa menyembuhkan penyakit ini aku yang akan cari tahu bagaimana cara menyembuhkannya! Ya tentu saja saat sudah besar kelak dan pasti Eunsun akan menungguku sampai aku menemukan obatnya, pasti.

Setiap pagi ia tak lagi ‘menerbangkan’ origami kertasnya tapi masih dapat kulihat siluet tubuhnya yang berada di balik jendela. Ah mungkin karena ia sudah ‘menerbangkan’ banyak origami burung makanya ia tak melakukan itu lagi, ya mungkin karena itu, atau mungkin sekarang ia butuh lebih banyak istirahat. Ia pasti masih ingin berteman denganku, buktinya aku masih bisa melihat siluet tubuhnya itu dan ia pasti melihatku untuk melewati rumahnya, ya pasti!

Sudah sangat lama aku tak melihatnya dan untungnya tak terlalu terasa lebih lama karena aku fokus mengerjakan ujian akhir semester. Tapi sekarang aku rasa ada sesuatu yang kosong di dadaku, entah apa yang hilang. Dan walau sebelum tidur pikiranku selalu melayang ke yeoja itu, Cho Eun Sun, tapi kali ini aku rasa sangat ingin bertemu dengannya. Ya, besok aku akan ke rumahnya dan harus bertemu, harus.

Pagi ini aku ke rumahnya dan nampak serba tertutup. Saat kupencet bel rumahnya ternyata Kwon ahjumma yang membukakan pagar rumahnya. Untuk saat ini aku benci Kwon ahjumma! Ia berbicara hal yang sangat aneh! Hah dia pasti sedang bercanda! Ia seharusnya tak mengatakan hal seperti ini! Ia pasti hanya bercanda! Pasti! Mana mungkin… mana mungkin sekarang Eunsun berada di rumah sakit!! Dan itu sudah dari dua minggu yang lalu! Kenapa tak ada yang memberi tahuku kalau ini memang benar!

Nafasku tersengal-sengal setelah tadi kusetir mobilku dengan sangat ngebut lalu berlari-lari dan sekarang aku sudah berada di rumah sakit yang berada cukup jauh dari rumahnya. Babbo! Kau kan tadi bisa bertanya di mana kamarnya! Bukannya berlarian untuk mencari satu persatu kamarnya, rumah sakit ini kan mempunyai ratusan kamar! Ah jinjja sepertinya otakku tak bisa bekerja dengan normal lagi saat ini! Setelah bertanya pada seorang suster yang berada di ujung koridor entah ini takdir atau memang ia sangat terkenal di rumah sakit ini, suster itu tahu di mana kamarnya dan aku pun segera berlari menaiki anak tangga yang ada di dekatku dan saat berada di tengah perjalanan aku baru sadar kalau di sini juga ada lift. Bukankah sudah aku bilang kalau otakku tak bisa bekerja normal saat ini? Bahkan mungkin saja aku akan menangis menjerit-jerit karena bayangan buruk di pikiranku ini, tapi untungnya syaraf-syaraf di otakku masih bisa diajak bekerja sama, walau tak semuanya. Saat ini aku sangat takut, aku takut merasa kehilangan, lagi.

Saat kubuka pintu ini semua orang yang ada di ruangan ini tersentak kaget karena mungkin aku membukanya dengan kasar dan cepat. Aku melihatnya dan sekarang hatiku serasa disayat ratusan pisau yang sangat tajam. Ada berbagai macam alat yang menempel di tubuhnya yang sedang terlelap dan ia terlihat sangat lemah, lelah, dan kesakitan. Sungguh,

aku benar-benar bersungguh-sungguh jika Tuhan ingin menukar posisiku dengan posisinya saat ini aku akan sangat senang. Akan sedikit orang yang sedih, atau bahkan tidak ada. Aku juga ikut merasakan kesedihan omonim yang sekarang menangis dengan suara tertahan dan memelukku erat. Dan juga wajah lelah abonim yang tersirat ia menahan kesedihannya. Aku sangat tak tahan melihat ini semua. Bermacam-macam emosi memenuhiku saat ini dan hasilnya adalah aku hanya bisa diam terpaku dengan tenggorokan tercekat, tatapan kosong, dan mata yang memanas.

Omonim mengajakku keluar dan aku hanya bisa mengikuti langkahnya. Aku hanya bisa mengepalkan kedua tanganku dengan segala emosi yang mengalir saat mendengar ucapan omonim bahwa saat ini Eunsun sudah tak bisa berjalan, syaraf-syaraf motorik di kakinya sudah tak berfungsi dan tak lama lagi ia akan… akan… yah akan menjadi malaikat yang sebenarnya. Ah sebaiknya aku masuk ke kamarnya, mungkin sebentar lagi ia akan sadar dari pengaruh bius setelah operasi, ya omonim bilang ia baru saja menjalani operasi tahap terakhirnya.

Saat terbangun ia terlihat terkejut melihatku berada di sisinya. Saat ini hanya ada kami berdua di sini. Kulihat matanya sedikit berair tapi ia memalingkan mukanya tapi rasanya saat ini mataku yang akan berair karena kulihat ia begitu sulit untuk bahkan sekedar melakukan hal kecil itu. Aku menggenggam tangannya untuk mengatakan bahwa aku akan selalu berada di sisinya dan menyalurkan kekuatanku.

“kau ini, kenapa tak memberi tahuku kalau kau berada di sini hah? Kau mau kujitak ya?” ujarku dengan suara agak tercekat, ia hanya membalas dengan senyuman kecil. “apakah origami burungmu sudah ada seribu buah? Di rumah aku juga membuatnya sendiri, ah jadi pasti sekarang sudah ada seribu lebih, itu artinya sebentar lagi kau pasti sembuh” tambahku lagi dan seperti sebelumnya, ia hanya membalas dengan senyuman.

“besok aku akan membawa semua origami burungnya, baik yang ada di kamarku maupun di kamarmu, aku akan meminta tolong Kwon ahjumma. Dan saat semuanya sudah terkumpul kita akan membuat permohonan bersama-sama, otte?” aku terus berbicara walau ia hanya tersenyum tapi sekarang ia tersenyum sambil sedikit mengangguk. Kenapa dari tadi ia hanya tersenyum? Apakah ia sudah tak bisa mengeluarkan suara merdunya itu? Astaga rasanya seperti ada yang meremas jantungku saat ini. Aku memalingkan wajahku darinya dan menghapus sedikit air mata yang ada di sudut mataku.

“ah! Kau mau mendengarkan lagu? Kau sangat menyukai lagu ini kan..” kataku lalu mengeluarkan handphone dan memasangkan headset ke telinga Eunsun, tapi ia menahan saat aku akan memasangkan ke telinga sebelah kirinya lalu ia memberi isyarat agar aku yang memakainya. Dan sekarang lagu Happiness mengalun di telingaku dan telinganya.

hanbondo nan norul ichubon jogopso

I never once forgot you

ojik kudae-manul saenggakhan-neun-gol I thought of only you

kuron nonun mwoya nal ijutdon-goya Then what about you, did you forget me

chigum nae-nuneson nunmulhallo pae-shin-gam

My tears fall from my eyes, I feel betrayed

Aku berusaha sekuat tenaga menahan air mataku yang terus mendesak untuk keluar. Seharusnya bukan lagu ini yang kuputar, seharusnya lagu yang lebih ceria.

nol chajagalkka saeng-gakhae-sso I thought of finding you

nan nan chalmorugesso I, I don’t really know

i sesange tulgo-innun chigum In my eyes, you are the only one in the world

nan nobakke optji I don’t have anything to say

hal mari opso hal sudo opso

I can’t go

nunmuldo opso nukkimdo opso I don’t have tears

ne apeso-innun nal parabwa

Look at me in front of you

nol wi-hae sarainnun nal

Me, who lives for you alone

Dan saat lagu ini terputar aku pun sadar aku sudah jatuh padanya, ya aku rasa aku mencintainya. Aku tak tahu apa alasan yang pasti apa yang menyebabkanku bisa jatuh padanya, perasaan ini datang dengan sendirinya dan kurasa tak memerlukan alasan. Aku juga tak tahu sejak kapan, mungkin sejak melihat senyumnya. Tapi aku yakin ini bukan hanya ketertarikan fisik semata, ada hal lain di dalam dirinya yang membuatku seperti ini. Ia memang cantik, tapi banyak yeoja yang lebih cantik yang pernah kukenal, tapi tak ada yang bisa selalu menempel di pikiranku selain dia. Aku tak suka melihatnya saat ini, saat ini ia menangis dan itu membuatku sangat sakit, seperti ada yang meremas sekaligus menusukkan pisau ke jantungku. Tapi mungkin lebih baik ia menangis untuk mengeluarkan segala emosinya, aku ingin, ingin sekali terlihat kuat tapi sayangnya aku terlalu lemah, sekarang kami berdua menangis bersama, tanpa suara apapun seakan hati kami saling terhubung dan mengetahui perasaan masing-masing. Aku memang takut kehilangannya, tapi kurasa ia lebih takut menghadapi ini semua, apalagi di usia yang masih muda. Aku memang sakit melihatnya seperti ini, tapi kurasa ia lebih sakit merasakan benda-benda asing sialan ini menempel di tubuhnya, belum lagi rasa sakit dari dalam ‘berkat’ penyakitnya itu. Aku memang merasa sangat sedih bila suatu hari nanti ia benar-benar sudah menjadi malaikat yang sebenarnya, tapi kurasa omonim dan abonim yang merasa paling sedih. Aku harus kuat, kalau aku tidak kuat lalu siapa yang akan memberinya kekuatan? Aku menghapus air mataku dengan kasar lalu semakin mengeratkan genggaman tanganku ke tangannya yang lemah ini. Setelah menghela nafas aku berpamitan pulang, aku akan kembali secepatnya setelah mengambil origami burung dan beberapa pakaianku. Ya aku rasa aku akan menemaninya di rumah sakit ini, omonim dan abonim pasti sangat lelah dan butuh istirahat.

Malamnya aku sudah kembali ke ruangan ini.

“hai..” sapaku pelan dan lagi-lagi ia hanya tersenyum.

“ah ini origami burungnya, banyak sekali kan.. pasti sudah ada seribu buah malah menurutku lebih. Eh tapi kalau lebih dari seribu buah apakah permohonannya akan tetap terkabulkan?” tanyaku padanya yang sekarang duduk bersandar di atas kasur, ia menjawab pertanyaanku dengan mengendikkan bahunya yang berarti ia tak tahu.

“baiklah kita coba saja” ujarku lalu menaruh tas dari kain yang penuh sesak origami burung ini di atas kursi lalu kami menaruh tangan di atas tumpukan ini, memejamkan mata, dan mengucapkan permohonan. Aku hanya memohon satu, ia mempunyai umur yang lebih panjang. Bila aku memohon agar ia sembuh kurasa yah… aku sudah mencari-cari di internet

ataupun bertanya ke dokter tapi memang saat ini belum ada cara menyembuhkannya. Kalau umurnya lebih panjang ia bisa menungguku untuk menemukan cara menyembuhkannya. Malam ini sangat sunyi, kurasa ia sangat lelah, akhirnya ia tidur dan aku hanya bisa mengamati wajahnya yang pucat tapi tetap terlihat gurat kecantikannya. Sebenarnya aku tak ingin tidur, bagaimana jika saat aku tidur ia akan pergi dariku? Tapi aku juga merasa sangat lelah hingga ternyata aku sudah tertidur dengan posisi kepalaku terbaring di kasurnya dan tanganku masih menggenggam tangannya erat.

Saat aku terbangun ternyata ia sudah bangun dan saat aku menatapnya terlihat semburat merah di pipinya, haha sangat lucu. Dan entah perasaanku saja atau ini berkat cahaya matahari, ia terlihat lebih segar daripada kemarin, ah apakah itu berkat diriku? Haha bisa saja kan memang semalam kekuatanku mengalir melalu tangan kami, haha ini sangat konyol. Beberapa saat kemudian ada yang mengetuk pintu kamar ini dan ternyata suster yang membawakan makanan untuknya. Saat suster itu akan menyuapinya aku meminta agar aku saja yang menyuapinya, yah aku hanya ingin saja ._. suster itu menatap kami bergantian lalu tersenyum jahil(?). Sebenarnya ia tak mau tapi suster itu cepat pergi dan akhirnya sekarang akulah yang menyuapinya. Walau sedang sakit tapi ia tetap makan sampai habis, hmm dia ini benar-benar ingin sembuh.

“Minwoo-ssi..” sepertinya aku sedang bermimpi atau salah dengar “Minwoo oppa”

Apakah aku salah dengar LAGI?

“kau.. memanggilku?!” tanyaku dengan eskpresi yang kurasa sekarang terlihat sangat aneh

“hmm” gumamnya pelan lalu mengerucutkan bibirnya terlihat kesal dan… menggemaskan

“kau bisa bicara? Kukira….” ujarku tertahan

“haha.. kemarin aku sedang lelah dan tak ingin bicara” ujarnya lalu tersenyum jahil

“mwoya? Kau ini.. hah tetap saja suka iseng! Aku sudah khawatir setengah mati tahu!” ujarku lalu memukul kecil kepalanya dan ia tertawa senang -_-

“omma dan appa akan ke sini kapan?” tanyanya

“nanti malam, waeyo? ah kau merindukan mereka? Aku akan menelpon mereka ke sini sekarang.” Jawabku tapi dengan cepat ia menggelengkan kepalanya “andwae..”

Dan kurasa sekarang aku sudah gila dan besok ah atau mungkin nanti malam akan dicincang oleh abonim. Kau tahu sekarang aku di mana? Aku berada di dalam mobil dengan Eunsun, ya dengan yeoja yang tadinya berada di rumah sakit itu! Ia memaksaku dengan segala jurusnya dan kurasa aku ini manusia yang sangat bodoh, aku tak tahan bila sudah

melihat puppy eyes-nya. Ia memaksaku untuk mengantarnya ke bukit yang dulu pernah kami kunjungi bersama. Di sana kami menanam bermacam-macam bunga, ia bilang ia ingin melihatnya karena pasti bunga itu sudah tumbuh dan bermekaran. Aku tak terlalu menyesali perbuatan yang mungkin sangat berbahaya ini karena sekarang aku sangat senang melihatnya terus tersenyum senang selama perjalanan, sekarang ia menjadi yeoja yang semangat dan ceria lagi. Kami sempat berhenti di suatu studio foto kecil untuk berfoto bersama, dan konyolnya kami memilih memakai kostum bebek. Sayang sekali tidak ada yang burung atau bangau. Setelah menempuh perjalanan selama hampir dua jam akhirnya kami sampai di ujung jalan menuju puncak bukit. Sayangnya jalan ini tak bisa dilalui kendaraan dan harus berjalan menanjak. Ya harus berjalan, dan sekarang aku menggendongnya di punggungku. Tapi sama sekali tak terasa berat, entah ia yang semakin kurus atau hal lain, tapi kulihat tak ada yang berubah darinya selain wajahnya yang semakin pucat.

“Minwoo-ssi..” ujarnya pelan tepat di samping telingaku

“oppa” ralatku cepat dan ia mendengus kecil

“ah Minwoo oppa” ucapnya lagi, kali ini dengan penekanan pada kata ‘oppa’ dan aku tertawa kecil mendengarnya “apa aku tak berat?” lanjutnya

“sama sekali tidak” jawabku santai dan jujur “ah lain kali kita jalan-jalan lagi seperti ini ya, sepertinya kau sangat senang” tambahku

“lain kali..” gumamnya lirih

“ya lain kali!” ujarku dengan nada tegas

“tapi bagaimana jika aku menjadi gemuk dan kau tak kuat menggendongku lagi?”

“hmm bagaimana ya.. ah aku juga akan menjadi gemuk agar kuat menggendongmu” jawabku lalu ia tertawa kecil

“tapi kalau kita berdua gemuk kita tak bisa berjalan seperti ini” ujarnya lalu tergelak

“kalau begitu kita menggelinding bersama saja!” seruku dan ia terbahak, aku pun ikut terbahak.

Beberapa langkah di perjalanan ini, kami tenggelam dalam keheningan dan tiba-tiba ia memecah keheningan ini.

“oppa, apa kau akan melupakanku?” tanyanya membuatku terhenyak dan menghentikan langkahku

“kau ini, tentu saja tidak!” ujarku lalu melanjutkan lagi langkahku

“jinjja?”

“walau aku ingin melupakanmu tapi pasti tidak akan pernah bisa” kataku lirih “ah bagaimana bisa aku melupakan yeoja yang suka iseng sepertimu ini!” tambahku dengan nada suara yang berbeda untuk mengubah suasana yang tadi terasa kelam.

“haha, tapi memang aku ini orang susah dilupakan oppa..” ujarnya bercanda “ah tapi kurasa lebih baik kau melupakanku” lanjutnya dengan suara yang terdengar sengau

“kau ini! Bagaimana bisa aku melupakanmu kalau kau akan terus berada di sampingku!” ujarku dengan nada tegas dan ini terdengar memaksa. Kurasa ada sesuatu yang membasahi bahuku. Tidak, aku tak ingin melihat wajahnya sekarang. Aku menunduk dan terdiam sejenak untuk menguasai emosiku agar tak keluar sekarang. “ah.. ini masih agak jauh, kurasa aku berjalan terlalu lambat, baiklah.. pegangan yang erat ya agasshi aku akan ngebut!” ujarku lalu setelah ia mengeratkan pegangan tangannya aku berlari dengan cepat. Mau kuberitahu sesuatu? Berlari bisa menghilangkan rasa sedihmu.

Akhirnya kami sampai di puncak bukit dan ternyata memang bunga-bunga yang dulu kami tanam sudah bermekaran dan terlihat sangat indah. Ia tak berhenti tersenyum. Setelah kami mengelilingi tempat yang sudah seperti taman bunga kecil ini kami beristirahat dengan duduk bersandar di bawah pohon besar.

“oppa aku punya sesuatu untukmu” ujarnya sambil menoleh ke arahku

“mwo?” tanyaku, lalu ia mengambil sesuatu dari saku sweaternya “origami burung? Untuk apa?”

“itu bangau oppa, bukan burung..” haha selalu seperti ini, dari dulu kami juga sering berdebat tentang ini burung atau bangau.

“baiklah origami burung bangau ini? Untuk apa?” tanyaku ulang dan ia tertawa kecil

“em kau boleh membukanya nanti” jawabnya dan kurespon dengan alis sebelah kananku terangkat, ini kan bukan kotak yang berisi kado, membuka bagaimana? Belum sempat aku bertanya tiba-tiba ia menyandarkan kepalanya di atas bahuku dan itu membuat syaraf otakku jadi kacau berantakan, “aku lelah, ingin tidur sebentar” ujarnya sambil menutup matanya. Ah baiklah aku akan bertanya nanti ketika ia bangun. Aku ingin sekali mengatakan satu kata ini, walau sebenarnya aku ingin mengatakannya dengan cara yang special tapi entah kenapa ada yang mendorongku untuk mengatakannya sekarang. Dengan segala keberanianku aku pun mengucapkan satu kata ini “saranghae” ujarku dan kurasa ia

mendengarnya karena ia tersenyum, tapi kenapa ia tak membalasku? Apa ia tak menyukaiku? Hmm mungkin ia sangat lelah.

Sudah dua jam ia tidur dan ini sudah sore, akan jadi masalah jika kami tak ada di rumah sakit sebelum omonim dan abonim datang. Aku terpaksa membangunkannya, tapi ada yang aneh. Tubuhnya terasa kaku, ia tak menjawabku, ia tak segera bangun. Keringat dingin muncul dari dahiku dan tanganku serta rasanya jantungku sedang berpacu dengan sangat cepat. Aku menaruh jari telunjukku di bawah hidungnya, syukurlah.. masih ada helaan nafas, tapi sangat lambat dan pelan! Astaga aku harus segera membawanya ke rumah sakit sekarang!!

——————————-

Saat ini aku sudah berada di suatu tempat, rasanya ini seperti mimpi dan aku harap ini hanya mimpi!! Tolong siapapun beritahu aku bahwa ini hanya mimpi dan ketika terbangun aku sudah bisa melihatnya lagi. Semuanya terasa begitu cepat, dalam satu hari semuanya bisa saja terjadi. Saat ini aku tak mau berpura-pura kuat lagi, aku tak bisa menahan semua emosiku lagi. Walau aku sudah mengepalkan tanganku erat sampai ujung kuku-kukuku menancap dengan kuat bahkan menggigit bibirku sampai berdarah, air mata ini tak bisa berhenti mengalir. Ini semua adalah luapan kesedihanku selama ini. Aku merasakan hal ini lagi, kehilangan. Aku sangat benci perasaan seperti ini. Astaga rasanya aku bisa gila sekarang, apakah aku harus menyusulnya? Lagipula tak ada gunanya lagi aku hidup. Aku seperti orang gila, menangis sendirian di depan tempat peristirahatan terakhirnya. Tapi tiba-tiba kurasakan ada yang merangkul bahuku. Aroma tubuh ini, sudah lama aku tak menciumnya, tapi tak mungkin dia ada di sini.

“sudahlah Minwoo-ah” ah itu suaranya dan sekarang ia menepuk-nepuk bahuku untuk menenangkan tapi itu malah membuatku makin menangis. Ini pasti hanya ilusiku. Seharusnya ia sedang berada entah di mana untuk urusan bisnisnya yang sangat penting, yang bahkan tak bisa ditinggalkan bahkan di saat-saat terakhir omma. Orang ini memelukku dan sekarang aku yakin ini bukan ilusi dan rasanya kejadian setahun lalu terulang kembali, sama persis seperti ini. Air mataku makin deras mengalir mengingat itu semua.

“ia pasti sedih melihatmu seperti ini, kau harus kuat” ujar orang itu, appaku. Setelah menenangkanku dengan kalimat-kalimat yang sama seperti setahun lalu akhirnya aku mau pulang ke rumah. Ya, aku harus melanjutkan hidupku, aku akan menemukan cara melawan penyakit itu, walau bukan ia yang kusembuhkan setidaknya tak ada lagi orang lain yang akan menderita sepertinya dan orang-orang yang merasa kehilangannya.

Aku teringat origami burung bangau yang ia berikan padaku kemarin, aku membukanya, membuka lipatannya dan ternyata ini adalah sebuah surat. Air mataku mengalir lagi membaca kata demi kata yang ia tulis dengan sangat rapi. Ternyata ia juga mencintaiku. Entah aku harus menangis bahagia atau sedih yang jelas saat ini aku tak bisa berhenti terisak. Babbo, sampai kapanpun aku tak akan mengabulkan permintaanmu yang memintaku untuk melupakanmu! Hanya mimpi kau bilang? Kau ini nyata! Payah! Bagaimana

kau tahu kalau aku sedang menangis?! Tapi kau juga menangis kan waktu menulis ini, huh kau ini berani memberiku surat dengan bekas tetesan air mata seperti ini ya! Ya baiklah aku akan berhenti menangis dan melanjutkan hidupku ya hidupku pasti akan berjalan seperti biasa, tak ada yang berubah tapi pasti terasa berbeda. Gomawo sudah memberikanku kenangan yang indah walau singkat tapi sangat berarti dan selalu membekas di ingatanku. Gomawo sudah mengajariku banyak hal, tentang usaha, kerja keras, pengorbanan, pantang menyerah, ketulusan, persahabatan, cinta, dan matematika, haha.

THE END

Ini ff oneshot keduaku hehe /gada yang nanya ya -.- udah pernah aku post di blogku.

Mungkin ini ceritanya emang pasaran ya -.- dan aku ngrasa castsnya kurang cocok he he -.-

O ya btw ini kan No Minwoo POV kalo banyak yang mau baca Cho Eun Sun POVnya ntar aku buatin deh, kalo gada juga gpp ga maksa kok *eh?-.-

Komennya ditunggu ya readers~ :*